Showing posts with label Tazkiyah An-Nafs. Show all posts
Showing posts with label Tazkiyah An-Nafs. Show all posts

Friday, June 25, 2010

Sudah Terbebaskah Kita dari Riya?

Klip singkat ini semoga dapat menjadi bahan perenungan. Bagi anda yang tidak paham, tersedia transkrip di bagian bawah.



Anak 1 : Muhammad apa kamu pernah memperhatikan anak itu ketika sedang shalat?

(perhatikan ekspresi si anak ke 3 yang langsung berubah ketika mendengar dirinya menjadi bahan pembicaraan)

Anak 2 : Ya, masya Allah. Dia selalu shalat di dalam masjid

Anak 1 : Dan shalatnya sangat paaaaaaanjaaaang

Anak 2 : Ya saya tahu. Sepertinya dia tidak pernah lelah berdzikir kepada Allah

(Si anak ke 3 mulai tersenyum)

Anak 1 : Ya, Subhanallah! Suatu ketika dia shalat, dan dia sujud saaangat lama. Saya kira dia sudah meninggal. Saya hampir memanggil ambulans.

( Senyum si anak ke 3 semakin sumringah)

Anak 2 : Masya Allah, saya berharap bisa seperti dia

(Tiba-tiba si anak yang sedang shalat berbalik dan sambil tersenyum lebar dia berkata):

Anak 3 : Ngomong-ngomong, saya juga sedang puasa loooh.


 Entah bagaimana dengan anda, tetapi saya benar-benar tertawa menonton klip di atas. Tertawa.. sekaligus miris dan bertanya dalam hati ‘Sudahkah saya benar-benar terbebas dari riya?’ Saya tidak berani mengatakan “Tidak!” secara tegas, karena dalam hati, dalam pikiran, selalu saja ada lintasan-lintasan yang....

Maaf, bukan tempatnya untuk curhat sekarang. Semoga Allah membimbing kita, memberi hidayah dan memberikan pertolongan kepada kita untuk senantiasa meluruskan niat ikhlas, menujukan seluruh ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Amin

Dan cukuplah hadits yang dinukil di akhir klip di atas menjadi pegangan kita untuk selalu wasdpada dari riya.
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ كَثِيرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ رُبَيْحِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar dari Katsir bin Zaid dari Rubaih bin Abdurrahman bi Abu Sa'id Al Khudri dari Ayahnya dari Abu Sa'id dia berkata,

 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah keluar bersama kami, sementara kami saling mengingatkan tentang Al Masih Ad Dajjal, maka beliau bersabda: "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan terhadap diri kalian daripada Al Masih Ad Dajjal?" Abu Sa'id berkata, "Kami menjawab, "Tentu. "Beliau bersabda:
"Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang mengerjakan shalat dan membaguskan shalatnya dengan harapan agar ada seseorang yang memperhatikannya." (HR Ahmad 3/30 no 11270 dan Ibnu Majah no 4204 dan dihasankan oleh Syaikh Albani)
(Tulisan yang sangat bermanfaat dalam topik ini oleh Ustadz Firanda bisa anda download di raudhatulmuhibbin.org dengan judul Antara Ujub dan Riya

Wednesday, March 17, 2010

Menangis Karena Takut kepada Allah


Oleh: Syaikh Husain al-Awaisyah


Allah Ta’ala berfirman:


اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَاباً مُّتَشَابِهاً مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (Qs Az-Zumar [39] : 23)

إِنَّ الَّذِينَ أُوتُواْ الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ سُجَّداً وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِن كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولاً وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعاً

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'.” (QS Al-Israa [17] : 107-109)

Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia ber-kata: “Aku mendengar Rasulullah shalllallahu aliahi wassallam bersabda:

“Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan shalat jamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya.” (HR Bukhari Muslim, dan lainnya).

"Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sehingga susu itu dapat kembali ke tempat asalnya. Tidak akan berkumpul debu fisabilillah itu dengan asap neraka Jahanam." (diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, oleh At-Tirmidzin (hasan shahih), an-Nasa’i dan al-Hakim (shahih).

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

طوبى لمن ملك لسانه ، ووسعه بيته ، وبكى على خطيئته

”Tuba - sebuah pohon di Surga yang besarnya sepanjang perjalanan seratus tahun, dan pakaian penduduk Surga keluar dari kulit-kulitnya, Diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya- adalah bagi orang yang mengendalikan lisannya, rumahnya cukup baginya, dan yang menangisi kesalahan-kesalahannya.” (Diriwayatkan dari Tsauban radhiallahu anhu oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath was-Saghir, dengan sanad hasan).

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu anhu ia bertanya:

”Aku berkata, Ya Rasulullah! Apakah keselamtan itu?” Beliau menjawab: ”Mengendalikan lisanmu, merasa nyaman dengan rumahmu dan menangisi kesalahan-kesalahanmu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu al-Mubarak dalam Az-Zuhd, Ahmad, at-Tirmdizi, dan lain-lain, hadits shahih).

Sumber: Al-Bukaa min Khasyiatillah (Weeping from the Fear of Allah)

Monday, July 06, 2009

Kenikmatan yang Menipu

Oleh: Ibnu Al-Jauzy

Barangsiapa yang berpikir dalam-dalam dan seksama tentang akhir kehidupan dunia, ia akan senantiasa waspada. Barangsiapa yang yakin akan betapa panjangnya jalan yang akan ditempuh, maka ia akan menyiapkan bekal sebaik-baiknya. Alangkah anehnya manusia yang yakin akan sesuatu, namun ia melupakannya dan betapa anehnya mereka yang mengetahui bahaya sesuatu, namun ia juga menutup mata! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ

” Kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.”

(QS Al-Ahzab [33] : 37)

Anda tahu bahwa anda dikalahkan oleh hawa nafsu anda, dan anda tahu bahwa anda tak sanggup menaklukkannya. Alangkah anehnya jika anda merasa gembira dengan ketertipua anda dan larut dalam kealpaan terhadap hal yang tersembunyi di dalam diri anda. Anda terperdaya oleh kesehatan anda, namun anda lupa betapa dekat pnyakit dengan diri anda.

Telah anda saksikan dengan mata kepala anda sendiri tempat pembaringan akhir anda dan telah ditampakkan kehadapan anda ranjang-ranjang kematian oleh orang-orang yang ada di sekitar anda. Sungguh anda telah tenggelam dan hanyut dalam kelezatan-kelezatan duniawi, hingga anda melupakan kehancuran diri anda sendiri.

Engkau laksana tiada mendengar kabar mereka yang telah lalu

Tidak pula engkau melihat waktu memperlakukan teman-temanmu

Jika engkau tak sadar bahwa itulah rumah-rumah mereka yang abadi

Kubur-kubur mereka lenyap diterpa angin yang menderu

Betapa banyaknya, anda melihat, para penghuni yang tak pernah memasuki rumahnya sendiri, sebelum mereka dipaksa memasukinya! Betapa banyak pemili singgasana yang terusir oleh musuh-musuh yang kemudian menguasai istananya.

Wahai siapa saja yang detik-detik kehidupannya terus melaju, betapa anehnya mereka, seperti manusia yang tak tahu dan tak mengerti apa-apa.

Bagaimana bisa matanya lelap terpejam

Padahal ia tak tahu kemana akan kembali

Sumber: Shaidul Khatir (edisi Indonesia) oleh Imam Ibnu Al-Jauzy

Technorati Tags: ,,,

Friday, March 20, 2009

Bagaimana Memperbaiki Hati

  • Judul : How To Rectify the Heart
  • Penulis: Syaikh Abu Islam bin Thaha Abdul Wahid
  • Artikel oleh: A Learning Page

Saudara saudariku, dapatkah kita melihat betapa pentingnya hati kita? Seseorang harus menempatkan hatinya tepat di depan matanya, dan memperbaikinya siang dan malam. Wahai Muslim, bagaimana memperbaiki hati? Bagaimana masing-masing kita memperbaiki hati? Memperbaiki hati dapat dilakukan degan beberapa cara.

Pertama kembali kepada Allah memohon bantuan dan pertolongan.

Hanya dari Allah saja semua pertolongan dan bantuan berasal. Kita harus memohon kepada-Nya melalui doa, yang sayangnya, banyak diantara kita yang mengabaikannya.

Allah berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS Al-Mu’min [40] : 60)

Allah juga berfirman:

وَاسْأَلُواْ اللّهَ مِن فَضْلِهِ

“Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.” (QS An-Nisa [4] : 32)

Saya jamin jika anda menemui teman anda dan dia berkata kepadamu, mintalah apa saja kepadaku dan akan kuberikan. Dia akan terus menawarkan seperti itu hingga engkau menerimanya.

Hingga suatu waktu hal ini mulai menjadi beban sampai akhirnya dia berhenti mengabulkan permintaanmu.

Dengan Allah, Pemilik semua yang berada di langit dan di bumi, keadaannya tidaklah demikian. Dia berkata ‘berdoalah kepada-Ku’, mintalah dari apa-apa dari karunia-Ku’ Aku akan mengabulkannya bagimu, dan ini tidak terbatas.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda mengenai doa:

الدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ

“Do’a bermanfaat apa yang diturunkan dan apa yang tidak diturunkan.”[1]

Orang-orang yang tidak berbicara dengan nafsunya, tidakkah mereka mengakui bahwa doa memberikan pertolongan?

Karena alasan ini kita harus banyak berdoa. Jika anda menginginkan seorang isteri maka mintalah kepada Allah. Jika engkau miskin mintalah kekayaan. Jika engkau sakit, mohonlah kepada Allah agar menyembukannmu. Terdapat banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan tentang para Nabi Allah berdoa kepada-Nya dan Dia mengabulkannya. Sebagai contoh Nabi Ayub  yang menderita penyakit berdoa kepada Allah, lalu Dia mengabulkannya.

Zakaria  tidak mampu memiliki anak, (beliau) berdoa kepada Allah dan Allah mengabulkan doanya. Yunus , yang berada di dalam perut ikan Paus berdoa kepada Allah dan Dia mengabulkannya.

Setiap Muslim harus berdoa secara teratur dan lebih khusus lagi dari hatinya. Orang-orang beriman berdoa kepada Allah, sebagaimana yang Dia ajarkan di dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

“(Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)". (QS Al-Imran [3] : 8)

Kita harus terus menerus meminta kepada Allah agar Dia melindungi hati kita dari kesesatan. Berapa banyak kaum Muslimin hari ini yang menghafal ayat ini? Kita harus menyadari kenyataan bahwa hati Bani Adam berada diantara jari jemari Allah dan Dia membolak-balikkannya sebagaimana yang diinginkan-Nya.

Karena alasan inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seringkali berdoa:

يَامُصَرِّفَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى طَاعَتِكَ

“Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas ketaatan kepada-Mu”[2]

Dalam riwayat lain:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”[3]

Sekarang ini kaum Muslimin sangat membutuhkan doa karena banyaknya fitnah disekitar kita. Dalam doa yang lain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengucapkan:

أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي

“Jadikanlah Al-Qur’an sebagai penentram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap lara dan penghilang kedukaanku.”[4]

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga mengucapkan:

اللَّهُمَّ اغْسِلْ عَنِّي خَطَايَايَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ

Ya Allah, bersihkanlah hatiku dengan air salju dan es, dan bersihkanlah hatiku dari kesalahan-kesalahan, sebagaimana baju dibersihkan dari kotoran”[5]

Wahai Muslim, kapan kita akan mulai menghafal doa-doa itu? Kapan kita beralih dan kapan hati kita akan mendapatkan pengaruhnya? Tidakkah aneh menyaksikan betapa banyak orang dianugerahi dengan ilmu namun mereka (menjadi) sombong? Ini karena hati mereka telah sakit. Siapa yang benar-benar mendapatkan manfaat dari ilmunya? Ilmu, jika tidak diamalkan akan dipertanggungjawabkan di hari kiamat.


Kedua, kita dapat memperbaiki hati dengan memohon pertolongan Allah dalam setiap perkara. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memohon kepada Allah untuk berlindung dari terlibat dalam keburukan, mendengarkan keburukan, mengucapkan kata-kata yang buruk, dan menyimpan sesuatu yang buruk di dalam hati. Adapun arti dari mendengarkan keburukan adalah jika dia tidak menggunakan pendengarannya untuk keridhaan Allah seperti mendengarkan Al-Qur’an, namun dipergunakan untuk mendengarkan musik dan ghibah. Adapun pada penglihatan, maka itu berarti jika seseorang tidak digunakan untuk mengamati ciptaan Allah, dan untuk membaca Al-Qur’an, namun digunakan untuk menatap pria dan wanita di jalan-jalan.

Keburukan lisan adalah jika seseorang tidak menggunakan lisannya untuk membaca Al-Qur’anul Karim, namun menggunakannya untuk menyanyi dan mengghibah, dan lain-lain.

Adapun keburukan hati, maksudnya adalah hati tidak takut kepada Allah, tidak memenuhinya dengan tauhid dan aqidah yang benar, dan hati ini hanya dipenuhi setiap bentuk maksiat.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memohon pertolongan Allah dengan berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak takut kepada-Mu, dari jiwa yang tidak tenang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”[6]

Ketiga mengetahui kategori-kategori hati yang berbeda akan membantu dalam memperbaikinya. Hal ini juga akan membantu seseorang untuk mengetahui keadaan hatinya. Kategori ini ada tiga:

  1. Hati yang sehat
  2. Hati yang sakit
  3. hati yang mati

Secara ringkas hati yang sehat adalah hati yang bebas dari nafsu, syubhat, dan tidak menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya.

Dia beribadah dan berserah diri kepada Allah dan perhatiannya hanya untuk meraih keridhaan-Nya.

Wahai pemilik hati yang demikian, engkaukah yang mencintai, membenci, memberi dan menahan hanya karena Allah. Jika orang ini hendak mendekatkan diri kepada Allah, maka dia menanyakan dua pertanyaan kepada dirinya sebelum melakukan suatu perbuatan.

Yang pertama, mengapa saya melakukan perbuatan ini, dan yang kedua bagaimana saya melakukannya? Adapun pertanyaan pertama, jawabannya terletak pada melakukan perbuatan untuk meraih keridhaan Allah, tidak menginginkan sesuatu kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah dengannya. Yang kedua adalah mengikuti contoh Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam melakukan perbuatan tersebut.

Singkatnya, jawaban pertama adalah berdasarkan ikhlas, dan yang kedua adalah kesungguhan dalam mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dari sini dipahami bahwa tidak ada perbuatan yang akan diterima pada Hari Kiamat kecuali memenuhi kedua syarat tersebut. Seseorang yang melakukannya pasti akan diselamatkan pada hari yang agung ini.

Allah telah menyebutkan mengenai hal tersebut:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَإِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS Asy-Syuara [26] : 88-89)

Hati yang diberi kabar gembira pada hari kiamat adalah hati yang selamat. Hati yang demikian adalah hati yang sehat. Mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an akan menjaga hati tetap dalam kondisi demikian.

Allah berfirman mengenai hal ini:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya),”

(QS Al-Anfal [8] : 2)

Keadaan kita di zaman sekarang ini sungguh bertentangan, engkau mendapati ayat-ayat Al-Qur’an diperdengarkan di taksi, sang sopir dengan segera menggantinya dengan musik.

Di sisi lain, anda juga mendapati seseorang yang mendengarkan Al-Qur’an sebagai pengantar tidur. Orang yang seperti ini tidak mendapatkan manfaat dari Al-Qur’an.

Allah berfirman:

وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـذِهِ إِيمَاناً فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَزَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.”

(QS At-Taubah [9] : 124)

Maka siapa diantara kita yang menarik manfaat dari Al-Qur’an? Seseorang yang memiliki hati yang sehat. Allah berfirman:

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَن بِالْغَيْبِ وَجَاء بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ

“(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat,”

(QS Qaaf [50] : 33)

Apa tanda-tanda dari hati yang sehat? Itu adalah hati yang ketika bermaksiat dia bertaubat dan tidak bertahan dengan perbuatan dosa. Orang yang mati dengan membawa hati sehat akan masuk surga. Saudara saudaraku, bagaimana hati kita menjadi sehat ketika segala hal yang kita lakukan adalah maksiat? Kita suka mengikuti hawa nafsu kita, sehingga ketika memberi, kita memberi karena hawa nafsu. Ketika kita menahan diri, kita menahan diri karena hawa nafsu. Ketika mencintai, kita mencintai karena hawa nafsu, dan ketika membenci, kita membenci karena nafsu.

Allah mencela seseorang yang seperti itu sebagaimana firman-Nya:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” (Al-Furqan [25] : 43)

Maka hati yang bermaksiat siang dan malam akan menjadi keras, tidak memiliki kehidupan dan mati.

Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah.” (QS Az-Zumar [39] : 22)

Maka hati yang mati hanya menuju kepada neraka, dan hati yang sehat menuju kepada surga.

Kategori yang kedua adalah hati yang sakit. Hati yang demikian juga hidup, maksudnya ada harapan untuk pulih dan menjadi sehat. Ini akan tercapai bila seseorang mengisi hatinya dengan taubat dan ketaatan. Dalam keadaan ini hati yang sehat memperoleh kemenangan sebagaimana sembuhnya dari sakit.

Namun demikian, jika penyakit hati bertambah maka pada akhirnya akan mati. Hal ini serupa dengan seorang pasien diberi pengobatan yang jika dilakukan dengan baik dia akan kembali sehat, insya Allah. Namun jika dia tidak melakukannya, maka penyakitnya akan semakin parah.


[1] Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Albani, Shahih al-Jami’ 3409.

[2] Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Dzilalul Jannah.

[3] Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 7988.

[4] Ini merupakan potongan dari doa panjang yang diajarkan Rasulullah e apabila seseorang ditimpa kesusahan dan kesedihan. (HR. Ahmad dalam musnad-nya dan dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Silahkan lihat Al-Kalaam ut-Tayyib hal. 73 oleh Syaikh Albani.; atau dalam terjemahan Bahasa Indonesia hal.128)

[5] HR Bukhari Muslim

[6] HR Muslim

Artikel ini adalah terjemahan bebas dari sebagian eBook 'How to Rectify Your Heart yang kami ambil dari Salafi Manhaj. Kritik dan saran mengenai artikel ini dapat anda berikan langsung melalu komentar atau dikirmkan ke alamat eMail kami. E-Book selengkapnya insya Allah akan dipublikasikan di Maktabah Raudhah al-Muhibbin.

Monday, February 09, 2009

Siapkah Anda Menghadapi Empat Pertanyaan di Padang Mashyar?

  • Judul: Siapkah Anda Menghadapi Empat Pertanyaan di Padang Mashyar?
  • Penusli: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
  • Sumber: Brosur Islamic Center Dammam

Setiap Muslim wajib mengenai Hari Akhir atau Hari Kiamat. Bahkan hal itu merupakan rukun iman yang kelima. Di dalam hadits-hadits shahih diterangkan bahwa setelah dunia ini hancur, manusia yang di dalam kubur dibangkitkan dan semua akan dikumpulkan oleh Allah di Padang Mashyar. Siapkah kita menghadapi peristiwa tersebut? Apa saja yang akan terjadi pada saat itu?

Pada saat itu manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala tentang segala macam yang telah dilakukan selama hidup di dunia ini. Pada hari itu tidak berguna harta, anak, tidak bermanfaat apa yang dibanggakan selama di dunia ini. Pada hari itu hanya ada penguasa tunggal, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan berbagai macam nikmat kepada manusia, kemudian Dia menyuruh menggunakan nikmat tersebut sebaik-baiknya dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Karena Allah telah menganugerahkan nikmat-nikmat itu kepada manusia, maka sangat wajar apabila Dia menanyakan kepada manusia untuk apa nikmat-nikmat itu digunakan.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya darimana ia peroleh dan kemana ia habiskan, dan badannya untuk apa ia gunakan.” (HR Tirmidzi dan Ad-Darimi).

1 Umur

Umur adalah sesuatu yang tidak pernah lepas dari manusia. Bila kita berbincang-bincang tentang umur, maka berarti kita berbicara tentang waktu. Allah dalam Al-Qur’an telah bersumpah dengan waktu: ”Demi masa”, maksudnya agar manusia lebih memperhatikan waktu. Waktu yang diberikan Allah adalah 24 jam dalam sehari-semalam. Untuk apa kitagunakan waktu itu? Apakah waktu itu untuk beribadah atau untuk yang lain, yang sia-sia?

Diantara sebab-sebab kemunduran umat Islam ialah bahwa mereka tidak pandai menggunakan waktu untuk hal-hal yanag bermanfaat, sebagian besar waktunya untuk bergurau, bercanda, ngobrol tentang hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan terkadang membawa kepada perkataan yang tidak berarti dan pertikaian. Sementara ornag-orang kafir menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka maju dalam berbagai bidang kehidupan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Keadaan umat Islam saat ini sangat memprihatinkan. Ada di antara mereka yang tidak mengerti ajaran agamanya dan ada yang tidak mengerti ilmu pengetahuan umum. Bahkan ada di antara mereka yang buta huruf baca tulis Al-Qur’an. Bila kita mau meningkatkan iman dan amal, maka seharusnyalah kita bertanya kepada diri masing-masing. Sudah berapa umur kita hari ini dan apa yang sudah kita ketahui tentang Islam, apa pula yang sudah kita amalkan dari ajaran Islam ini? Janganlah kita termasuk orang-orang yang merugi.

2. Ilmu

Yang membedakan antara Muslim dan kafir adalah ilmu dan amal. Orang Muslim berbeda amalannya dengan orang kafir dalam segala hal, dari mulai kebersihan, berpakaian, berumah tangga, bermuamalah dan lain-lain. Seorang Muslim diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya agar menuntut ilmu. Allah berfirman:

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS Az-Zumar [39] : 9)

Ayat ini kendatipun berbetuk pertanyaan tetapi mengandung perintah untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu agama hukumnya adalah wajib atas setiap individu Muslim, misalnya tentang membersihkan najis, berwudhu yang benar, cara shalat yang benar dan hal-hal yang dilaksanakan setiap hari. Karena bila ia tidak tahu, maka amalannya akan tertolak, dan Allah akan bertanya kenapa ia mengikuti apa yang tidak ia ketahui, seperti dalam firman-Nya:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al-Isra [17] : 36)

Ilmu yang sudah dipelajari oleh umat Islam harus digunakan untuk kepentingan Islam. Ilmu yang sudah dituntut dan dipelajari wajib diamalkan menurut syariat Islam. Ilmu tidak akan berarti apa-apa dalam hidup dan kehidupan manusia kecuali bila manusia mengamalkannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

”Beramallah kamu (dengan ilmu yang ada) karena tiap-tiap orang dimudahkan menurut apa-apa yang Allah ciptakan atasnya.” (HR Muslim)

3. Harta

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

”Bagi tiap-tiap umat itu fitnah dan sesungguhnya fitnah umatku adalah harta.” (HR At-Tirmidzi dan Hakim)

Harta pada hakikatnya adalah milik Allah. Harta adalah amanat Allah yag dilimpahkan kepada umat manusia agar dia mencari harta itu dengan halal, menggunakan harta itu pada tempat yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. Bila kita amati keadaan umat Islam saat ini, banyak kita dapati di anara mereka yang tidak perduli lagi dengan cara mengumpulkan hartanya, apakah dari jalan yang halal atau jalan yang haram. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah meramalkan hal ini dengan sabdanya:

”Nanti akan datang suatu masa, di masa itu manusia tidak perduli dari mana harta itu ia peroleh, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram.” (HR Al-Bukhari)

Setiap Muslim harus hati-hati dalam mencari mata pencaharian hidupnya karena banyak manusia yang terdesak masalah ekonomi lalu ia hingga tidak perduli lagi dari mana harta itu ia peroleh. Ada yang memperoleh harta dari usaha-usaha yang batil, misalnya hutang tdak dibayar, korupsi, riba, merampok, berjudi dan lain sebagainya. Orang yang mencari usaha dari yang haram akan mendapat siksa dari Allah, seperti disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

”Barangsiapa yang dagingnya tumbuh dari barang yang haram, maka Neraka itu lebih patut baginya (sebagai tempat).” (HR Al-Hakim).

Harta yang kita dapat dengan cara yang halal harus pula kita infaqkan pada jalan yang benar pula. Bila tadi disebutkan bahwa harta itu milik Allah, maka wajib pula kita gunakan harta itu untuk dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.

Di dalam Al-Qur’an ada delapan golongan yang berhak mendapatkan zakat, yaitu para fuqara (orang fakir), masakin (orang miskin), amil (pengurus zakat), muallaf (orang yang baru masuk Islam), untuk membebaskan budak, orang-orang yang berhutang, untuk perjuangan di jalan Allah dan orang yang sedang dalam perjalanan. Di masa-masa sekarang ini ada beberapa kelompok yang masuk prioritas ulama yang berhak mendapatkan infaq dan shadaqah, yaitu folongan fuqara, masakin danorang yang berjuang di jalan Allah.

Orang fakir adalah oran gyang butuh, tetapi tidak mempunyai pekerjaan, sedangkan hidupnya digunakan auntuk membantu agama Islam. Jadi orang fakir yang dibantu adalah orang yang hidupnya untuk berjuang di jalan Allah bukan pemalas yang tidak mau berusaha dan tidak melaksanakan syariat Islam. Sedangkan orang miskin adalah orang yang berusaha, tetapi usahanya hanya mencukupi kebutuhan minimalnya dalam keluarganya untuk makan sehari-hari.

4. Badan

Manusia merupakan mahluk yang paling sempurna yang diciptakan Allah di muka bumi ini. Dengan kesempurnaan susunan tubuh serta akal fikiran yang diberikan Allah, manusia dijadikan sebagai khalifah di bumi, manusia dibebani taklif agar dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Jasmani manusia ini dituntut bekerja untuk melaksanakan fungsi khilafah dalam rangka mengabdi kepada Allah. Letihnya manusia dalam melaksanakan ibadah kepada Allah akan diganjar dengan pahala. Tetapi bila letihnya dalam rangka bermain-main, mengerjakan maksiat, perbuatan sia-sia, beribadah dengan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka sia-sia letihnya itu, bahkan ada yang akan diganjar dengan api Neraka, karena mereka termasuk orang-orang yang celaka, sebagauna sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

”Tiap-tiap amal (pekerjaan) ada masa-masa semangat dan tiap-tiap masa semangat ada masa lelahnya, maka barangsiapa lelah letihnya karena melaksanakan sunnahku, maka ia telah mendapatkan petunjuk, dan barangsiapa yang letihnya bukan karena melaksanakan sunnahku, maka dia termasuk orang yang binasa.” (HRAl-Hakim dan Al-Baihaqi).

Demikianlah, pada hari mashyar masing-masing manusia akan diminta pertanggungajwaban atas segala perbuatan yang telah dikerjakannya selama hidupnya di dunia. Seudah siapkan kita menjawab pertanyaan-pertanyaan itu? Kalau belum, kapan lagi kita memperisapkan diri kalau tidak sekarang?

Segala puji bagi Allah, Penguasa sekalian alam, semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

Friday, January 02, 2009

Apa yang Harus Kulakukan setelah Berbuat Dosa

Aku Ingin Bertaubat, Tetapi… (7)

Oleh: Syaikh Muhammad Saleh al-Munajjid

 

Apa yang Harus Kulakukan setelah Berbuat Dosa

Anda mungkin bertanya, “Bila aku melakukan sebuah dosa, bagaimana aku dapat segera bertaubat darinya? Adakah yang harus aku lakukan segera setelah berbuat dosa?”

Jawabannya adalah ada dua hal yang harus dilakukan setelah melakukan dosa. Yang pertama adalah merasa menyesal di dalam hati dan berketetapan hati untuk tidak mengulangi berbuat dosa tersebut. Ini adalah buah dari rasa takut kepada Allah. Yang kedua adalah melakukan tindakan fisik untuk melakukan berbagai jenis kebajikan, seperti shalat taubat. Abu Bakrah radhlallahu anhu berkata: “Ada seorang laki-laki yang berbuat dosa, kemudian bangkit dan bersuci, lalu shalat dua raka’at kemdian memohon kepada Allah agar mengampuninya, dan Allah akan mengampuninya.” (Diriwayatkan oleh Ashabus Sunan; lihat Shahih At-Traghib wat-Tarhib,1/284). Kemudian dia membaca ayat ini:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri , mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Al-Imran [3] : 135)

Riwayat shahih yang lain menjelaskan bagaimana melakukan shalat dua rakaat untuk menebus dosa. Secara ringkas dijelaskan:

Berwudhu. “Tidak ada yang melakukan wudhu dan melakukannya dengan baik, melainkan dosa-dosanya akan jatuh dari anggota badan yang dibasuh dengan air atau dengan tetes air terakhir.”

Seseorang harus berwudhu dengan baik termasuk mengucapkan ‘Bismillah’ diawalnya dan mengucapkan beberapa doa setelahnya, seperti:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang haq kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya. Aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya”.

Atau:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang (yang senang) bersuci”.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji kepadaMu. Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang haq selain Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepadaMu”.

Mengucapkan salah satu dari doa ini setelah berwudhu akan memberikan pahala yang besar.

Berdiri dan mengerjakan shalat dua raka’at.

Tidak melakukan kesalahan atau melupakan suatu bagian dari shalat.

Tidak membiarkan pikirannya berkeliaran.

Berkonsentrasi dengan benar dan berpikir mengenai Allah ketika shalat.

Memohon ampunan kepada Allah.

Hasilnya adalah bahwa dosa-dosanya akan diampuni, dan dia dijanjikan Surga. (Shahih At-Targhib, 1/94-95).

Hal ini harus diikuti dengan lebih banyak amal kebajikan dan perbuatan ketaatan kepada Allah. Ketika Umar radhlallahu anhu menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan tidak sependapat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam proses perjanjian Hudaibiyah, dia berkata, “Karena hal itu aku banyak beramal.” Yakni melakukan amal saleh sebagai penebus atas dosa itu.

Renungkanlah contoh yang dibawakan dalam hadits shahih berikut:

Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata:

"إِنَّ مَثَلَ الَّذِي يَعْمَلُ السَّيِّئَاتِ، ثُمَّ يَعْمَلُ الْحَسَنَاتِ كَمَثَلِ رَجُلٍ كَانَتْ عَلَيْهِ دِرْعٌ ضَيِّقَةٌ قَدْ خَنَقَتْهُ، ثُمَّ عَمِلَ حَسَنَةً فَانْفَكَّتْ حَلَقَةٌ، ثُمَّ عَمِلَ أُخْرَى فَانْفَكَّتْ حَلَقَةٌ أُخْرَى، حَتَّى يَخْرُجَ إِلَى الأَرْضِ".

“Perumpamaan orang yang melakukan amal keburukan dan kemudian melakukan amal kebajikan seperti seorang laki-laki yang mengenakan rantai besi yang hampir mencekiknya; ketika dia melakukan amal kebajikan rantai itu menjadi lebih longgar, kemudian dia terus melakukan amal kebajikan rantai menjadi semakin longgar sampai terlepas darinya dan jatuh ke tanah.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir; Lihat juga Shahih Al-Jami’, 2192)

Maka amal saleh akan membebaskan pelaku dosa dari penjara kemaksiatan dan membawanya kepada kehidupan yang baru ketaatan kepada Allah.

Ibnu Mas’ud berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, “Ya Rasulullah, saya menemukan seorang wanita di sebuah taman dan saya melakukan segalanya dengannya kecuali jima’, maka perlakukanlah aku sekehendakmu.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengatakan sesuatu apapun, dan orang itu pun pergi. Umar berkata, “Allah telah menutupi dosanya, seharusnya dia sendiri menutupi dosanya.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengikuti laki-laki itu dengan pandangannya kemudian berkata, “Bawalah dia kembali menghadapku.” Maka mereka memanggilnya kembali, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam membacakan untuknya:

وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفاً مِّنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّـيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS Hud [11] : 114)

Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Umar, Mu’adz berkata; “Ya Rasulullah, apakah ini hanya baginya ataukah juga berlaku untuk semua orang?” Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: “Tidak, hal ini berlaku bagi semua orang.” (Diriwayatkan oleh Muslim).

*  *  *

 

beberapa bagian dari tulisan ini selanjutnya tidak akan kami posting, tetapi akan dibuat dalam bentuk eBook yang lengkap dan dipubilkasikan melalui Maktabah Raudhah al-Muhibbin, insya Allah.

 

Artikel ini diterjemahkan secara bebas dari artikel berbahasa Inggris ‘I Want to Repent, But…’ karya Syaikh Muhammad Saleh al-Munajjid yang dapat anda temukan di situs Islam House. Jika ada tanggapan atau koreksi terhadap artikel ini dipersilahkan untuk menghubungi kami

Monday, December 29, 2008

Taubatnya Orang yang telah Membunuh Seratus Orang

Aku Ingin Bertaubat, Tetapi... (6)

Oleh: Syaikh Muhammad Saleh al-Munajjid

 

Taubatnya Orang yang telah Membunuh Seratus Orang

Abu Said Sa’ad bin Malik Bin Sinan Al-Khudri radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: “Di antara umat sebelum kamu sekalian terdapat seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Lalu dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling berilmu, kemudian dia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Dia pun mendatangi pendeta tersebut dan mengatakan, bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah taubatnya akan diterima? Pendeta itu menjawab: Tidak! Lalu dibunuhnyalah pendeta itu sehingga melengkapi seratus pembunuhan. Kemudian dia bertanya lagi tentang penduduk bumi yang paling berilmu lalu ditunjukkan kepada seorang alim yang segera dikatakan kepadanya bahwa ia telah membunuh seratus jiwa, apakah taubatnya akan diterima?

Orang alim itu menjawab: Ya, dan siapakah yang dapat menghalangi taubat seseorang! Pergilah ke negeri begini dan begini karena di sana terdapat kaum yang selalu beribadah kepada Allah lalu sembahlah Allah bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu karena negerimu itu negeri yang penuh dengan kejahatan! Orang itu pun lalu berangkat, sampai ketika ia telah mencapai setengah perjalanan datanglah maut menjemputnya. Berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab mengenainya. Malaikat rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadap sepenuh hati kepada Allah. Malaikat azab berkata: Dia belum pernah melakukan satu perbuatan baik pun. Lalu datanglah seorang malaikat yang menjelma sebagai manusia menghampiri mereka yang segera mereka angkat sebagai penengah. Ia berkata: Ukurlah jarak antara dua negeri itu, ke negeri mana ia lebih dekat, maka ia menjadi miliknya. Lalu mereka pun mengukurnya dan mendapatkan orang itu lebih dekat ke negeri yang akan dituju sehingga diambillah ia oleh malaikat rahmat.” (Mutafaq alaih). Dalam riwayat lain dalam Ash-Shahih disebutkan bahwa: “Negeri (yang dituju) tersebut sejengkal lebih dekat, sehingga dia dianggap sebagai bagian penduduknya.” Menurut riwayat lain yang shahih bahwa Allah memerintahkan kepada negeri yang ini – negeri yang buruk – untuk menjauh dan negeri yang ini – negeri tempat orang-orang shalih – mendekat, kemudian berkata: “Ukurlah jarak antara keduanya.” Dan mereka (kedua malaikat itu) mendapati laki-laki itu sejengkal lebih dekat (ke negeri orang-orang saleh), maka dia diampuni.”

Apa yang dapat menghalangi seseorang dengan taubat? Apakah engkau beranggapan bahwa dosa-dosamu lebih besar dari dosa laki-laki ini, yang Allah terima taubatnya? Perkaranya bahkan lebih besar dari ini. Renungkanlah firman Allah:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Furqan [25] : 68-70)

Berhentilah dan renungkan ayat ini: “….maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (Al-Furqan [25] : 70). Ini menjelaskan kepada engkau keagungan dan kemurahan Allah yang tak terbatas. Para ulama Mendefinisikan penggantian ini dalam dua jenis:

Merubah karakter buruk menjadi karakter yang baik, syirik digantikan dengan iman yang benar, perzinahan pada kesucian, kebohongan pada kebenaran, dari khianat menjadi terpercaya.

Mengganti amal buruk yang telah dilakukan seseorang menjadi amal baik pada Hari Kebangkitan. Renungkanlah kalimat ini: “….maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” Tidak berarti bahwa satu keburukan diganti dengan satu kebajikan (dengan berat yang sama). Bisa kurang, sama, atau lebih dalam jumlah maupun beratnya. Hal itu tergantung dari keikhlasan orang yang bertaubat. Bisakah engkau membayangkan kemurahan yang lebih besar daripada ini? Lihatlah bagaimana kemurahan yang telah ditetapkan dijelaskan lebih lanjut dalam hadits berikut:

Abdur Rahman bin Jubair meriwayatkan dari Abu Tawil Syathab Al-Mamdud bahwa dia datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam (riwayat lain menyebutkan bahwa seorang laki-laki tua yang alisnya menutupi kedua matanya) datang dan berdiri di hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan bertumpu pada tongkatnya dan berkata: “Bagaimana menurutmu seseorang yang telah melakukan berbagai macam dosa, dan tidak meninggalkan satu dosa pun yang besar atau yang kecil (dalam riwayat yang lain: jika dosanya dibagikan kepada seluruh manusia dia muka bumi, maka akan menghancurkan mereka). Dapatkan orang semacam itu diampuni?” Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Apakah engkau seorang Muslim?” Dia berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah.” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Lakukanlah amal-amal kebajikan dan menjauhlah dari amal-amal buruk dan Allah akan menggantikan menjadi amal kebaikan untukmu.” Dia bertanya, “Bagaimana dengan pelanggaran dan kemaksiatan yang aku lakukan?” Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata, “Ya, itu juga.” Laki-laki itu berkata, “Allahu Akbar!” dan terus mengagungkan kebesaran Allah sampai dia hilang dari pandangan.

(Al-Haitsami berkata: hadits serupa diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Bazzar. Perawi dalam sanad Al-Bazzar adalah perawi shahih kecuali dari Muhammad bin Harun Abi Nashitah, yang disebut tsiqah. Al-Majma’ 1/36. Al-Mundziri berkata dalam At-Targhib, isnadnya jayyid qawiy, 4/113. Ibnu Hajar berkata dalam Al-Isaabah 4/149) sesuai dengan syarat shahih).

Pada titik ini, seseorang yang bertaubat mungkin bertanya, “Ketika aku tersesat dan bahkan meninggalkan shalat yang berarti bahwa aku berada di luar batas Islam, aku melakukan amal kebajikan. Apakah amal kebajikan itu akan mendapat pahala setelah aku bertaubat, ataukah hilang (seperti) diterbangkan angin?”

Jawaban dari pertanyaan ini dapat ditemukan dalam hadits berikut. Urwah Ibnu Az-Zubair meriwayatakan bahwa Hakim Ibnu Hizam memberitahukan kepadanya bahwa dia berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Ya Rasulullah, apakah menurutmu aku akan mendapatkan balasan atas amal seperti memberi sedekah, membebaskan budak dan menyambung tali silaturahmi yang aku lakukan pada masa jahiliyah?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Engkau menjadi Muslim karena amal kebajikan yang engkau lakukan.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Dosa-dosa ini akan diampuni, amal-amal keburukan ini akan digantikan dengan amal-amal kebajikan dan amal kebajikan yang dilakukan selama masa jahiliyah akan tetap diperhitungkan setelah engkau bertaubat. Apa lagi yang lebih diinginkan seseorang?

 

...bersambuung Insya Allah.

Artikel ini diterjemahkan secara bebas dari artikel berbahasa Inggris ‘I Want to Repent, But…’ karya Syaikh Muhammad Saleh al-Munajjid yang dapat anda temukan di situs Islam House. Jika ada tanggapan atau koreksi terhadap artikel ini dipersilahkan untuk menghubungi kami

Apakah Allah akan Mengampuniku?

Aku Ingin Bertaubat, Tetapi... (5)

Oleh: Syaikh Muhammad Saleh Al-Munajjid

 

Apakah Allah akan Mengampuniku?

Anda mungkin berkata, “Aku ingin bertaubat, namun dosa-dosaku sungguh teramat banyak. Tidak satupun kebejatan dan tidak satu jenis pun dosa, yang dapat dibayangkan atau selainnya, yang tidak aku lakukan. Sangat buruk sehingga aku tidak tahu apakah Allah akan mengampuniku untuk apa-apa yang telah aku lakukan selama beratahun-tahun.”

Sebagai jawaban, saya hendak memberi tahu engkau bahwa ini bukanlah sebuah persoalan yang unik, persoalan ini juga banyak dialami oleh mereka yang ingin bertaubat. Saya akan memberikan contoh seorang laki-laki muda yang pernah mengajukan pertanyaan ini. Dia telah memulai perbuatan dosanya dari usia yang masih sangat muda, dan ketika mencapai usia 17 tahun dia telah memiliki catatan panjang melakukan berbagai macam kejahatan, besar dan kecil, dengan semua orang, tua maupun muda. Dia bahkan telah menodai seorang gadis kecil. Ditambah lagi daftar panjang pencurian (yang dia lakukan). Kemudian dia berkata, “Saya telah bertaubat kepada Allah, melakukan shalat tahajud di sebagian malam, berpuasa pada hari Senin dan Kamis, dan saya membaca Al-Qur’an setelah shalat Fajar. Akankah taubatku dapat memberikan suatu manfaat?”

Prinsip-prinsip petunjuk bagi kita Muslim adalah merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah ketika kita mencari hukum-hukum, pemecahan persoalan dan obat. Ketika kita mengembalikan persoalan ini kepada Al-Qur’an, kita menemukan bahwa Allah berfiman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya...” (QS Az-Zumar [39] : 53-54)

Inilah jawaban bagi persoalan ini. Hal ini cukup jelas dan tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Perasaan bahwa dosa-dosa seseorang terlalu besar untuk diampuni Allah lahir dari beberapa faktor:

  • Tidak adanya iman pada diri seorang hamba akan luasnya rahmat Allah.
  • Kurangnya iman terhadap kemampuan Allah untuk mengampuni semua dosa.
  • Kurangnya amalan hati seseorang, yakni harap (raja’).
  • Tidak memahami pengaruh taubat dalam menghapus dosa-dosa.

Kami akan menjawab semua point di atas dibawah ini:

Cukuplah dengan mengutip firman Allah:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“…dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu…” (QS Al-A’raf [7] : 156)

Cukuplah dengan mengutip hadits qudsi yang shahih: Allah berkata:

مَنْ عَلِمَ أَنِّي ذُو قُدْرَةٍ عَلَى مَغْفِرَةِ الذُّنُوبِ غَفَرْتُ لَهُ، وَلا أُبَالِي مَا لَمْ يُشْرِكْ بِي شَيْئًا

“Barangsiapa yang mengetahui bahwa Aku dapat mengampuni semua dosa, Aku akan mengampuninya, dan Aku tidak perduli selama dia tidak menyekutukan sesuatu denganku.” (Diriwayatkan oleh At-Tabrani dalam Al-Kabir dan oleh Al-Hakim; Shahih Al-Jami’, 4330). Hal ini mengenai hamba yang bertemu Allah pada Hari Kiamat.

Hal ini mungkin dapat mengobati dengan merujuk pada sebuah hadits qudsi:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

““Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa kepadaku, dan berharap kepadaku, maka Aku akan memberikan pengampunan atas segala dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak perduli. Hai anak Adam! Andaikata dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku pasti mengampunimu dan Aku tidak perduli. Hai anak Adam! Jika engkau datang kepada-Ku dengan kesalahan-kesalahan hampir sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dengan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan pengampunan hampir sepenuh bumi pula.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi; Shahih Al-Jami’, 4338)

Cukuplah dengan menukil hadits Nabi r:

التَّائِبُ مِنْ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

“Orang yang bertaubat dari dosanya seperti dia tidak berbuat dosa.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah; Shahih Al-Jami’, 3008).

Bagi orang-orang yang sukar memahami bagaimana Allah bisa memaafkan dosa-dosa yang menumpuk, kami kutipkan hadits berikut ini.

 

...bersambung Insya Allah

Artikel ini diterjemahkan secara bebas dari artikel berbahasa Inggris ‘I Want to Repent, But…’ karya Syaikh Muhammad Saleh al-Munajjid yang dapat anda temukan di situs Islam House. Jika ada tanggapan atau koreksi terhadap artikel ini dipersilahkan untuk menghubungi kami

Saturday, December 27, 2008

Taubat Menghapus Apa Saja yang Datang Sebelumnya

Aku Ingin Bertaubat, Tetapi...(4)

oleh: Syaikh Muhammad Saleh al-Munajjid

Taubat Menghapus Apa Saja yang Datang Sebelumnya

 

Seseorang mungkin berkata, “Saya ingin bertaubat, tetapi siapa yang menjamin bahwa Allah mengampuniku jika aku melakukannya? Aku ingin mengikuti jalan yang lurus, namun aku sangat ragu. Jika aku mengetahui dengan yakin bahwa Allah akan mengampuniku, aku tentu akan bertaubat.”

Saya berkata sebagai jawaban bahwa perasaan-perasaan keraguan ini sama dengan apa yang dialami oleh para Sahabat sendiri. Jika engkau memikirkannya dengan serius mengenai dua riwayat berikut, keraguan yang engkau rasakan akan sirna, insya Allah.

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan kisah bagaimana ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallahu anhu masuk Islam. “…Ketika Allah menempatkan rasa cinta terhadap Islam dalam hatiku, aku datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, “Ulurkan tanganmu agar aku dapat berbai’at kepadamu. Beliau mengulurkan tangannya namun aku menarik kembali tanganku. Beliau bertanya, “Ada apa wahai ‘Amr?” Aku berkata, “Ada sebuah syarat.” Beliau bertanya. “Apa itu?” Aku berkata, “Dosa-dosaku diampuni.” Beliau berkata, “Tidakkah engkau mengetahui, wahai ‘Amr, Islam menghapus apa yang datang sebelumnya, hijrah menghapus apa yang datang sebelumnya, dan Haji menghapus apa yang datang sebelumnya?”

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu bahwa sebagian orang dari kaum musyrikin membunuh, dan banyak melakukan pembunuhan, berzina dan banyak melakukan perzinahan. Kemudian mereka datang kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan berkata, “Apa yang engkau katakan dan engkau anjurkan adalah baik. Jika saja engkau dapat memberitahu kami bahwa ada penjelasan dari apa yang telah kami lakukan.” Kemudian Allah menurunkan wahyu:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),” (QS Al-Furqan [25] : 68)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar [39] : 53)

 

...bersambung, insya Allah

 

Artikel ini diterjemahkan secara bebas dari artikel berbahasa Inggris ‘I Want to Repent, But…’ karya Syaikh Muhammad Saleh al-Munajjid yang dapat anda temukan di situs Islam House. Jika ada tanggapan atau koreksi terhadap artikel ini dipersilahkan untuk menghubungi kami

Friday, December 26, 2008

Contoh Taubat yang Besar

Aku Ingin Bertaubat, Tetapi...(3)

Oleh: Syaikh Muhammad Saleh al-Munajjid

Contoh Taubat yang Besar

Disini kita akan melihat beberapa contoh taubat di kalangan salaful ummah, para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam:

Buraidah radhiallahu anhu meriawayatkan bahwa Ma’iz bin Malik al-Aslami datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Ya Rasulullah, saya telah mendzalimi diriku dan berzina, saya ingin engkau mensucikanku.” Nabi shallallahu alaihi wasallam menyuruhnya pulang. Hari berikutnya dia kembali dan berkata, “ Ya Rasulullah, saya telah berzina.” Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam menyuruhnya pulang untuk kedua kalinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus kepada kaumnya dan berkata, “Apakah kalian mengetahui apabila ada yang sesuatu yang salah dalam mentalnya? Apakah kalian pernah memperhatikan ada yang aneh dari tingkah lakunya?” Mereka berkata, “Kami tidak mengetahuinya kecuali bahwa akalnya tidak terganggu dan dia adalah dari orang-orang shalih.” Maa’iz datang untuk ketiga kalinya dan Nabi shallallahu alaihi wasallam memanggil kaumnya dan mereka berkata bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya atau pikirannya. Pada hari keempat, Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk menggali lubang untuknya dan memerintahkan dia untuk dirajam.

Seorang wanita Ghamidi datang dan berkata, “Ya Rasulullah, saya telah berzina, maka sucikanlah aku.” Nabi shallallahu alaihi wasallam menyuruhnya kembali. Hari berikutnya dia datang lagi dan berkata, “Mengapa engkau menyuruhku pergi? Mungkin engkau menyuruhku pergi sebagaimana engkau menyuruh Ma’iz pergi, tetapi demi Allah saya hamil.” Beliau menjawab, “Tidak. Pulanglah sampai engkau melahirkan anakmu.” Setelah melahirkan, dia datang membawa bayi yang terbungkus kain dan berkata, “Saya telah melahirkan seorang bayi.” Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata, “Kembalilah, susuilah ia sampai engkau menyapihnya.” Setelah wanita itu menyapihnya, dia datang lagi membawa sang anak yang memegang sepotong roti di tangannya, dan berkata, “Ya Rasulullah, inilah dia (anakku), saya telah menyapihnya dan kini dia dapat memakan makanan lain.” Anak itu diberikan kepada salah seorang Muslim untuk dirawat, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan sebuah lubang sedalam dada digali untuk wanita tersebut, dan dia dirajam. Khalid bin Walid mengambil sebuah batu dan melempar wanita itu dikepalanya. Darah mengalir ke wajahnya dan dia (Khalid) mencelanya. Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengar apa yang dikatakan Khalid dan berkata kepadanya, “Biarkanlah, wahai Khalid! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, dia telah bertaubat dengan taubat yang jika seorang pemungut pajak melakukannya, ia akan diampuni.” Kemudian beliau memerintahkan agar dilakukan shalat jenazah bagi wanita itu, dan dia dikuburkan. (HR Muslim)

Menurut sebuah riwayat Umar radhiallahu anhu berkata, “Ya Rasulullah, engkau memerintahkan dia untuk dirajam, lalu engkau akan menshalatkannya?” Beliau bersabda: “Dia telah bertaubat dengan taubat yang jika dibagikan kepada tuju puluh penduduk Madinah niscaya hal itu mencukupi mereka. Dapatkan engkau menemukan orang lain yang lebih baik daripada seseorang yang menyerahkan jiwanya karena Allah?” (Diriwayatkan oleh Abd Ar-Razaq dalam Al-Musannaf, 7/325).

 

...bersambung, Insya Allah.

Artikel ini diterjemahkan secara bebas dari artikel berbahasa Inggris ‘I Want to Repent, But…’ karya Syaikh Muhammad Saleh al-Munajjid yang dapat anda temukan di situs Islam House. Jika ada tanggapan atau koreksi terhadap artikel ini dipersilahkan untuk menghubungi kami.

 

Thursday, December 25, 2008

Syarat-syarat Diterimanya Taubat

Aku Ingin Bertaubat, Tetapi...(2)

Oleh: Syaikh Muhammad Saleh al-Munajjid

 

Syarat-syarat Diterimanya Taubat

Kata taubat mengandung makna yang dalam, yang membawa implikasi yang besar. Ini bukanlah – sebagaimana yang dipikirkan banyak orang – hanya sekedar lip service (maksudnya sekedar diucapkan di lidah – pent.), setelah diucapkan seseorang kemudian melanjutkan (perbuatan) dosa-dosanya. Jika engkau memikirkan arti dari ayat berikut:وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya.” (QS Hud [11] : 30), maka engkau akan melihat bahwa taubat adalah sesuatu yang mengikuti permohonan ampun.

Sesuatu yang sangat besar dan penting seperti itu tentunya memiliki syarat-syarat yang menyertainya. Para ulama telah menjelaskan syarat-syarat taubat, berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Syarat-syarat itu meliputi:

  • Segera menghentikan dosa
  • Menyesali apa yang telah lalu
  • Berketetapan hati untuk tidak kembali kepada dosa-dosa
  • Mengembalikan hak-hak korban (yang dizalimi –pent.) atau meminta maaf kepada mereka.

Sebagian ulama juga menyebutkan lebih rinci sebagai syarat dari tuabat nasuha, yang dikutip berikut ini dengan beberapa contoh:

1. Bahwa dosa-dosa harus dihentikan semata-mata karena Allah, bukan untuk alasan lainnya, seperti tidak dapat melakukannya, atau takut terhadap perkataan orang lain.

Seseorang yang menghentikan perbuatan dosanya karena dampak negatifnya terhadap reputasi dan kedudukannya di hadapan orang lain, atau pada pekerjaannya, tidak dapat digambarkan sebagai seseorang yang bertaubat.

Seseorang yang menghentikan perbuatan dosanya karena alasan kesehatan dan kekuatan, seperti orang yang menghentikan pelacuran dan tuna susila karena takut terkena penyakit yang mematikan, atau karena melemahkan tubuh dan ingatannya, tidak dapat digambarkan sebagai orang yang bertaubat.

Seseorang yang menolak menerima suap karena takut orang yang menawarkannya tersebut dari lembaga penegak hukum yang sedang menyamar, tidak dapat disebut sebagai orang yang bertaubat.

Orang yang tidak minum anggur atau memakai narkoba hanya karena dia tidak memiliki uang untuk membeli barang-barang tersebut tidak dapat digambarkan sebagai orang yang bertaubat.

Orang yang tidak melakukan dosa karena alasan yang diluar kuasanya, tidak dapat digambarkan sebagai orang yang bertaubat. Maka seorang pembohong yang kehilangan kekuatan pidatonya, pezina yang menjadi impoten, pencuri yang kehilangan anggota badannya dalam kecelakaan… semuanya harus merasa menyesal atas apa yang telah mereka lakukan dan menghentikan setiap keinginan untuk melakukannya lagi. Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: الندم توبة Penyesalan adalah taubat.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah; Shahih al-Jami’, 6802).

Dihadapan Allah, orang yang tidak dapat melakukan suatu amal perbuatan namun mempunyai keinginan untuk melakukannya sama dengan orang yang melakukannya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hanya ada empat jenis manusia di dunia ini. Seorang hamba yang Allah anugerahi dengan kekayaan dan ilmu, dan dia takut kepada Allah karenanya, dan mempergunakannya untuk mempererat tali silaturahmi, dan mengakui hak-hak Allah atas keduanya. Dia memiliki kedudukan yang paling tinggi. Seorang hamba yang kepadanya Allah hanya berikan ilmu dan tidak kekayaan. Niatnya ikhlas dan dia berkata, “Jika aku memiliki kekayaan aku akan melakukan (amal saleh) seperti si fulan dan si fulan (hamba yang pertama).” Dia akan diberi pahala sesuai dengan apa yang dia niatkan, sehingga pahala mereka sama. Seorang hamba yang kepadanya Allah berikan kekayaan dan tidak ilmu. Dia menghabiskan hartanya dengan sia-sia, tidak takut kepada Allah mengenainya dan tidak menggunakannya untuk memperkuat tali silaturahmi dan tidak mengakui hak Allah atasnya. Dia memiliki status yang paling rendah. Seorang hamba yang kepadanya Allah tidak memberikan baik ilmu maupun kekayaan. Dia berkata, “Jika aku mempunyai kekayaan, aku akan melakukan seperti si fulan dan si fulan (hamba yang ketiga). Dia akan dihukum sesuai dengan niatnya, sehingga dosa keduanya adalah sama.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi, dan dishahihkan di dalam At-Targhib wat-Tarhib, 1/9)

2. Orang yang berbuat dosa harus merasa bahwa dosanya tersebut menjijikkan dan berbahaya. Hal ini berarti bahwa, jika seseorang melakukan taubat nasuha, tidak ada sedikitpun rasa suka atau senang ketika dia mengingat dosa-dosanya di masa lalu, atau keinginan untuk mengulanginya di masa depan. Di dalam kitabnya Ad-Da’u wa Ad-Dawa dan Al-Fawa’id, Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan berbagai pengaruh buruk dari dosa-dosa, termasuk yang berikut ini:

Hilangnya ilmu – merasa asing di dalam hati – menemui kesulitan dalam urusan-urusan seseorang – lemah fisik – hilangnya keinginan untuk taat kepada Allah – hilangnya nikmat– kurang beruntung karena tiada pertolongan Allah (taufik) – sesaknya dada, yakni tidak bahagia – bertambahnya amal buruk – terbiasa dengan dosa – hina dalam pandangan Allah – hina dalam pandangan manusia – dikutuk oleh binatang – pakaian dari hal-hal yang memalukan – tertutupnya hari dan termasuk dalam orang-orang yang dikutuk Allah – do’a tidak terkabulkan – kerusakan di darat dan di laut – kurangnya harga diri atau kehormatan – hilangnya rasa malu – hilangnya nikmat – jatuh ke dalam perangkap syaithan – su’ul khatimah – azab di hari kiamat.

Penjelasan dari konsekuensi berbahaya dari dosa-dosa ini akan membuat orang menjauh dari dosa seluruhnya, namun sebagian orang berhenti dari satu jenis dosa tapi jatuh pada perangkap dosa yang lain, karena berbagai alasan, termasuk yang berikut:

Mereka menganggap bahwa dosa yang baru tersebut lebih ringan

Mereka lebih condong kepadanya, dan nafsunya terhadapnya lebih kuat

Karena keadaannya lebih memungkinkan bagi dosa-dosa itu daripada dosa yang lainnya, yang membutuhkan lebih banyak usaha, bahwa sarana untuk melakukannya telah siap tersedia dan tersebar luas

Teman-temannya semuanya melakukan dosa itu, dan sangat sukar baginya untuk melepaskan diri dari mereka

Karena dosa itu merupakan sarana untuk memperoleh kedudukan diantara sahabat-sahabatnya, dan dia tidak ingin melepaskan kedudukannya, maka ia meneruskan perbuatan dosa itu. Inilah yang terjadi pada sebagian dari orang-orang yang berada dalam posisi yang dapat digambarkan sebagai sekumpulan pemimpin. Hal yang demikian terdapat dalam syair memalukan dari Abu Nawas ketika seorang penyair lain Abul Atahiyah mencoba menasihatinya mengenai beberapa dosanya. Abu Nawas menjawab:

“Apakah engkau mengira, Wahai Atahi, aku akan menghentikan kesenangan ini,

Apakah engkau mengira aku akan melepaskan kedudukanku diantara kaumku untuk kehidupan yang shalih?”

Seorang hamba hendaknya bersegera menuju taubat, karena menunda taubat itu sendiri adalah dosa yang karenanya taubat dibutuhkan.

Dia hendaknya memiliki rasa takut bahwa taubatnya tidak sempurna karena sesuatu hal dan dia tidak boleh beranggapan bahwa taubatnya telah diterima, sehingga dia tidak merasa puas dan aman dari rencana Allah.

Dia harus melaksanakan kewajiban yang telah dilalaikannya pada masa lalu, seperti membayar zakat yang ditahannya di masa lalu – karena Allah dan karena hak-hak orang miskin, dan seterusnya.

Dia harus menghindari tempat-tempat dimana dosa-dosa dilakukan jika kehadirannya di tempat itu dapat mendorongnya untuk melakukan lagi.

Dia harus menghindari orang-orang yang menolongnya berbuat dosa.

(Uraian di atas diambil dari Fawa’id hadits qaatil al-mi’ah – faedah dari hadits mengenai orang yang telah membunuh seratus orang – yang akan dinukilkan selanjutnya).

Allah berfirman:

الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf [43] : 67)

Teman-teman yang buruk akan mengutuk satu sama lain pada Hari Pengadilan, itulah sebabnya mengapa pada saat engkau bertaubat, engkau harus menjauh dari mereka, menghindari mereka dan memperingatkan orang lain terhadap mereka jika mereka tidak mengindahkan dakwah atau nasihatmu. Jangan biarkan syaithan menggodamu untuk kembali kepada mereka dengan alasan untuk menasihati mereka, terlebih jika engkau mengetahui bahwa dirimu lemah dan tidak dapat menahan godaan. Ada banyak kejadian orang-orang kembali jatuh ke dalam dosa karena mereka kembali kepada perkumpulan teman-teman yang buruk.

Dia harus menghancurkan barang-barang haram miliknya, seperti minuman alkohol, alat-alat musik (seperti ‘ood – yakni alat musik yang menggunakan senar, dan mizmar – yakni alat musik yang ditiup), gambar-gambar dan film yang haram, buku-buku yang tidak berguna dan patung-patung. Barang-barang itu harus dipatahkan, dihancurkan dan dibakar. Membuang semua perangkap jahiliyah pada titik memulai lembar baru adalah sangat penting. Betapa sering dengan menyimpan barang-barang semacam itu menjadi penyebab pemiliknya mengingkari taubatnya dan menjadi sesat setelah mendapat petunjuk! Semoga Allah menolong kita untuk istiqamah.

Dia harus memilih teman-teman yang saleh yang akan menolongnya, bukannya teman-teman yang buruk. Dia harus berusaha keras menghadiri majelis dimana (nama) Allah senantiasa disebut dan dimana dia dapat memperoleh ilmu. Dia harus mengisi waktunya dengan mengejar hal-hal yang berharga sehingga syaithan tidak akan menemukan cara untuk mengingatkannya akan masa lalu.

Dia harus membangun kembali tubuhnya yang telah hidup dengan hal-hal yang haram, dengan mentaati Allah dan berusaha keras untuk memeliharanya dengan hal-hal yang halal saja, sehingga tubuhnya akan menjadi kuat.

Dia harus bertaubat sebelum maut sampai di tenggorokannya (yakni sebelum ajal datang), dan sebelum matahari terbit dari sebelah Barat (salah satu tanda besar datangnya hari kiamat) sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertaubat sebelum sakaratul maut berada di tenggorokannya, Allah akan mengampuninya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi, Shahih Al-Jami’, 6132), dan “Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari sebelah Barat, Allah akan menerima taubatnya.” (HR Muslim).

 

...bersamung, Insya Allah

 

Artikel ini diterjemahkan secara bebas dari artikel berbahasa Inggris ‘I Want to Repent, But…’ karya Syaikh Muhammad Saleh al-Munajjid yang dapat anda temukan di situs Islam House. Jika ada tanggapan atau koreksi terhadap artikel ini dipersilahkan untuk menghubungi kami.

Wednesday, December 24, 2008

Bahaya Meremehkan Dosa-Dosa

Aku Ingin Bertaubat, Tetapi...(1)…

Oleh: Syaikh Muhammad Saleh al-Munajjid

 

Mukadimah

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, kami memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut diibadahi dengan benar kecuali Allah, Maha Esa Dia, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.

Allah telah memerintahkan semua kaum Mu’minin untuk bertaubat, Dia berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur [24] : 31)

Manusia terbagi ke dalam dua jenis, orang-orang yang bertaubat dan kembali kepada Allah, dan orang-orang yang berbuat kesalahan, tidak ada jenis ketiga. Allah berfirman:

وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“…dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Hujarat [49] : 11)

Kita hidup di sebuah zaman dimana banyak orang telah menyimpang jauh dari agama Allah, dan dosa dan pelanggaran sangat menyebar sehingga tidak ada satu orang pun yang tetap terbebas dari noda keburukan kecuali bagi orang yang dilindungi oleh Allah.

Namun demikian, Allah tidak mengizinkan kecuali bahwa menyempurnakan cahaya-Nya, sehingga banyak orang terbangun dari tidur panjang kelalaian. Mereka menjadi sadar akan kegagalan memenuhi kewajiban mereka kepada Allah, menyesali kecerobohan dan dosa-dosa mereka, dan karenanya mulai bergerak menuju cahaya taubat. Yang lainnya telah merasa letih dengan kehidupan celaka yang penuh sengsara, sehingga mereka mencari jalan keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Namun orang-orang ini menemui berbagai rintangan yang mereka pikir menghalangi antara mereka dan taubat, sebagian diantaranya terdapat di dalam diri mereka, dan orang-orang lain di dunia ini di sekeliling mereka.

Untuk alasan inilah saya menulis risalah singkat ini, dengan harapan untuk menjernihkan kebingungan ini, mengusir keraguan, menjelaskan hikmah dan mengusir syaithan.

Melanjutkan pendahuluan yang dibahas dalam ‘bahaya meremehkan dosa-dosa’, saya kemudian menjelaskan syarat-syarat taubat, pengobatan psikologis, dan fatwa berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah, yang ditujukan kepada mereka yang bertaubat. Diikuti dengan nukilan perkataan dari sebagian ulama dan komentar saya sebagai kesimpulan.

Saya memohon kepada Allah agar hal ini dapat bermanfaat bagi diriku dan saudara-saudaraku kaum Muslimin. Saya tidak meminta kepada saudara-saudaraku kecuali mereka mendoakanku dan memberikan nasihat yang tulus kepadaku. Semoga Allah menerima taubat kita semua.

 

Bahaya Meremehkan Dosa-Dosa

 

Engkau harus mengetahui, semoga Allah merahmatiku dan dirimu, bahwa Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dengan ikhlas dan telah menetapkan bahwa melakukannya (taubat) adalah kewajiban. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS At-Tahrim [66] : 8)

Allah telah memberikan kita waktu untuk bertaubat sebelum kiraaman kaatibin (malaikat yang mulia yang mencatat amalan) mencatat amal-amal kita. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Malaikat di sebelah kiri mengangkat penanya (yakni menunda untuk menulis) selama enam jam (ini mungkin berkenaan dengan waktu enam jam dari 60 menit perjam sebagaimana yang dihitung para atronom, atau dapat merujuk pada periode singkat di siang atau malam hari –Lisaan al-Arab) sebelum dia mencatat perbuatan dosa seorang Muslim. Jika dia menyesalinya dan memohon ampunan Allah, amal (buruk) itu tidak dicatat, selain itu maka akan dicatat sebagai satu amal (buruk).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Baihaqi dalam Shu’ab al-Iman – Cabang-cabang Iman); dihasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah, 1209). Tenggang waktu lebih lanjut diberikan setelah amal tersebut tercatat, sampai saat sebelum ajal mendekatinya.

Persoalannya adalah banyak orang sekarang ini tidak menempatkan harapan dan takut kepada Allah. Mereka menghianati-Nya dengan melakukan berbagai macam dosa, siang dan malam. Ada diantara orang-orang yang dicoba dengan pemikiran menganggap dosa-dosa sebagai sesuatu yang tidak signifikan, sehingga engkau dapat melihat salah seorang diantara mereka menganggap ‘dosa-dosa kecil tertentu’ (saghaa’ir) tidak penting, sehingga dia mungkin berkata, “Apa bahayanya jika saya melihat atau berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram?” Mereka menganggap tidak apa-apa memandang wanita dalam majalah atau pertunjukan TV. Sebagian diantara mereka, ketika dikatakan kepada mereka bahwa ini haram akan bertanya dengan berkelakar, “Lalu seberapa buruk hal itu? Apakah itu termasuk dosa besar atau dosa kecil?” Bandingkanlah sikap ini dengan apa yang digambarkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari rahimahullah.

Anas radhiallahu anhu berkata: “Engkau melakukan hal-hal yang dimatamu terlihat lebih ringan dari sehelai rambut, namun di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kami menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat menghancurkan seseorang.”

Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu berkata, “Seorang Mu’min menganggap dosa-dosanya seolah-olah dia duduk dibawa sebuah gunung yang dia takut gunung tersebut akan jatuh menimpanya, sedangkan orang yang berdosa menganggap dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya dan dia menepiskannya.”

Apakah orang-orang ini akan memahami keseriusan masalah ini jika mereka membaca hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam berikut ini: “Hati-hatilah terhadap dosa-dosa kecil yang seringkali diremehkan, karena hal itu seperti sekelompok orang yang singgah di dasar lembah. Salah seorang diantara mereka membawa sebuah ranting, dan yang lainnya membawa sebuah ranting sampai mereka semua mengumpulkan ranting-ranting yang cukup untuk memasak makanan mereka. Dosa-dosa kecil ini akan membinasakan mereka.” (Diriwayatkan oleh Ahmad; Shahih al-jami’, 2686-2687)

Para ulama berkata bahwa ketika dosa-dosa kecil diikuti oleh kurangnya rasa malu atau penyesalan, dan tanpa rasa takut kepada Allah, dan dianggap remeh, maka memungkinkan bahwa dosa-dosa itu akan dihitung sebagai dosa besar. Oleh karena itu dikatakan kepadamu bahwa tidak ada dosa-dosa kecil yang kecil bagimu dan tidak ada dosa besar yang besar bagimu jika engkau terus-menerus memohon ampun.

Maka kita katakan kepada orang-orang yang berada dalam kondisi seperti ini: Jangan berpikir apakah ini dosa kecil atau dosa besar; Pikirkanlah Dia yang engkau khianati.

Insya Allah perkataan ini akan memberikan manfaat kepada orang-orang yang ikhlas, dan yang menyadari dosa-dosa dan kekurangannya, dan tidak terus-menerus melakukan kesalahan dan berpegang teguh kepada keimanan.

Kata-kata ini adalah untuk mereka yang beriman terhadap firman Allah:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,’ (QS Al-Hijr [15] : 49)

Dan firman-Nya:

وَ أَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الأَلِيمَ

“dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS Al-Hijr [15] : 49)

Sangat penting untuk memegang pemahaman yang seimbang ini di dalam pikiran kita.

....bersambung, insya Allah

 

Artikel ini diterjemahkan secara bebas dari artikel berbahasa Inggris ‘I Want to Repent, But…’ karya Syaikh Muhammad Saleh al-Munajjid yang dapat anda temukan di situs Islam House. Jika ada tanggapan atau koreksi terhadap artikel ini dipersilahkan untuk menghubungi kami.