Showing posts with label Salaf: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Show all posts
Showing posts with label Salaf: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Show all posts

Saturday, January 04, 2014

Jiwa, Antara yang Mulia dan yang Rendah

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah - rahimahullah- berkata:

Jiwa yang mulia
hanya rela menerima sesuatu yang paling tinggi, paling utama, dan paling terpuji kesudahannya. Sedangkan jiwa yang rendah hanya akan mengurusi hal-hal yang nista hingga terjerumus ke dalamnya, sebagaimana lalat yang terperosok ke dalam sesuatu yang menjijikkan.


فالنفوس الشريفة لا ترضي من الأشياء إلا بأعلاها وأفضلها وأحمدها عاقبة والنفوس الدنيئة تحوم حول الدناءات وتقع عليها كما يقع الذباب على الأقذار

Al-Fawa'id (177/1)

Sunday, April 24, 2011

Like a Drop of Water in The Sea - Laksana Setetes Air di Tengah Lautan


Ibnu Qayyim – may Allah be pleased with him – said: “Love is followed by pleasure. It is either strong or weak according to the degree of love. Whenever the desire for the cherished one is stronger, there is perfect pleasure. Love and yearning follow knowing Allah and appreciating His Greatness. Whenever our knowledge of Allah is perfect, we will love him more perfectly. Therefore the perfection of blessing and pleasure in the hereafter can be trace back to knowledge and love. 

So whoever believe in Allah, His Names and Attributes and knows them well, would love Him a great deal, and his feeling of pleasure, his being close to Him, looking at His face and hearing His words would be complete when meeting Him in the Day of Judgment. Every pleasure, blessing, joy and delight will be like a drop of water compared to the ocean. So how it is when an intelligent person can prefer weak and shortlived pleasure that is mixed with pain, to great, complete and eternal pleasure? The perfection of man is based on these two abilities: Knowledge and Love. And the best knowledge is the knowledge about Allah, and the highest love is the love for His sake. Surely, it is Allah’s help that should be sought.”

* * *

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Kelezatan mengikuti rasa cinta. Ia akan menguat mengikuti menguatnya cinta dan melemah pula seiring dengan melemahnya cinta. Setiap kali keinginan terhadap al-mahbub (sosok yang dicintai) serta kerinduan kepadanya menguat maka semakin sempurna pula kelezatan yang akan dirasakan tatkala sampai kepada tujuannya tersebut. Sementara rasa cinta dan kerinduan itu sangat tergantung kepada ma’rifah/pengenalan dan ilmu tentang sosok yang dicintai. Setiap kali ilmu yang dimiliki tentangnya bertambah sempurna maka niscaya kecintaan kepadanya pun semakin sempurna. Apabila kenikmatan yang sempurna di akherat serta kelezatan yang sempurna berporos kepada ilmu dan kecintaan.

Maka barangsiapa yang lebih dalam pengenalannya dalam beriman kepada Allah, nama-nama, sifat-sifat-Nya serta -betul-betul meyakini- agama-Nya niscaya kelezatan yang akan dia rasakan tatkala berjumpa, bercengkerama, memandang wajah-Nya dan mendengar ucapan-ucapan-Nya juga semakin sempurna. Adapun segala kelezatan, kenikmatan, kegembiraan, dan kesenangan -duniawi yang dirasakan oleh manusia- apabila dibandingkan dengan itu semua laksana setetes air di tengah-tengah samudera. Oleh sebab itu, bagaimana mungkin orang yang berakal lebih mengutamakan kelezatan yang amat sedikit dan sebentar bahkan tercampur dengan berbagai rasa sakit di atas kelezatan yang maha agung, terus-menerus dan abadi. Kesempurnaan seorang hamba sangat tergantung pada dua buah kekuatan ini; kekuatan ilmu dan rasa cinta. Ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang Allah, sedangkan kecintaan yang paling tinggi adalah kecintaan kepada-Nya. Sementara itu kelezatan yang paling sempurna akan bisa digapai berbanding lurus dengan dua hal ini [ilmu dan cinta], Allahul musta’aan.”

* * *

اللذة تابعة للمحبة تقوى بقوتها وتضعف بضعفها فكلما كانت الرغبة فى المحبوب والشوق اليه أقوى كانت اللذة بالوصول اليه أتم والمحبة والشوق تابع لمعرفته والعلم به فكلما كان العلم به اتم كانت محبته أكمل فإذا رجع كمال النعيم فى الآخرة وكمال اللذة الى العلم والحب فمن كان يؤمن بالله واسمائه وصفاته ودينه أعرف كان له أحب وكانت لذته بالوصول اليه مجاورته والنظر الي جهه وسماع كلامه أتم وكل لذة ونعيم وسرور وبهجة بالاضافة الى ذلك كقطرة فى بحر فكيف يؤثر من له عقل لذة ضعيفة قصيرة مشوبة بالآلام علي لذة عظيمة دائمة ابد الآباد وكمال العبد بحسب هاتين القوتين العلم والحب وافضل العلم العلم بالله وأعلى الحب الحب له وأكمل اللذة بحسبهما والله المستعان

Source: Al-Fawaid by Ibnu Qayyim al-Jauziyyah

Sunday, November 15, 2009

Look for Your Heart in Three Places


Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah said:



اُطْلُبْ قَلْبَكَ فِيْ ثَلاَثِ مَوَاطِنَ:
عِنْدَ سَمَاعِ اْلقُرْآنِ، وَفِيْ مَجَالِسِ الذِّكْرِ، وَفِيْ أَوْقَاتِ اْلخُلْوَةِ
فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِيْ هَذِهِ اْلمَوَاطِنَ
فَسَلِ اللهَ أَنْ يَمُنَّ عَلَيْكَ بِقَلْبٍ، فَإِنَّهُ لاَ قَلْبَ لَ
كَ



Look for your heart in three places:
when listening to the Qur’an,
When sitting in the gathering of knowledge
and when in privacy.
If you cannot find it in these places,
then ask Allah to bless you with a heart,
for indeed you have no heart.”

Carilah hatimu di tiga tempat:
Pada saat mendengarkan Al-Qur'an;
di majelis dzikir (ba'da shalat, menuntut ilmu syar'i dan lain-lain),
ketika sedang menyendiri. Jika kamu tidak mendapatkannya di tiga tempat itu,
maka memohonlah kepada Allah agar memberimu hati,
karena sesungguhnya kamu tidak mempunyai hati.

Source: Al-Fawa'id by Ibnu Qayyim al-jauziyyah