sumber: Assunnahfm.Com
Monday, March 31, 2014
Kemana Lagi Aku Harus Meminta
sumber: Assunnahfm.Com
Wednesday, March 26, 2014
Hari Yang Menanti
Pemateri: Dr. Syafiq Reza Basalamah
Tempat: Masjid An-Nuur Malang
Ukuran/format: 19,5 MB/Mp3
Durasi: 02:14
Ada hari-hari yang dinantikan dengan penuh kebahagiaan
Hari yang ditunggu dengan dada penuh debar dan hati yang membuncah
Hari-hari yang membuat diri tak sabar seolah esok berganti terlalu lama
Dan setiap orang selalu punya hari yang dinanti, hari yang istimewa, entah apapun bentuknya.
Nun....
Ada sebuah hari yang menanti
Yang selalu mengintai di setiap waktu
Yang tak seorang pun tahu kapan kedatangannya
Yang setiap orang akan menjumpainya
Karena ia kan terus menanti... dan menyapa bila tiba waktunya
Itulah hari di mana terputusnya semua amal... seiring terlepasnya ruh dari raga
Hari ketika orang-orang tercinta pergi meninggalkan kita dalam kengerian dan kesendirian
Hari ketika tubuh layaknya seonggok bangkai yang terkubur....
Sungguh, ..Hari kematian itu pasti!
Download Kajian "Hari yang Menanti"
Monday, March 24, 2014
Hati Yang Terobati
Ketika kita memaafkan, ada saat di mana kita teringat dan membuat kita kembali terluka sehingga amarah kembali muncul. Bagaimana kiranya.. jika Allah juga kembali menghitung-hitung dosa kita yang telah lalu, yang telah kita mintakan ampun darinya?
“Pintu-pintu Surga di buka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim)
Friday, August 23, 2013
Bersatu dalam Dakwah Sunnah
Pemateri: Syaikh Airf Syu'jan (Dosen Pasca Sarjana Universitas Ummul Qura)
Penterjemah: Ust. Zezen Zainal Mursalin, Lc.
Tempat: Masjid Islamic Center Mu'adz bin Jabal Kendari
Sebuah nasihat indah dari Syaikh Airf Syu'jan hafidzahullah, bahwa setiap orang dalam hidup ini membutuhkan orang lain, bahkan seorang penguasa sekalipun. Bukankah Nabi Musa alaihis salam juga meminta agar Allah mengutus saudaranya Harun alahis salam, untuk mendapingisnya sebagai Nabi yang akan bedakwah kepada Fir'aun?
Bukankah Dzulqarnain, seorang Raja yang memiliki kekuasaan yang sangat luas, juga membutuhkan bantuan rakyatnya ketika hendak membangun dinding pemisah dari Ya'juj dan Ma'juj?
Demikian halnya di dalam dakwah Sunnah, seharusnya mengutamakan persatuan di atasal-Qur'an dan Sunnah, sehingga kaum Muslimin dapat menjadi sebuah kekuatan besar yang mampu melawan fitnah yang disebarkan dan ditanamkan oleh musuh-musuh Allah. Bahwa loyalitas tidak diberikan kepada orang per orang atau kelompok tertentu, akan tetapi kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Download Kajian
Tuesday, September 14, 2010
The Great Personality, Imam Ahmad bin Hanbal
(Series of lectures by Syaikh Shafi Khan, Imam Masjid Daar as-Salaam, US)
Berikut ini adalah kisah, satu bagian dari perjalanan hidup seorang Imam Ahlus Sunnah. Sepenggal kisah yang memberikan gambaran jelas, bagaimana Allah senantiasa menolong hamba-hamba-Nya yang menolong agama-Nya; Bagaimana kekuatan iman dan takwa seseorang bisa mengalahkan tirani; Bagaimana kesabaran dalam menghadapi cobaan demi cobaan berbuah manis, dan mencatatkan namanya dengan tinta emas dalam sejarah, yang kebaikannya senantiasa disebutkan oleh manusia sepanjang masa.
Ketika pemikiran Mu’tazilah menyebar luas dan menguasai pemerintahan Islam ketika itu, beliau berdiri tegak dengan keimanan menjulang layaknya gunung yang tak tergoyahkan oleh apapun. Ketika para ulama lain memilih untuk menyingkir, atau berkompromi karena tidak tahan diterpa siksaan yang luar biasa kejam dari penguasa yang zalim, sang Imam tidak bergeser sedikit pun dalam mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah, bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah.
Dialah Imam Ahlus Sunnah, yang kekuatan doanya mengetuk langit ke tujuh meminta Allah agar mengakhiri kezaliman Al-Makmun, sang penguasa saat itu, dan Allah mengirimkan malaikat pencabut nyawa mengakhiri kehidupan Al-Makmun.
Dialah lautan ilmu, yang dengan kefasihannya mampu membungkan barisan ‘ulama’ Mu’tazilah yang berdebat dengannya.
Dialah sosok yang tawadhu dan taqwa, yang keteguhan, ketabahan serta kesabarannya seolah menghapus semua penderitannya, menjadikan setiap cobaan demi cobaan terasa ringan baginya.
Dalam rangkaian kajian ini, pemateri mengajak kita untuk belajar dari kisah Imam Ahmad, pada keteguhan beliau membela aqidah Ahlus Sunnah, tidak perduli beratnya siksaan yang harus dihadapi. Sungguh berbeda jauh dengan kondisi kita di zaman sekarang ini, Sebagian kita bahkan malu menampakkan keislaman kita. Para wanita muslimah yang lebih memilih mengikuti trend orang-orang kafir dalam berbusana, dan enggan menunjukkan keislamannya dengan menutup aurat, bukan karena tidak mengetahui kewajibannya, akan tetapi rasa malu yang menahannya. Banyak di antara kita yang kemudian surut melangkah, karena persoalan dunia menahan kita. Saya, dan barangkali juga anda, mungkin terjebak dalam situasi yang serupa. Sesungguhnya kajian-kajian seperti ini, kisah-kisah dari para pendahulu yang shalih, semoga bisa memulihkan semangat kita untuk teguh di atas Islam dan Sunnah.
Mendengakan kisah ini, seolah membawa ke masa lalu, menyaksikan satu episode perjalanan hidup sang Imam, ketika harus berpindah dari satu daerah ke daerah lain, satu penjara ke penjara lain, dan berlanjut dari satu khalifah ke khalifah yang lain. Bagaimana tubuh lemah beliau bersimbah darah dan punggungnya hampir tidak menyisakan ruang sedikitpun, kecuali melepuh dan koyak karena cambukan. Mendengarkan kisah ini, kita akan menyaksikan, bagaiman kekuatan iman bisa mengalahkan segalanya. Dialah Abu Abdillah, Imam Ahmad bin Hanbal, pahlawan pembela sunnah, tokoh idola yang sebenarnya. Bukan bintang pujaan yang berlaga dalam film-film dusta, juga bukan dongeng yang menghiasi novel-novel picisan.
Silahkan simak (English only):
Bagian I
Bagian II
Bagian III
Bagian IV
Thursday, June 10, 2010
Meneladani Para Sahabat (2)

Pemateri: Ustadz Zubair al-Hawary, Lc.
Durasi: 1:12:27 (total)
Belajar dari sejarah kehidupan manusia terdahulu, yang telah mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan kebaikan mereka, layaknya minum dari sumber telaga jernih. Kisah-kisah yang penuh dengan keteladanan, ketaatan dalam ibadah, kebaikan akhlak serta kedalaman ilmu dan pemahaman mereka terhadap agama, merupakan buah dari didikan manusia terbaik, kekasih Allah, seorang Rasul yang agung, Muhammad shallalahu alaihi wasallam.
Kajian ini merupakan lanjutan dari kajian yang telah diposting terdahulu. Dalam kajian ini dikisahkan tentang keadaan para sahabat – radhiallahu anhum – kepada perintah Alllah dan Rasul-Nya. Bagaimana mereka bersegera dan berlomba di dalam ketaatan. Kisah yang penuh dengan pengajaran yang baik bagi generasi sesudahnya akan kebaikan agama dan keindahan akhlak mereka.
Silahkan download atau dengar kajian:
Jadilah Seperti Mereka 3
Jadilah Seperti Mereka 4
Friday, May 28, 2010
Biarkan Ulama Syi’ah Berbicara tentang Agama Mereka
tentang Agama Mereka
(kajian disampaikan pada Tabligh Akbar
"Biarkan Ulama Syi'ah Berbicara tentang Agama Mereka"
Diselenggarakan oleh Islamic Center Mua'dz ibn Jabal Kendari)
Sumber: Radio Mu'adz ibn Jabal 94,3 FM Kendari
“Kamu Sunni apa Syi’ah?”Pertanyaan itu diajukan kepada saya beberapa tahun yang silam. Seperti kebanyakan masyarakat yang awam, saya tidak dapat menjawabnya. Saya tidak pernah mengetahui apa hakikat sunni dan syi’ah sebelumnya. Saya hanya tahu bahwa keduanya sama-sama beragama Islam, menjalankan kelima rukun Islam seperti sebagaimana kaum muslimin lainnya. Bahkan sebagian buku-buku yang saya senangi dan saya baca pada masa kuliah dulu adalah buku karangan tokoh-tokoh Syi’ah masa kini, karena bahasanya yang indah dan ilmiah yang membuat saya terkesan.
Segala puji bagi Allah, satu kejadian itu membawa hidayah, dengan timbulnya keinginan untuk mengetahui hakekat yang membedakan Sunni – Syi’ah. Sehingga jika pada hari ini seseorang bertanya kepada saya, dengan tegas saya akan menjawabnya, “Saya seorang muslimah Sunni, pengikut Ahlus Sunnah wal-Jama’ah!” Alhamdulillah.
Saya yakin pemahaman yang saya ketahui pada masa-masa lalu tersebut juga banyak dipahami oleh sebagian – jika bukan sebagian besar - masyarakat awam dari kaum muslimin saat ini. Seorang teman yang lain suatu kali pernah berkata, “Saya kesal melihat orang-orang yang merasa dirinya lebih Islam daripada yang lainnya, mengkotak-kotakkan agama dan membedakan antara Sunni dan Syi’ah. Padahal mereka sama-sama beragama Islam.” Penjelasan yang saya berikan saat itu tampaknya kurang memdai, karena diamnya dia bukan disebabkan memahami dan menyetujui apa yang saya katakan, tetapi lebih kepada untuk menghindari perdebatan. Dan saya tahu dia bukan seorang Syi’ah.
Kajian ini sangat penting untuk disimak dan disebarkan, untuk menghindarkan semakin berjatuhannya korban dari kaum muslimin ke dalam kesesatan Syi’ah. Melalui kajian ini anda akan mengetahui kesesatan agama Syi’ah melalui tulisan para ulama mereka yang terkemua dan menjadi rujukan, di masa lalu dan di masa kini.
Bagian pertama kajian ini menukilkan perkataan-perkataan para ulama Syi’ah melalui kitab-kitab mereka, dan kemudian menimbangnya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga orang yang mendnegarkannya akan langsung menyadari dan mengetahui, betapa sesatnya ajaran mereka. Bahwa kita tidak berbeda dengan Syi’ah hanya dalam masalah cabang, akan tetapi dalam masalah yang paling pokok, masalah Aqidah, telah berbeda.
Kajian berikutnya melanjutkan lebih jauh, nukilan-nukilan para ulama terpercaya Syi’ah, yang darinya anda akan dapat menilainya sendiri, betapa sesatnya pemahaman Syi’ah, bagaimana mereka menyimpangkan makna Al-Qur’an menurut pemahaman mereka sendiri, dan bagaimana celaan mereka terhadap keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para sahabat beliau, dan kaum muslimin diluar Syi'ah. Seorang muslimin yang memiliki akal sehat pasti akan mengingkari ajaran tersebut.
Pada bagian ketiga kajian ini membahas mengenai pandangan Syi’ah dalam masalah fiqih. Kajian ini menukil beberapa perkataan ulama Syi’ah kontemporer yang tidak senonoh dan menjijikkan, dan anda dapat menilainya sendiri, apakah perkataan seperti itu pantas keluar dari lisan atau tulisan seorang ulama?! Saya yakin, kawan saya - seorang aktivis perempuan - yang pernah menyatakan kekesalannya soal pemisahan Sunni Syi’ah tersebut akan mengecam dan mencela Syi’ah, sebagaimana yang saya rasakan.
Kajian ini hanya menukilkan, dan biarkanlah para ulama Syi’ah yang berbicara dan membongkar kesesatan ajaran mereka sendiri.
Simak atau download kajian:
Syi'ah dalam Timbangan al-Qur'an oleh Ustadz Harman Tajang, Lc.
Biarkan Ulama Syi'ah Berbicara tentang Agama Merreka oleh Ustadz Zezen Zainal Mursalin, Lc.
Perspektif Syi'ah dalam masalah Fiqih oleh Ustadz Dani Sofyan, Lc.
Monday, March 15, 2010
Ciri dan Karakteristik Aliran Sesat
Pemateri: Dr. Ahmad Zain an-Najah
Sumber: Radio Mu'adz 94,3 FM Kendari
Bagian pertama kajian ini, al-Ustadz memberikan penjelasan mengenai kaidah dalam berkelompok dan berorganisasi agar tidak terjatuh dalam kesesatan. Diantaranya tidak ber -wala wal bara atau mendasarkan loyalitas dan kebencian pada kelompok atau golongan atau organisasi, tidak bersikap fanatik terhadap individu atau golongan serta menjadikan kelompok atau golongan sebagai barometer kebenara, karena tidak seorang pun yang bersih dari kesalahan kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Pada bagian kedua, kajian memasuki penerapan kaidah-kaidah yang telah dipaparkan sebelumnya terhadap beberapa aliran sesat yang ada di Indonesia. Kajian ini secara khusus lebih berfokus kepada aliran syi'ah yang berkembang pesat di Indonesia.
Silahkan simak atau download kajian berikut:
Ciri dan Karakteristik Aliran Sesat 1
Ciri dan Karakteristik Aliran Sesat 2
Tuesday, October 20, 2009
Meneladani Para Sahabat

Pemateri: Ustadz Abu Zubair al-Hawary, Lc.
Sumber: anonymous
Durasi: 1:30:33
File: (total) 15.54 MB @ 16 kbps
Para sahabat radhiallahu anhum adalah manusia-manusia pilihan, yang Allah pilih diantara manusia untuk menemani Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Mereka adalah sebaik-baik manusia yang patut dijadikan suri tauladan setelah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana sabda beliau:
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya” (HR Bukhari Muslim)
Keutamaan para sahabat begitu besar, mereka memperoleh pahala yang terbesar karena telah menemani Rasulullah, berjihad bersama beliau, dan perbuatan mulia mereka dalam menyebarkan Islam. Mereka lah yang menyampaikan agama ini kepada generasi sesudahnya, hingga sampai kepada kita di zaman sekarang ini.
Kajian ini merupakan bagian pertama dari rangkain kajian ‘Jadilah Seperti Mereka”, yang merupakan penjabaran aqidah yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim terhadap para sahabat radhiallahu anhum. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ath-Thahawi:
“Kami mencintai para Sahabat Rasulullah. Akan tetapi kami tidak berlebih-lebihan dalam cinta kami kepada siapapun di antara mereka, tidak juga kami berlepas diri dari siapapun di antara mereka. Dan kami membenci siapa yang membenci mereka atau orang-orang yang berkata buruk tentang mereka. Dan kami tidak menyebutkan tentang mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, iman dan ihsan, dan membenci mereka adalah kufur, nifaq, dan melampaui batas.”
Kajian ini berisi pelajaran berharga bagaimana seharusnya kita menunjukkan sikap kepada para sahabat, meneladani mereka, menjadikan mereka sebagai panutan, bagaimana semangat mereka dalam berlomba-lomba pada ketaatan dan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Silahkan dengarkan kajian berikut ini, dan baca juga eBook yang membahas aqidah ahlus sunnah wal jama’ah tentang sahabat.
Jadilah Seperti Mereka 1
Jadilah Seperti Mereka 2
Friday, September 04, 2009
Baca Tempatmu Kelak di Akhirat Sebelum Engkau Meledakkan
Pemateri: Ustadz Abu Zubair al-Hawary, Lc.
Sumber: arribaath.com (Rekaman Kajian Juli, 2009)
Durasi: 0!) 431:50, 753 MB, dan 02) 43:199, 7.44 MB
Menarik! Sebuah kata yang pantas untuk judul buku yang menjadi pembahasan dalam kajian ini. Sudah semestinya, para pelaku aksi-aksi teror di negeri ini dan di belahan dunia lainnya, yang mengatasnakan Islam dan jihad, untuk menimba ilmu terlebih dahulu bagaimana jihad yang sesungguhnya di dalam Islam, sebelum melancarkan aksi-aksi yang memakan korban tidak sedikit dan bahkan menciderai citra Islam dan menimbulkan fitnah di tengah-tengah kaum Muslimin.
Masih jelas dalam ingatan kita bagaimana aksi teror yang baru saja terjadi di negeri ini oleh orang-orang yang meyakininya sebagai jihad, dan pelaku bom bunuh diri yang meyakini dirinya akan mati syahid dan masuk surga! Padahal Islam berlepas diri dari aksi-aksi kekerasan serupa.
Yang lebih memprihatinkan lagi, sebagaiann kaum Muslimin yang tidak paham lalu beranganggapan bahwa penampilan atau sikap mereka dalam beberapa hal sebagai ciri-ciri khusus yang dinisbatkan kepada para pelaku teror atau orang-orang yang berada dalam jaringan mereka. Sebagai akibatnya, orang-orang yang bersungguh-sungguh berusaha untuk menghiudpkan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, melalui adab dan cara berpakaian, seperti janggut atau dengan wanita-wanita yang berjubah panjang atau cadar, dan lain-lain yang kebetulan juga terdapat pada para pelaku teror, dipandang dengan mata penuh curiga.
Baca tempatmu di akhirat kelak sebelum engkau ledakkan! Bagaimana bisa dikatakan syahid dan masuk surga, sedangkan Allah telah mengharamkan darah seorang Muslim ditumpahkan? Padahal dalam aksi-aksi teror tersebut, mereka tidak mengecualikan korban dari kaum Muslimin! Bagaimana bisa dikatakan sebagai jihad dan pelaku teror dikatakan syahid dan masuk surga, sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad (yakni orang kafir yang mengikat perjanjian keamanan dengan seorang Muslim atau kaum Muslimin –red) maka dia tidak akan bisa mencium bau surga dan sesungguhnya baunya itu bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun” (HR Bukhari)
Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang kaum Muslimin untuk menakut-nakuti muslim lainnya meskipun hanya sekedar bercanda, apalagi jika benar-benar menyebarkan teror yang membahayakan jiwa dan harta?
Kajian ini membahas beberapa hadits yang berkenaan dengan hal tersebut secara gamblang disertai fatwa-fatwa Ulama Besar di Arab Saudi mengenai aksi teror di berbagai belahan dunia, yang tidak menyisakan keraguan bagi pendengarnya, bahwa Islam berlepas diri dari aksi-aksi teror yang mengatasnamakan Islam dan jihad. Sungguh, bacalah dulu tempatmu di akhriat kelak, sebelum engkau meledakkan...!
Baca Tempatmu Kelak di Akhirat 01
Baca Tempatmu Kelak di Akhirat 02
Thursday, August 27, 2009
Sifat Wudhu dan Shalat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam
Pemateri: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz
Sumber: Audio Assunnah (assunnah.mine/audio.assunna.web.id)
Total Durasi: 6:17:00
Total size: 86,1 MB
Merupakan kewajiban setiap muslim untuk mengetahui cara ibadah yang benar, jika dia menginginkan, dan pasti menginginkan, ibadahnya tersebut diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan syarat diterimanya ibadah tersebut ada 2, yakni ikhlas dikerjakan semata-mata karena Allah, dan mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Shalat merupakan kewajiban utama bagi setiap muslim yang dengannya merupakan pembeda seorang muslim dengan orang kafir sebagaimana yang secara shahih diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Oleh karena itu, menjadi wajib pula bagi setiap muslim untuk memcari ilmu, bagaimana melakukan shalat yang benar.
Kajian berikut ini diambil dari Daurah Kobe I (3A - 3D) yang berisi penjelasan mengenai sifat-sifat wudhu dan shalat yang benar, sesui dengan tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Pada bagian akhir juga dibahas bacaan atau dzikir-dzikir setelah shalat yang shahih dan kesalahan-kesalahan dalam shalat.
Bagian I
Bagian II
Bagian II
Bagian IV
Thursday, August 06, 2009
Menangis Karena Takut kepada Allah (audio)
Pemateri: Ustadz Abu Zubair, Lc.
Sumber: Audio.Asuunnah.web.id.
Durasi: 2:56
Menangis adalah fitrah manusia. Tidak seorang pun kebal terhadap tangisan. Menangis bias disebabkan oleh apa saja, kebahagiaan atau kesedihan, haru ataupun sakit.
Banyak sebab yang membuat seseorang dapat menangs. Namun seberapa banyak tangisan itu bisa menyelamatkan seseorang di hari dimana harta dan anak-anak tidak dapat menolong seseorang, kecuali yang datang dengan hati yang jernih?
Kita mungkin terlalu mudah untuk menumpahkan air mata. Ketika menonton adegan drama, membaca kisah-kisah fiktif yang mengundang haru, ketika ditimpa musibah, kehilangan orang yang kita cintai, dan sebagainya. Tapi mungkin sangat sedikit diantara kita yang menghisab dirinya sendiri lalu menangisi kesalahan-kesalahannya. Lebih sedikit lagi diantara kita yang menangis ketika dibacakan ayat-ayat ancaman, dimana keberadaan kita kelak di hari kiamat. Padahal tangisan yang seperti itu, dapat menyelamatkan seseorang dari api neraka, sebgaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
"Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sehingga susu itu dapat kembali ke tempat asalnya.” (diriwayatkan dari Abu Hurairah rahdiallahu anhu, oleh At-Tirmidzin (hasan shahih), an-Nasa’i dan al-Hakim (shahih).
Meluangkan waktu mendengarkan kajian berikut ini semoga bisa menyentuh hati kita. Bahwa sesungguhnya dosa dan kesalahan kita lah yang lebih patut untuk ditangisi daripada kehilangan perkara dunia. Bahwa takut akan murka Allah lah yang sepatutnya membuat kita memangis, bukannya air mata karena kisah-kisah fiktif yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat.
Silahkan download dan dengarkan:
Menangis Karena Takut kepada Allah 1
Menangis Karena Takut kepada Allah 2
Menangis Karena Takut kepada Allah 3
Menangis Karena Takut kepada Allah 4
Sunday, May 03, 2009
Mencintai Rasulullah صلى الله عليه وسلم
- Judul : Mencintai Rasulullah صلى الله عليه وسلم
- Pemateri: Ustadz Abu Zubair al-Hawary, Lc.
- Sumber: Yayasan al-Bayan Pekanbaru
- File: 13 MB mp3 @ 24 kbps
- Durasi: 72:22
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At-Taubah [9] : 128)
Terdapat begitu banyak hadits yang meriwayatkan bagaiman kecintaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada ummatnya, begitu kasihnya sehingga rela menahan penderitaan, menanggung beban yang demikian berat demi keselamatan ummatnya, mengelurkan mereka dari kesesatan kepada hidayah, dan mencemeaskan keadaan ummatnya di kemudian hari. Lalu sudahkah kita membalas cinta beliau صلى الله عليه وسلم dengan cara yang semestinya? Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..” (QS Al-Imran [3] : 31)
Begitu banyak kisah shahih bukti kecintaan para sahabat radhiallahu anhum. Kerelaan mereka mengorbankan keluarga, harta bahkan jiwanya demi Rasulullah صلى الله عليه وسلم, berlomba-lomba melaksanakan perintah-perintahnya, menjalankan ketaatan, menjauhi larangan dan perpegang teguh pada sunnah-sunnah beliau صلى الله عليه وسلم.
Lalu bagaimana dengan kita, generasi yang datang kemudian? Bagaimana kita membuktikan cinta kita kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, sehingga bisa meraih kebersamaan dengan beliau صلى الله عليه وسلم, sebagaimana dalam sebuah hadits; “Sungguh engkau bersama orang-orang yang engkau cintai” (HR Bukhari –Muslim)
Kajian ini menjelaskan kepada kita, bagaimana hakikat cinta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang sesungguhnya, sebuah cinta yang akan mendatangkan keridhaan Allah subahanahu wata’ala, cinta yang tidak hanya berhenti pada ucapan, cinta, yang dapat memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang Mukmin, yang akan ditemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم di telaganya.
Silahkan simak atau download kajiannya:
Mencintai Rasulullah صلى الله عليه وسلم
Wednesday, April 01, 2009
Tanda-tanda Hari Kiamat Kecil
- Judul: Tanda-tanda Hari Kiamat Kecil
- Pemateri: Ust. Armen Halim Naro rahimahullah
- Sumber: Yayasan al-Bayan Pekanbaru
- File: 6.7 mb dan 8.5 mb MP3 @ 24 kbps
- Durasi: 38:13 dan 48:39
Kajian ini merupakan lanjutan kajian yang diadakan di Pakanbaru, pembahasan buku Ensiklopedi Hari Kiamat Menurut Sunnah yang Shahih karya Dr. Yusuf Abdullah bin Yusuf al-Wabil. Pada kajian ini pembahasan tujuh tanda-tanda hari kiamat kecil sebagai berikut:
- (Poin ke 15) : Merebaknya perzinaan (merusak kesucian dan kehormatan).
- (Poin ke 16) : Merajalelanya riba (merusak harta);
- (Poin ke 17) : Merajelalanya alat-alat musik dan sebagian kaum menghalalkannya.
- (Poin ke 18) : Banyaknya peminum khamr dan menghalalkannya.
- (Poin ke 19) : Berlomba-lomba menghiasai masjid dan berbangga-bangga dengannya (tetapi tidak meramaikannhya).
- (Poin ke 20) : Berlomba-lomba meninggikan bangunan.
- (Poin ke 21) : Budak wanita melahirkan tuannya.
Simak dan download kajian berikut ini:
Tanda-tanda Hari Kiamat Kecil A
Tanda-tanda Hari Kiamat Kecil B
Tuesday, March 10, 2009
Kedudukan dan Hakekat Istiqamah
- Judul: Kedudukan dan Hakekat Istiqamah
- Pemateri: Ustadz Abu Qatadah
- Sumber: Assunnah Mine
- File: 1) 15 MB; 2) 8 MB; 3) 4.5 MB
- Durasi: 2:35:46
- Transkrip: N/A
Kata istiqamah mungkin sudah sering kita dengar diucapkan. Namun seringkali yang terjadi adalah istiqamah hanya di kenal di lisan, dan tidak dikenal dalam amalan. Dan kita tidak mengetahui hakekat istiqamah yang sesungguhnya.
Pembahasan dalam kajian ini terdiri dari lima poin:
1. Makna / arti istiqamah
2. Keutamaan istiqamah
3. Perkara-perkara yang membantu seseorang kepada Istiqamah
4. Hal-hal yang menghalangi seseorang untuk istiqamah
5. Dengan apa kita beristiqamah.
Secara ringkas, hakekat istiqamah adalah tegak dan lurus di atas agama Islam, yang mencakup istiqamah terhadap tauhid, terhadap Al-Qur'an dan Sunnah, terhadap ketaatan, terhadap dakwah, terhadap sabar, dan terhadap taubat dan istigfar. Setiap bagian ini dijelaskan dalam kajian pada file 1 & 2, dan dilanjutkan dengan tanya jawab pada file ke 3.
Kedudukan dan Hakekat Isitqamah 1
Kedudukan dan Hakekat Isitqamah 2
Kedudukan dan Hakekat Isitqamah 3
Sunday, February 22, 2009
Kesempurnaan Islam
- Judul Kajian: Kesempurnaan Islam
- Pemateri: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
- File: 49.36 MB (dalam 3 file MP3 )
- Total Durasi: 3:30:33
- Transkrip: Download Transkrip (32 hal, pdf)
Pembahasan kesempurnaan Islam tentu tidak akan lengkap jika tidak membahas aspek-aspek yang mengurangi kesempurnaannya, yaitu bid’ah. Dalam kajian ini, al-Ustadz memberikan pembahasan dengan dalil yang begitu jelas hingga tidak menyisakan keraguan, bagi orang-orang yang mencari kebenaran. Bahwa Islam itu telah sempurna, dan apa saja yang datang setelah kesempurnaan Islam itu, baik penambahan atau pengurangan akan merusak kesempurnaan Islam itu sendiri.
Pada bagian pertama, dijelaskan mengenai kesempurnaan Islam beserta dalil-dalil yang jelas mengenai kesempurnaan Islam, yang membatalkan seluruh amalan yang diada-adakan, meskipun dengan niat baik, setelah turunnya ayat tentang kesempurnaan Islam dalam surat Al-Ma’idah ayat 3.
Bagian kedua kajian ini membahas mengenai pengantar Ilmu Ushul Bida’ secara ringkas. Dalam kajian ini, dijelaskan beberapa aspek terkait dengan bid’ah, defenisi dan batasan-batasannya, sebab-sebab timbulnya bid’ah, dan lain-lain, dan beberapa aspek lainnya.
File ketiga kajian ini merupakan bagian dari file kedua yang terpotong, (pembahasan no. VIII pada transkrip).
Jazakallah khair kepada seorang teman yang telah memberikan kajian ini pertengahan/akhir tahun 2005 yang lalu. Semoga Allah merahmatimu dimanapun kamu berada.
Kesempurnaan Islam 1
Kesempurnaan Islam 2
Kesempurnaan Islam 3
Wednesday, February 18, 2009
Wanita Pemegang Bara Api

- Judul: Wanita Pemegang Bara Api</li>
- Pemateri: Ustadz Abu Zubair al-Hawary, Lc.
- Sumber: N/A
- File: 18 MB @ 24 kbps mp3
- Durasi: 1:45:02
Di zaman sekarang ini, banyak wanita, kaum Muslimah, yang kehilangan suri tauladan. Betapa banyak diantara kita yang menjadikan orang-orang fasik sebagai contoh dalam kehidupan, atau paling tidak yang paling sering kita baca dan dengar kisahnya, menyebut mereka sebagai bintang. Padahal dari kisah-kisah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, ada banyak tokoh wanita yang patut dijadikan suri tauladan. Merekalah bintang yang sesungguhnya.
Dimana posisi kita dibandingkan dengan Masyitha, wanita tukang sisir puteri Fir’aun, yang tetap teguh menyaksikan anak-anaknya satu persatu dimasak ke dalam minyak panas untuk membuat dirinya berpaling dari tauhid kepada Allah, hingga akhirnya dia dan bayinya beserta seluruh anaknya mati dalam siksaan Fir’aun itu? Pada saat ini, kita hanya sekedar mendengarkan cemoohan orang-orang bodoh dan benci terhadap ajaran Islam, yang mengatakan bahwa mengenakan Jilbab adalah tanda keterbelakangan, kita menjadi malu dan rela menaggalkan hijab dan membuka aurat, padahal kita juga menginginkan surga!
Dimana posisi kita dibandingkan dengan Asiah, sang Ratu isteri Fir’aun, yang rela meninggalkan kedudukannya sebagai wanita utama di dunia, di kerjaan seseorang yang paling berkuasa saat itu, dengan tabah menjalani siksaan yang begitu pedih untuk memeprtahankan aqidahnya, hanya berharap kepada Allah untuk menjadikannya pemilik rumah di Surga. Sedangkan kita pada saat ini, hanya sekedar menampakkan agama dan menjalankan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam pun kita malu, dan bahkan mencemooh orang-orang yang teguh di atas sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Padahal kita juga mengharapkan Surga!
Sungguh, seseorang yang hendak menegakkan agamanya pada hari ini terasa sangat berat. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:
Kajian ini mengajak kita untuk mengenal dan meneladani mereka, wanita penggenggam bara api. Wanita-wanita yang teguh di atas agamanya, meski harus mengorbankan dirinya. Para wanita yang diabadikan dalam sejarah Islam akan ketinggian kedudukannya di sisi Allah, karena keteguhan mereka diatas akidah dan keimanan terhadap Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Wanita Pemegang Bara Api
Monday, February 16, 2009
Dimana Tempat Tinggalmu Nanti...?
- Judul: Dimana Tempat Tinggalmu Nanti?
- Pemateri: Ustadz Abu Zubair al-Hawary, Lc.
- Sumber: Rekaman Kajian Salatiga (anonious)
- File: 23.5 MB MP3
- Durasi: 2:10:53
- Transkrip: N/A
Pernahkah terpikir oleh kita, dimana tempat tinggal kita esok hari? Cepat atau lambat saat itu akan datang pada setiap kita. Setiap kita akan meninggalkan rumah kita yang lapang dan terang benderang, ke liang lahat yang gelap gulita.
Setelah kematian seseorang tidak menempati rumah kecuali yang dahulu dia bangun sebelum dia mati. Jika dahulu dia hidup dia membagun rumah dengan baik dengan keimanan, amal shalih, berpegang teguh kepada agama Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka baik pula lah rumahnya kelak setelah dia mati. Sebaliknya jika dia membangunnya dengan amal keburukan, maksiat, melalaikan agama Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka penyesalan dan kerugianlah yang akan dia hadapi.
”Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS Luqman [31] : 33)
Kajian ini mengajak kita untuk membuka hati sebelum membuka mata dan telinga. Mengajak kita untuk melembutkan hati hingga mudah menerima kebenaran dan istiqamah di atasnya, dan bersiap-siap untuk menempati timpat tinggal kita kelak, cepat atau lambat, sesuatu yang pasti terjadi, kehidupan setelah mati!
Dimana Tempat Tinggalmu Nanti?
Wednesday, February 11, 2009
Manhaj Para Nabi dalam Tazkiyatin Nafs
- Judul: Manhaj Para Nabi dalam Tazkiyatun Nafs
- Pemateri: Ustadz Mubarak Bamualim, Lc.
- Sumber: Assunnah Mine
- Link: N/A
- File: 55 MB mp3
- Durasi: 3:45:50
- Transkrip: Download Transcript
Kajian ini merupakan pembahasan beberapa bab dalam kitab Manhajul Anbiya fi Tazkiyatin Nafs karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilali.
Melalui kajian ini, sebagaimana yang dikemukakan di dalam kitab aslinya, menegaskan bahwa tidak ada cara-cara atau tarikat tertentu dalam tazkiyatun nufus, kecuali bahwa tazkiyatun nufus akan tercapai dengan meraih ketaqwaan melalui pelaksanaan ajaran agama Islam secara keseluruhan dengan dasar ikhlas dan ittiba’ kepada sunnah. Bahwa seluruh amal ibadah akan mensucikan jiwa seseorang dan sebaliknya kemaksiatan akan mengotorinya. Dan bahwa ajaran agama ini secara keseluruhannya membersihkan diri seseorang dari kesyirikan kepada tauhid, dari kemunafikan kepada keikhlasan, dari kekufuran kepada iman, dari bid’ah kepada sunnah. Berbarengan dengan itu, penulis juga membongkar kesesatan tarekat-tarekat yang mengaku melakukan tazkiyatun nafs namun justru menempuh cara-cara yang bertentangan dengan syari’at Islam.
Manhaj Para Nabi dalam Tazkiyatin Nafs A
Manhaj Para Nabi dalam Tazkiyatin Nafs B
Manhaj Para Nabi dalam Tazkiyatin Nafs C
Friday, February 06, 2009
Kisah Cinta yang Paling Indah
- Judul: Kisah Cinta yang Paling Indah
- Pemateri: Ustadz Zubair al-Hawary, Lc.
- File: 1. 11 MB dan 2. 5.8 MB
- Durasi: 1:34:11
Ada banyak kisah cinta fiktif imaginasi manusia yang meraup begitu banyak perhatian sebagaian besar orang. Tidak perduli jika di dalamnya terkandung hal-hal yang condong kepada maksiat, bahkan sampai pada titik sang tokoh fiktif menjadi legenda yang diidolakan. Ada beberapa kisah cinta nyata diantara dua anak cucu Adam yang begitu dieluk-elukkan, meski dalam perjalanannya melanggar norma-norma syariat. Sayangnya, hanya sebagian kecil orang yang mau mengambil pelajaran dari sebuah kisah nyata yang dari sebaik-baik manusia di muka bumi, Rasulullah shallallahu alía wasallam.
Kisah cinta yang terdapat dalam kajian ini sungguh jauh berbeda. Anda tidak diajak memasuki dunia hayalan sebagaimana novel roman picisan yang begitu diminati. Di dalamnya anda akan menemui kisah yang penuh dengan keteladanan, bagaimana cinta yang sesungguhnya.
Kisah Cinta yang Pling Indah 1
Kisah Cinta yang Paling Indah 2



