Showing posts with label Aqidah dan Manhaj. Show all posts
Showing posts with label Aqidah dan Manhaj. Show all posts

Friday, February 05, 2010

Sebab-Sebab Bertambahnya Iman

Ringkasan poin pembahasan dari rekaman kajian:
“Sebab-Sebab Bertambahnya Iman”
Oleh: Syaikh Abdur Razak bin Muhsin Al-Badar




Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إن الإيمان ليخلق في جوف أحدكم كما يخلق الثوب الخلق فاسألوا الله أن يجدد الإيمان في قلوبكم

“Sesungguhnya iman akan hilang dari dalam tubuh seseorang dari kalian sebagaimana usangnya baju. Maka hendaknya kalian meminta kepada Allah agar Allah memperbaharui iman kalian dalam hati-hati kalian.” (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, dan yang lainnya)


Hadits ini adalah hadits yang agung dalam pembahasan tentang keimanan, yang menjelaskan bahwa iman itu bertambah dan berkurang di dalam hati dan anggota badan mengikutinya.

Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam إن الإيمان ليخلق في جوف أحدكم artinya iman itu akan berkurang dan akan sirna sediki demi sedikit dalam tubuh kalian. Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam di akhir hadits mengatakan فاسألوا الله أن يجدد الإيمان في قلوبكم, beliau memberi petunjuk kepada kita agar kita selalu memperbaharui iman kita dengan meminta kepada Allah.

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan dua perkara:
1. Bahwa iman itu akan berkurang sedikit demi sedikit.
2. Bahwa iman itu dapat diperbaharui, dikembangkan atau diperkuat.

Seorang muslim harus mengetahui sebab-sebab yang mengurangi imannya sehingga sirna dari dirinya. Demikian pula iman dapat bertambah. Seorang muslim harus mengetahui sebab-sebab bertambahnya iman sehingga dapat memperkuat imannya.

Perkataan para Salaf tentang iman:
Umar bin Khathab radhiallahu anhu:


هَلُمُّوا نَزْدَدْ إِيمَانًا


“Marilah agar kita dapat menambah keimanan “

Abdullah bin Mas’ud: “


اجلسوا بنا نزدد إيمان

“Marilah duduk bersama kami agar kita dapat menambah keimanan.”


Mu’adz bin Jabal


اجْلِسْ بِنَا نُؤْمِنْ سَاعَةً

“Marilah duduk bersama kami untuk menambah keimanan selama satu jam.” (HR Bukhari)

Abdullah bin Rawaahah:


كَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ يَأْخُذُ بِيَدِ النَّفَرِ مِنْ أَصْحَابِهِ فَيَقُولُ : تَعَالَوْا نُؤْمِنُ سَاعَةً تَعَالَوْا فَلْنَذْكُرَ اللَّهَ وَنَزْدَدْ إيمَانًا ، تَعَالَوْا نَذْكُرُهُ بِطَاعَتِهِ لَعَلَّهُ يَذْكُرُنَا بِمَغْفِرَتِهِ


“Abdullah ibn Rawaahah biasa menggandeng tangan sahabatnya dan berkata, ‘Marilah kita beriman selama satu jam. Marilah kita berdizikir kepada Allah dan menambah keimanan. Marilah kita berdzikir kepada Allah dengan mentaati-Nya semoga Dia mengingat kita dengan mengampuni kita”


Maksud mereka dengan perkataan ini adalah mengajak untuk berkumpul di majelis ilmu untuk mengingat Allah, majelis yang dapat menambah keimanan. Mengingat tentang kebesaran Allah, mengingat tentang halal dan haram, belajar agama Allah, dan lain-lain akan menambah keimanan seseorang dan menghilangkan sifat lalai dari dirinya.


Abu Darda radhiallahu anhu berkata:


، وَمِنْ فِقْه الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ أَيَزْدَادُ هُوَ أَمْ يَنْقصُ .

“Diantara tanda kefakihan seseorang adalah mengetahui imannya bertambah atau berkurang.”


Umair ibn Habib bin Khatmi


حبيب بن خماشة أنه قال : الإيمان يزيد و ينقص
فقيل له : و ما زيادته ؟ و ما نقصانه ؟
قال : إذا ذكرنا الله عزوحل وحمدناه وسبحناه فذلك زيادته و إذا غفلنا و ضيعنا و نسينا فذلك نقصانه



“Iman itu bertambah dan berkurang” Dikatakan kepadanya: “Apa yang manmbahnya dan apa yang menguranginya?” Dia berkata: “Jika kita mengingat Allah dan memuji Allah dan bertasbih kepada Allah itulah bertamahnya keimanan. Dan jika kita lalai dan kita lupa, maka itulah yang mengurangi iman.”


Adapun di antara sebab-sebab bertambahnya iman:
1. Mempelajari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu syariat yang dibangun di atas Al-Qur’an dan Sunnah, bersungguh-sungguh berussaha memahami al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mempelajari tentang halal dan haram, mempelajari hal-hal yang dapat melembutkan hati seseorang, dan lain-lain. Keutamaan menuntut ilmu terdapat dalam banyak nash, diantaranya hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam:

من يرد الله به خيراً يفقهه فى الدين

“Barangsiapa yang Allah menginginkan kebaikan baginya, maka akan dipahamkan akan agamanya.”

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan menuntut ilmu Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga.”

Diantara ilmu yang paling penting adalah membaca dan mempelajari Al-Qur’an, karena dengan mempelajari al-Qur’an akan sangat besar manfaatnya dalam menambah keimanan seseorang. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah petunjuk, pembawa rahmat, obat bagi hati. Allah berfirman:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْآَخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَهُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

“Dan ini (Al Quraan) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quraan) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. “ (QSAl-An’am : 92)

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan Al-Quraan itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. “ (QS Al-An’am : 155)

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ


"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. “ (QS Shaadh : 29)

إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, “ (QS Al-Israa : 9)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. “ (QS Al-Israa : 82)



Ayat2 ini menunjukkan akan keagungan al-Qur’an sebagai kitab yang membawa petunjuk dan membawa kebaikan. Semakin dekat seseorang dengan al-Qur’an, semakin sering mempelajarinya, memahami dan mengamalkannya akan semakin menambah keimanan seseorang.

Allah menyebutkan sifat-sifat orang Mukmin yang sempurna:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. “ (QS Al-Anfaal : 2)


Allah memberikan pemisalan akan keagungan Al-Qur’an”

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآَنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. “ (QSAl-Hasyr : 21)

2. Berusaha mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah subhanahu wata’ala sehingga membuat dia melaksanakan konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah berfriman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Fathir [35] : 28)

Sesungguhnya orang-orang yang berilmu yang merasa takut kepada Allah. Oleh karena itu semakin kenal dan paham seseorang tentang nama-nama Allah dan semakin mengenal akan sifat-sifat-Nya, maka mereka itulah yang senantiasa dekat dan takwa kepada Allah dan semakin tinggi keimanannya kepada Allah. Adapun orang yang tidak mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah, maka akan semakin jauh dia dari Allah dan semakin lemah keimanannya terhadap Allah.

Sebagai contoh jika seorang hamba mengetahui bahwa Allah adalah Esa dalam memberikan kemanfaatan dan kemudharatan. Demikian juga masalah memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Dengan mengetahui ini seseorang akan bertawakkal kepada Allah.

Jika seseorang mengetahui bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan Maha Mengetahui, tidak ada sesuatu sekecil apapun di langit dan di bumi yang luput dari Allah, Allah mengetahui khianatnya pandangan mata, Allah mengetahui apa yang terdapat di dalam hati manusia, maka seseorang akan menjaga pandangannya, menjaga perkataan lisannya, dan menjaga gerak-gerik hatinya, karena semua itu tidak satu pun yang luput dari ilmu Allah. Semua perbuatan yang dilakukan sesuai degan yang diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dia akan berusaha seluruh anggota tubuhnya agar sesuai dengan apa yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikian juga jika seorang hamba mengetahui bahwa Allah Maha Kaya, Maha Baik, Maha Penyayang, maka hal ini akan menumbuhkan pengharapan yang besar kepada dirinya. Hal ini akan mendorongnya untuk semakin memperbanyak ibadah karena besarnya pengharapannya.

Demikian juga jika seorang hamba mengetahui bahwa Allah Maha Sempurna, Maha Indah, maka hal ini akan menimbulkan kerinduan untuk bertemu dengan Rabb-nya, maka hal ini akan menumbuhkan banyak peribadan dalam dirinya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh semiblan nama. Barangsiapa yang menghitungnya maka akan masuk surga.” (HR Bukhari Muslim)

Yang diaksud dengan menghitung adalah menghitung, menghafalkan dan memahami kandungan nama-nama tersebut dan berusaha mengamalkan konsekuensinya.

3. Memperhatikan dan mempelajari sirah Nabawiyah dan faidah-faidah yang diambil dari sirah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sesungguhnya Nabi adalah manusia pilihan yang diutus Allah kepada hamba-hamba-Nya dengan agama yang sempurna dan jalan yang lurus, sebagai rahmat bagi alam semesta, pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa dan hujjah bagi seluruh mahluk.

Dengan sebab beliau Allah memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus. Allah mewajbikan para hamba-Nya untuk taat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, menolongnya, mencintainya, mencitani keluarganya. Bahkan Allah telah menutup pintu-pintu surga, kecuali satu jalan yang ditempuh oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Tidak ada jalan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat kecuali dengan mengikuti jalan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Yang dimaksud di sini bukan sekedar membaca sirah Nabi shallallahu alaihi wasallam yang dapat menambah keimanan. Akan tetapi yang dimaksud adalah membacanya, mengambil teladan pelajaran dari perjalanan hidup beliau, akhlak dan adab beliau shallallahu alaihi wasallam dan berusaha mempraktekkannya.

4. Hendaknya seseorang merenungkan keindahan agama Islam. Sesungguhnya agama islam seluruhnya indah, aqidah Islam adalah aqidah yang paling benar, Aklah islam adalah akhlak yang paling mulia. Demikian pula amalan ibadah, Hukum-hukum islam adalah hukum-hukum yang paling adil. Maka Allah akan menghiasai dirinya dengan iman dan menjadikannya dia semakin cinta kepada keimanan. Allah berfirman mengenai karunia-Nya kepada hamba-hamba pilihanNya yaitu para Sahabat:

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ

“tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu.” (QS Al-Hujarat [49] : 7)


Jika seseorang mengetahui keindahan syariat Islam, keimanan kepada Islam menjadi sesuatu yang dia cintai di dalam dirinya. Dengan demikian akan merasakan manisnya keimanan dalam dirinya.

5. Membaca sejarah para salafus shalih, para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tai’it, orang-orang terbaik dari umat Islam, para pembela Islam yang kaum Muslimin mendapatkan petunjuk melalui jalan mereka. Allah telah memuji para Sahabat di dalam Al-Qur’an:


كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia...” (QS Al-Imran [3] : 110)

Pada sahabat adalah manusia pilihan dari umat manusia, maka mempelajari bagaimana sirah mereka, akhlak mereka, perjuangan mereka dalam membela Islam juga dapat menambah keimanan.

Nabi shallallahu alaihi wasalalm bersabda:

خَيْرُ أُمَّتِي الْقَرْنُ الَّذِينَ بُعِثْتُ فِيهِمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umat adalah generasi yang aku diutus di dalamnya, kemudian setelahnya.” (HR Muslim)

Maka barangsiapa yang menmperhatikan sejarah mereka, maka dia akan mengetahui kebaikan-kebaikan mereka, teladan mereka terhadap Rasulullah, perhatian mereka terhadap keimanan, ketakutan mereka terhadap dosa dan maksiat, keseriusan mereka menjauhkan diri dari riya dan kemunafikan, bagaimana semangat mereka untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berlomba-lombanya dalam melakukan kebaikan. Jika seseorang melihat kondisi mereka yang demikian, maka dia akan berusaha meneladani mereka dengan sebaik-baiknya, maka akan bertambah keimanan sebagaimana bertambahnya keimanan mereka.

6. Memperhatikan kebesaran Allah di alam semesta.
Salah satu sebab yang mudah untuk menambah keimanan seseorang adalah memperhatikan dan merenungkan kebesaran Allah yang terdapat di alam semesta. Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS Al-Iraan [3] : 190)


Dan dalam ayat yang lain Allah berfirman:

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?.” (QS Al-Ghasyiyah [88] : 17-20)


Ayat-ayat ini dan yang semisalnya mengingatkan kita untuk hendaknya memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah untuk menambah keimanan kita.

7. Hendaknya seorang muslim bersungguh-sungguh untuk beramal shalih dengan niat ikhlas kepada Allah Ta’ala dan melakukannya secara berkesinambungan. Karena sesungguhnya setiap amal yang disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’alam jika dikerjakan dengan niat ikhlas karena Allah akan menambah keimanan. Keimanan bertambah seiring dengan bertambahnya ketaatan, dan semakin banyak ibadah akan semakin menambah keimanan seseorang.

Di antara perkara yang bisa menambah keimanan seseorang yaitu berusaha untuk senantiasa bersahabat dengan orang-orang yang shalh, yang bisa mengingatkannya kepada akhirat, bisa membuatnya tidak lalai dari mengingat Allah subhanahu wa ta’ala. Berusaha untuk senantiasa beramar ma’ruf dan nahi mungkar, dan selalu berusaha untuk menjalankan sebab-sebab yang akan mendatangkan bertambahnya iman ke dalam dirinya, dan menjauhkan dirinya dari sebab-sebab yang dapat mengurangi keimanannya.

Silahkan dengan kajian penuh berkah selengkapnya dari Syaikh Abdur Razak bin Muhsin al-Badar dari link berikut. (Sumber Radio Rodja)

Download Sebab-Sebab Bertambahnya Iman

Transkrip
Audio

Thursday, April 09, 2009

Bagaimana Mendakwahi Masyarakat Awam agar Mengikuti Manhaj Salaf


Bagaimana mendakwahi masyarakat awam agar mengikuti salafiyah, manhaj salaf (berislam dengan pemahaman salafus shalih [generasi awal Islam yang shalih] –pent), terutama apabila mereka sebelumnya telah terpengaruh dengan dakwah yang menyimpang?
Oleh: Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al Madkhali


Pertanyaan:
Bagaimana mendakwahi masyarakat awam agar mengikuti salafiyah, manhaj salaf (berislam dengan pemahaman salafus shalih [generasi awal Islam yang shalih] –pent), terutama apabila mereka sebelumnya telah terpengaruh dengan dakwah yang menyimpang?

Jawaban:
Allah telah memberikan kita metode dakwah. Allah berfirman kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)

Oleh karena itu kita berdakwah (mengajak) kepada Allah dengan penuh hikmah. Dengan hikmah, maksudnya adalah dengan ilmu, al-bayan (penjelasan), dan hujjah (dalil). Maka hendaknya engkau berdakwah dengan ilmu, akhlak yang baik, serta dengan rifq dan liin [1]. Ini baik kepada orang-orang awam maupun kepada selain orang awam, akan tetapi orang awam akan lebih mudah menerima dakwah. Dan bisa jadi orang awam tersebut menerima kebenaran tanpa perlu adanya perdebatan. Dan kalau pun pada dirinya terdapat sikap keras kepala atau pengaruh dari pemahaman yang batil, maka bantahlah dia dengan jalan yang baik.

Allah berfirman,

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (*) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”
(Fushsilat: 34-35).

Dan sikap hikmah ini tidaklah dianugerahkan oleh Allah, melainkan hanya kepada orang-orang yang memiliki keberuntungan yang besar.(*)

Catatan Kaki:
[1] Liin dan rifq secara bahasa artinya sama yaitu lawan dari sikap kasar. Makna keduanya secara syar’i pun hampir sama, yaitu adalah lawan dari kekasaran dan mengandung sikap lemah lembut terhadap orang yang ada di sisinya dengan kelembutan ucapan dan perbuatan, serta mengambil perkara yang paling mudah. Tapi keduanya tidaklah mengandung makna berbasa-basi atau bertoleransi terhadap kemaksiatan dan kefasikan. Lihat Al-Liin war Rifq karya DR. Fadhl Ilahi –pent.


Diterjemahkan dari: http://rabee.net/show_fatwa.aspx?id=172
oleh Abu Umar Urwah Al-Bankawy Al Andunisi.
Sumber: CalgaryIslam.Com

Wednesday, November 19, 2008

Hak-hak Tauhid

Hak-hak Tauhid

Oleh: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah


Beruntunglah orang yang mempunyai persepsi yang semestinya terhadap Allah, mengakui kebodohan dirinya, keminiman ilmunya, kekurangan dirinya, keterbatasan haknya dan tindakannya yang aniaya.

Kalaupun Allah menghukumnya karena dosa-dosanya, dia menyadari hal itu sebagai wujud keadilan-Nya, dan jika Allah tidak menghukumnya, maka dia melihat itu sebagai wujud karunia-Nya.

Jika dia mengerjakan suatu kebaikan, maka dia melihatnya sebagai anugerah dari Allah yang dilimpahkan kepadanya. Jika dia menerimanya maka itu merupakan anugerah yang kedua kalinya, dan jika dia menolak, karena yang demikian itu seakan tidak layak baginya.

Jika dia mengerjakan keburukan, maka dia melihatnya sebagai penelantaran Allah terhadap dirinya dan tidak ada penjagaan Allah terhadap dirinya, itupun tetap merupakan cermin keadilan-Nya. Dengan begitu dia bisa melihat bahwa dirinya memang benar-benar membutuhkan Allah karena dia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Kalaupun keburukan itu diampuni, maka itu semata berkat kabaikan dan kemurahan Allah.

Disini adalah inti masalah dan rahasianya, bahwa tidak ada yang dapat melihat Rabb-nya kecuali orang yang berbuat kebaikan, dan tidak ada yang dapat melihat diri sendiri kecuali orang yang berbuat buruk, yang mengabaikan atau berbuat kelewat batas. Orang yang pertama melihat apa yang membuatnya senang berasal dari karunia Rabb dan kebaikan-Nya dan melihat apa yang membuatnya tidak senang, karena berasal dari dosa-dosanya dan itu merupakan keadilan Allah.


Sumber: Mendulang Faidah dari Lautan Ilmu (Muktasar Al-Fawaid), peringkas: Ali bin Hasan Al-Halaby Al-Atsari. Penerbit Al-Kautsar, cetakan VI, 2005.


Sunday, November 02, 2008

Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Ibadah - 4

Catatan dari Daurah Syariyyah Manhajiyah

Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam ibadah
Oleh: Ustadz Mubarak Bamualim, Lc.
Sumber rekaman kajian: http://www.assunnah.mine.nu


Pada bagian terdahulu telah disebutkan bahwa manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam beribadah kepada Allah lillah dan billah. Pada bagian ini kita masuk pada pembahasan yang ketiga, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah beribada fillah – fi syariatillah.


Manhaj yang ketiga: Al-Ibadah Fillah (di atas syariat Allah)

Pada dasarnya ibadah itu tidak dibolehkan kecuali ada perintah dan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, barulah mereka melaksanakan ibadah tersebut

Makna Ahlus Sunnah wal Jama’ah beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan menetapi syariat Allah sesuai dengan ajaran Allah berarti bahwa mereka beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah:

Adapun mereka menyembah kepada Allah Azza wa Jalla fillahi, artinya fi diinillah, yaitu mereka berada diatas agama yang disyariatkan Allah Azza wa Jalla melalui lisan rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Mereka tidak menambah di dalam ibadah itu dan tidak pula mereka menguranginya. Dan demikian mereka beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla di atas agama Allah, diatas syariat Allah, mereka tidak keluar dari syariat itu, tidak dengan menambah atau dengan mengurangi. Oleh sebab itu maka ibadah ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ibadah yang haq, yang bersih dan selamat dari kotoran-kotoran kesyirikan dan kotoran-kotoran bid’ah, karena barangsiapa yang tatkala beribadah bertujuan kepada selain Allah dalam ibadahnya, berarti dia telah menyekutukan Allah dengan sesuatu, dan barangsiapa yang beribadah kepada Allah bukan dengan syariat Allah berarti dia telah mengada-adakan di dalam agama Allah. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayynah [98] : 5)

Maka ibadah mereka kepada Allah semata-mata karena Allah dan di atas syariat Allah mereka tidak pernah menganggap baik apa-apa yang dianggap baik oleh hawa nafsu mereka. Lalu kata beliau, “….bahwa mereka (dalam) beribadah mereka tidak mengada-adakan bid’ah dalam ibadah mereka, mereka tidak menganggap baik apa-apa yang dianggap baik oleh hawa nafsunya dan bukan oleh akalnya. Karena akal yang sehat tidak akan menganggap baik bila seseorang keluar dari syariat Allah.

Intinya bahwa apa yang dianggap baik menurut akal seseorang pada hakekatnya bukan akal yang menganggap baik, akan tetapi hawa nafsunya, karena akal yang sehat tidak akan menganggap baik jika seseorang keluar dari tuntunan Allah dan tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena menetapi syariat Allah merupakan tuntutan bagi akal yang sehat, akal yang benar. Oleh sebab itu Allah subhanahu ta’ala tatkala mencela orang-orang yang mendustakan para Rasul, berfirman: بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَbahkan kebanyakan mereka tidak menggunakan akalnya.

Seandainya kita beribadah kepada Allah dengan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu kita, niscaya kita akan menjadi kelompok-kelompok, yang mana setiap kelompok akan menganggap baik apa yang diinginkannya. Oleh karena itu apabila umat ini telah terpecah dengan masing-masing kelompoknya dalam beribadah kepada Allah zza wa azza wa jalla, maka tentunya tidak mungkin terwujud dalam umat ini apa yang disifatkan oleh Allah dalam firman-Nya:

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS Al-Anbiya [21] : 92)

Realita bahwa umat terpecah-belah diantaranya karena bid’ah-bdi’ah dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Cobalah melihat orang-orang yang beribadah kepada Allah tetapi dengan bid’ah-bid’ah yang mereka ada-adakan, yang tidak pernah diizinkan oleh Allah Azza wa Jalla dan tidak pernah diturunkan bukti ibadah-ibadah itu, bagaimana mereka menjadi kelompok yang banyak. Satu kelompok diantara mereka mengkafirkan kelompok lain, satu kelompok memfasikkan kelompok lain, sementara mereka mengaku sebagai Mu’minun. Yang mana pada hakekatnya kadang-kadang orang tersebut belum keluar dari agama ini, tetapi karena berkelompok-kelompok terpecah belah dalam beribadah kepada Allah, maka terjadi hal tersebut.

Jadi dengan demikian kita mengetahui bahwasanya kita diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk beribadah kepada-Nya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Maka dari itu pada hakekatnya, salah satu konsekuensi seorang yang mengucapkan wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah yaitu ‘tidak menyembah kepada Allah kecuali apa yang disyariatkan oleh Muhammad shallallahu alaihi wasallam.’ Karena itu banyak hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang mencela perbuatan bid’ah, demikian pula beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa bid’ah itu tidak dibenarkan, diantaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat Al-An’am ayat 153.

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) , karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.”

Ini salah satu ayat yang melarang kita beribadah dengan bermacam-macam cara yang tidak pernah diturunkan bukti, dalil dari Allah dan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Adapun tentang hadits-hadits yang dibawakan dalam masalah ini banyak sekali, diantaranya hadits Aisyah radhiallahu anha:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam agama kami yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR Bukhari).

Kemudian dari riwayat yang lain bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak terdapat padanya perkara kami, maka hal itu tertolak.” (HR Muslim)

Kemudian hadits yang kedua bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila beliau berkhotbah senantiasa mengawalinya dengan mengatakan:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru (dibuat-buat dalam agama) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Muslim)

Nabi shallallahu alaihi wasallam senantiasa mengingatkan bahwa sebaik perkataan adalah kalam Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka tidak ada pentunjuk yang lebih baik dari apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Kemudian hadits yang ketiga yaitu hadits Al-Irbad bin Sariyyah, dimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

"Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan berpeganglah kamu dengan kepada sunnah-sunnah itu dengan kuat. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid'ah itu sesat." (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Masih banyak hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menggambarkan bahannya bid’ah dan perintah kepada kaum Mu’minin untuk berpegang teguh kepada sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Ancaman bagi orang-orang yang melakukan bid’ah dalam agama, baik aqidah maupun ibadah, bahwasanya mereka adalah orang-orang yang tidak akan meminum dari telaga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di hari kiamat kelak dan akan dipisahkan dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Ini salah satu ancaman terhadap pelaku bid’ah.

Dari apa yang disampaikan, kita mengambil beberapa pelajaran penting.
  1. Sepatutnya bahkan wajib kepada setiap hamba untuk tetap beriltizam –berpegang teguh – kepada apa-apa yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, baik berupa perkataan, perbuatan atau penetapan, Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah kudwah hasanah, kudwah shalihah bagi mereka yang mengharapkan Allah dan hari akhir.
  2. Diharamkan bagi seorang hamba untuk melaksanakan bid’ah dan mengikuti hawa nafsu, mengikuti ajaran-ajaran yang cenderung kepada hawa nafsu, karena dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah Rasul shallallahu alaihi wasallam dan perkataan para salafus shalih radhiallahu anhum telah banyak yang benar-benar menunjukkan celaan terhadap perbuatan bid’ah itu. Dan dalil-dalil itu juga memberi peringatan dari sikap mendekati kepada bid’ah-bid;ah yang tidak pernah diturunkan oleh Allah azza wa jalla bukti-buktinya.

Saturday, September 13, 2008

Sebab-sebab Istiqamah

بسم الله الرحمن الرحيم

SEBAB-SEBAB ISTIQOMAH DI ATAS AGAMA ALLAH TA'ALA


Oleh: Ustadz Abdullah Taslim, MA. hafidzahullah



Semua orang yang beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan hari kemudian tentu menginginkan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat, terlebih lagi ketika dia mendapati kenyataan akan rusaknya kondisi umat manusia di masa sekarang ini, ditambah lagi dengan tersedianya berbagai macam fasilitas dan sarana yang mendukung kerusakan-kerusakan tersebut. Hal ini sebagaimana yng digambarkan oleh Nabi kita shallallahu alaihi wasallam tentang dasyatnya fitnah-fitnah dan kerusakan yang akan muncul secara silih berganti di akhir zaman dalam sabda beliau shallallahu alaihi wasallam:

"Bersegeralah kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (sholeh) sebelum munculnya berbagai macam fitnah (kerusakan/penyimpangan dalam agama) yang (gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga) ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia". ( HR Muslim)

Maka berdasarkan kenyataan tersebut, seorang muslim yang hidup di zaman ini wajib mempelajari dan mengetahui sebab-sebab yang bisa membantunya –dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla - untuk tetap teguh dan istiqomah di atas agama Allah ‘Azza wa Jalla sampai dia dipanggil menghadap-Nya.

Dalam al Qur'an dan dan Hadist-hadist yang shahih Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam telah menjelaskan sebab-sebab tersebut, dan kami akan sebutkan dalam makalah ini beberapa sebab penting diantara sebab-sebab tersebut sbb:

1. Memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاءُ

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan 'ucapan yang teguh' dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki" (Q.S. Ibrahim:27).

Makna 'ucapan yang teguh' dalam ayat ini adalah dua kalimat syahadat yang difahami dan diamalkan dengan benar, sebagaimana yang ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam kitab shahihnya (jilid 4, hal 1735):

باب يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت 4422 حدثنا أبو الوليد حدثنا شعبة قال أخبرني علقمة بن مرثد قال سمعت سعد بن عبيدة عن البراء بن عازب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ثم المسلم إذا سئل في القبر يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله فذلك قوله يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة

Dari Baro' bin 'Azib radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "seorang muslim ketika dia ditanya (diuji) di dalam kuburnya (oleh malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa 'tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah' dan 'Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah utusan Allah', itulah makna Firman-Nya: "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat".

2. Membaca Al Qur'an dengan menghayati dan merenungkannya

Al Qur'an adalah sumber peneguh iman yang paling utama bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah:

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

"Katakanlah: 'Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepda Allah)"(An Nahl:102)

Allah ‘Azza wa Jalla telah menjelaskan dalam Al Qur'an bahwa tujuan diturunkannya Al Qur'an secara berangsur-angsur adalah untuk menguatkan dan meneguhkan hati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلاً

"Berkatalah orang-orang yang kafir: mengapa Al Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)" (Q.S. Al Furqon:32).

3. Berkumpul dan bergaul bersama orang-orang yang bisa membantu meneguhkan iman.

Allah menyatakan dalam Al Qur'an bahwa salah satu diantara sebab utama yang membantu menguatkan iman para shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah keberadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditengah-tengah mereka. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَن يَعْتَصِم بِاللّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

"Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nyapun berada ditengah-tengah kalian? Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus" (Q.S. Ali 'Imran:101).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur)" (Q.S. At Taubah:119).

Dalam sebuah hadist yang hasan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إن من الناس ناسا مفاتيح للخير ومغاليق للشر

"Sesungguhnya di antara manusia ada orang-orang yang keberadaan mereka sebagai pembuka (pintu) kebaikan dan penutup (pintu) kejelekan" (Hadist hasan riwayat Ibnu Majah dalam kitab "Sunan" (jld 1, hal. 86) dan Al Baihaqi dalam "Syu'abul Iman" (jld 1, hal. 455) dan Imam-imam lainnya, dan dihasankan oleh Syekh Al Albani).

4. Berdo'a kepada Allah

Dalam Al Qur'an Allah ‘Azza wa Jalla memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdo'a kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman ketika menghadapi ujian. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُواْ لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَمَا ضَعُفُواْ وَمَا اسْتَكَانُواْ وَاللّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلاَّ أَن قَالُواْ ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِي فَآتَاهُمُ اللّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الآخِرَةِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang sabar. Tidak ada do'a mereka selain ucapan: 'Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir'. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan" (Ali 'Imran:146-148).

Dalam ayat lain Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

"Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir" (Al Baqarah:250)

5. Membaca kisah-kisah para Nabi dan Rasul shallallahu alaihi wasallam serta orang-orang shalih yang terdahulu untuk mengambil suri teladan.

Dalam Al Qur'an banyak diceritakan kisah-kisah para Nabi, rasul, dan orang-orang yang beriman yang terdahulu, yang Allah jadikan untuk meneguhkan hati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan mengambil teladan dari kisah-kisah tersebut ketika menghadapi permusuhan orang-orang kafir. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَكُـلاًّ نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاء الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءكَ فِي هَـذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

"Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." (QS Huud : 120)

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلىِ آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة, والحمد لله رب العالمين.

Sunday, August 10, 2008

Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Ibadah - 3

Catatan dari Daurah Syariyyah Manhajiyah

Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam ibadah
(bagian ketiga)
Oleh: Ustadz Mubarak Bamualim, Lc.
Sumber rekaman kajian: http://www.assunnah.mine.nu


Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam beribadah adalah billahi (karena pertolongan Allah)

Berkata Syaikh Utsaimin rahimahullah, “Adapun mereka beribadah semata-mata dengan pertolongan Allah, yaitu mereka memohon pertolongan kepada Allah. Mereka tidak bangga dengan diri sendiri dan mereka tidak pula beranggapan bahwasanya mereka tatkala beribadah kepada Allah Azza wa Jalla terlepas dari pertolongan Allah.

Mereka yakin sepenuhnya bahwa mereka beribadah semata-mata karena pertolongan dari Allah, kalau bukan pertolongan Allah mereka tidak akan mampu beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Mereka benar-benar mewujudkan firman Allah: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” – artinya bahwa mereka tatkala beribadah kepada Allah semata meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah makna beribadah ‘billah’. Mereka menyadari kelemahannya, dan menyadari bahwa mereka tidak mungkin dapat beribadah kepada Allah kecuali dengan pertolongan Allah Azza wa Jalla.

Banyak kaum Muslimin yang mengetahui wajibnya shalat, wajibnya zakat, wajibnya puasa, wajibnya haji dan ibadah-ibadah lainnya, tetapi mereka tidak melakukannya. Mengapa demikian? Karena mereka tidak mendapat pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka Ashlus Sunnah wal Jama’ah benar-benar menyadari bahwa mereka tidak akan mungkin beribadah tanpa pertolongan – taufik – dan digerakkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam sebuah hadits shahih Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

“Seorang Mu’min yang kuit itu adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang Mu’min yang lemah. Namun pada keduanya ada kebaikan.”

Pada keduanya terdapat kebaikan karena keduanya memiliki keimanan. Hanya saja yang satu lebih kuat agamanya, kuat ilmunya, kuat imannya, kuat ibadahnya dan seterusnya, sedangkan yang satu lagi lemah. Oleh karena itu dia lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah.

Kemudian lanjutan dari hadits tadi:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Bersungguh-sungguhlah kamu dalam melakukan apa- yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah.”

Jadi tatkala Nabi memerintahkan demikian, karena engkau tidak dapat melaksanakan apa-apa yang bermanfaat bagimu tanpa pertolongan dari Allah Subhahanhu wa Ta’ala. Kemudian lanjuta hadits tersebut:

وَلَا تَعْجَزْ

“Dan jangan kamu lemah”1) Ini pun merupakan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.


________________
Catatan kaki:
[1] HR Muslim dari Abu Hurairah.

Saturday, August 09, 2008

Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Ibadah -2

Catatan dari Daurah Syariyyah Manhajiyah

Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam ibadah
(bagian kedua)
Oleh: Ustadz Mubarak Bamualim, Lc.
Sumber rekaman kajian: http://www.assunnah.mine.nu


Hakikat Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama;ah dalam beribadah.


Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam ibadah, yaitu mereka menyembah Allah lillaih (karena Allah), billah (dengan pertolongan Allah)i, fillahi (di atas syariat Allah).

Lillahi; yaitu mereka ikhlas kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam beribadah kepada Allah, tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu.

Dalilnya, diantaranya adalah firman Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayynah [98] : 5)

Jadi agama yang lurus adalah agama yang memerintahkan kepada keikhlasan di dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Maka setiap agama yang mengajarkan kesyirikan, maka dia bukan agama yang qayyimah (lurus).

Agama yang qayyimah adalah agama yang memerintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan shalat, karena shalat adalah bagian dari ibadah. Sehingga penyebutan ibadah shalat setelah perintah menyembah Allah dengan ikhlas dan menegakkan shalat, menunjukkan betapa pentingnya shalat sebagai salah satu wujud peribadatan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan di dalam ayat ini Allah menyebutkan tentang hubungan antara seorang hamba dengan Allah Ta’ala, tatkala Allah memerintahkan untuk shalat. Kemudian Allah menyebutkan bahwa mereka diperintahkan untuk menunaikan zakat, ini adalah bagaimana Allah memerintahkan manusia untuk menjaga hubungan dengan sesama manusia.

Jadi agama yang qayyimah yang mengajarkan tauhid, mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah, kemudian menegakkan shalat yang menjaga hubungan hamba dengan Sang Khalik, kemudian yang mengeluarkan zakat, yang memelihara hubungan manusia dengan manusia.

Allah memerintahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk ikhlas dalam beribadah, sebagaimana firman-Nya:

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya.” (QS Az-Zumar [39] : 2)

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS Az-Zumar [39] : 3)

Peribadatan yang murni itulah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun peribadatan yang tidak murni, yang dicampur dengan riya, dengan kesyirikan dan dengan kotoran-kotoran lainnya, semua itu bukan milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berkata:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Aku paling tidak butuh sukutu. Maka barangsiapa yang melakukan amalan yang mempersekutukan Aku dan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.” (HR Muslim)

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (QS Al-An’am [6] : 162-163)

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS Al-Mulk [67] : 2)

Dalam menafsirkan ayat ini, Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: Yang dimaksud dengan لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً – “siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” adalah yang paling murni (ikhlas) dan yang paling benar. Ditanyakan kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan amal yang paling murni dan palin benar?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya amal ibadah itu apabila dia murni artinya diikhlaskan semata-mata karena Allah, namun dia tidak benar, maka tidak diterima amal itu. Dan apabila amal itu benar tetapi tidak ikhlas tidak murni kepada Allah Ta’ala, maka amal itu tidak diterima oleh Allah Azza wa Jalla. Sehngga amal itu benar-benar murni (ikhlas) dan dilaksanakan dengan benar. Dikatakan murni apabila amal itu dilaksanakan semata-mata karena Allah, dan dikatakan benar tatkala amal itu dilaksanakan benar-benar sesuai dengan sunnah, tuntunan, ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Kemudian beliau membaca:

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".(QS Al-Kahfr [18] : 110)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits shahih:

“Ada tiga hal yang hati seorang Muslim tidak akan dengki. Yaitu mengikhlaskan amal ibadah semata-mata karena Allah, dan memberi nasihat kepada para pemimpin, dan menetapi jama’ah kaum Muslimin.” (HR Tirmidzi)

Ada tiga sebab mengapa Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk ikhlas beribadah hanya kepada Allah:
1. Ikhlas merupakan syarat diterimanya ibadah seseorang.
2. Ikhlas merupakan ruh amal perbuatan. IItulah sebabnya amal ibadah yang tidak ikhlas kepada Allah layaknya jasad mati yang tidak berkembang, karena tidak diterima oleh Allah Azza wa Jalla.
3. Apabila seseorang tidak ikhlas dalam beramal kepada Allah, maka apa yang diupayakan akan tertolak, akan dijadikan ibarat debu yang berterbangan.

Ikhlas merupakan amal hati yang paling penting dan tidak mudah. Oleh karena itu keikhlasan ini seseorang harus melawan dirinya sendiri (jihadun nafs).

Adapun beberapa defisini ikhlas oleh para ulama:

Ikhlas adalah seorang hamba tatkala beribadah, beramal, dia hanya menghendaki untuk mendekatkan diri kepada Allah semata.

Ikhlas yaitu mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam tujuan melaksanakan ketaatan.

Ikhlas yaitu kesamaan amal-amal seorang hamba antara yang dzahir dan yang batin. Yakni apa yang ditampakkan sama dengan apa yang disembunyikan. Lalu dilanjutkan dengan definisi riya, yaitu tatkala dzahir seorang hamba lebih baik dari batinnya. Jadi apa yang tampak pada seseorang lebih baik daripada apa yang disembunyikan.

Dan kebenaran dalam keikhlasan adalah tatkala batin seseorang yang tersembunyi lebih makmur daripada dzahirnya – tatkala apa yang disembunyikan lebih baik daripada apa yang ditampakannya.

Ada juga yang mengatakan yang dimaksudkan dengan ikhlas adalah memurnikan amal ibadah dari segala sesuatu yang mengotorinya.

Ada banyak hal yang dapat mengotori ibadah:
- riya; beribadah agar dilihat orang,
- sum’ah; beribadah agar didengar orang;
- beribadah karena tujuan dunia, agar mendapatkan kedudukan terpandang atau sebagai pemimpin.

Adapun definisi yang menyeluruh tentang ikhlas: “Memalingkan seluruh amal ibadah dan mendekatkan diri dengan amal ibadah itu hanya kepada Allah. Bukan untuk dilihat lalu dipuji orang (riya(, bukan untuk didengar lalu dipuji orang (sum’a) dan tidak pula untuk mendapatkan kepentingan-kepentingan duniawi yang akan lenyap, dan bukan pula beribadah dengan dibuat-buat oleh seseorang, akan tetapi dia mengharapkan pahala dari Allah dan takut kepada adzab Allah, dan dia hanya mengharapkan keridhaan Allah subhanahu wata’ala.

Al Qadhi Iyadh berkata: “Meninggalkan suatu amal karena manusia adalah riya dan melakukan amal perbuatan karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah tatkala Allah menyelematkanmu dari keduanya.”

Monday, July 28, 2008

Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Ibadah - 1

Catatan dari Daurah Syariyyah Manhajiyah

Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam ibadah
(bagian pertama)

Pemateri: Ustadz Mubarak Bamualim, Lc.
Sumber rekaman kajian: http://www.assunnah.mine.nu


Hakikat dan Makna Ibadah

Ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang ibadah dan perintah untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla sangat banyak. Bahkan tujuan Allah menciptakan manusia dan jin adalah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman Allah dalam ayat berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyaat [51] : 56)<


Kemudian Allah menerangkan bahwasanya peribadatan yang mereka lakukan itu manfaatnya tidak kembali kepada Allah tetapi akan kembali kepada mereka. Sebagaimana kemudian Allah berfirman:

مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

“Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.”

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.”(QS Adz-Dzariyaat [51] : 56-58)

Oleh sebab itu tatkala Allah memerintahkan manusia untuk beribadah kepada-Nya Allah menyebutkan suatu pendorong mengapa mereka diperintahkan untuk beribadah, Allah menyadarkan mereka bahwasanya mereka beribadah kepada Allah swt sebagai wujud kesyukuran mereka kepada Allah yang telah menciptakan mereka.

Di dalam surat Al-Baqarah Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,” (QS Al-Baqarah [2] : 21)

Kata-kata manusia (sekalian manusia) mencakup seluruh manusia, yang kafir maupun yang mukmin, laki-laki maupun perempuan, orang merdeka maupun budak, seluruh yang namanya manusia diseru oleh Allah azza wa jalla untuk beribadah menyembah-Nya.

Yang telah menciptakan kamu maksudnya dari tidak ada menjadi ada.

Salah satu tujuan beribadah kepada Allah agar menjadi manusia-manusia yang bertakwa kepada Allah.

Kemudian misi ibadah ini adalah misi yang dibawa oleh seluruh rasul-rasul Allah. Karena memang Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada Allah aza wa jalla, lalu mereka dipalingkan oleh syaithan. Lalu karena rahmat Allah dan kasih-sayang-Nya, Allah mengutus para Rasul kepada umat, kepada suatu kaum, agar mengingatkan manusia tujuan dari mereka diciptakan oleh Allah aza wa jalla. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu",” (QS An-Nahl [16] : 36)


Di dalam surat Al-Anbiya ayat 25 Allah berfirman tentang perutusannya kepada manusia tatkala Dia mengutus para rasul:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".” (QS Al-Anbiya [21] : 25)

Kemudian setelah secara umum Allah mengabarkan kepada kita tentang misi Allah tatkala mengutus seluruh rasul-rasul-Nya, lalu kemudian diterangkan pula oleh Allah satu persatu rasul-rasul itu, dimana Allah mengatakan tentang kisah Nabi Nuh alaihis salam ketika dia menyeru kaumnya:

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih", Nuh berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan ta'atlah kepadaku,” (QS Nuh [71] : 1-3)

Demikian pula kepada Nabi Hud alaihis salam kepada kaum ‘Ad, dimana beliau berseru kepada kaumnya, sebagaimana difirmankan oleh Allah:

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوداً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya ?" (QS Al-A’raf [7] : 65)

Kemudian kepada kaum Tsamud Allah mengutus saudara mereka Saleh alaihis salam untuk memberi peringatan kepada kaumnya agar menyembah hanya kepada Allah, Allah berfirman:

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحاً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS Al-A’raf [7] : 73)

Kemudian kepada Nabi Syuaib alahis salam, Allah berfirman:

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْباً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS Al-A’raf [7] : 85)

Kemudian juga kepada Nabi Ibrahim alaihis salam. Allah mengisahkan bagaimana beliau berupaya menegakkan tauhid:

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya.” (QS Al-Ankabut [29] : 16)

Kemudian juga kepada Isa bin Maryam, sebagaimana dikisahkan Allah dalam surat Al-Imran:

إِنَّ اللّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَـذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ

“Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus".” (QS Al-Imran [3] : 51)

Juga kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Allah berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ

“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quraan) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya.: (QS Az-Zumar [39] : 2)

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS Al-Hijr [15] : 99)

Lalu kepada orang-orang Mukminin Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS Al-Hajj [22] : 77)

Dengan demikian, bahwa dari apa yang kita dengar Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepada seluruh nabi-nabi-Nya untuk memerintahkan kepada kaumnya untuk menyembah Allah azza wa jalla. Adapun nama nabi-nabi yang tidak disebutkan disini, sudah terwakili dalam surat An-Nahl (36) dan Al-Anbiya (25).

Dengan demikian kita mengetahui bahwasanya ibadah adalah memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan seorang manusia bahkan menjadi tujuan tatkala dia diciptakan oleh Allah azza wa jalla, yaitu untuk beribadah kepada Allah azza wa jalla.

Makna Ibadah

Disebutkan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, dalam kitabnya Al-Ubudiyah, bahwa asal dasar makna ibada adalah ‘kehinaan’ atau ‘menghinakan diri’. Makanya dikatakan, At-Tariq Al-Mu’abbad’ – jalan yang terinjak-injak – jika jalan itu telah ditakluk atau telah dikenal oleh manusia.

Dalam menjelaskan tentang makna ibadah secara syar’i, kata beliau rahimahullah bahwa al-ibadah adalah ‘ismun jami’un li kulli ma yuhibbuhullahu wa yardha minal aqwali wal af’ali adzahirati wal baathinati’ – bahwa ibadah artinya sebuah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan diridhai-Nya baik berupa perkataan-perkataan ataupun perbuatan-perbuatan yang tampak maupun yang tersembunyi.

Syaikhul Islam memerikan contoh – Dengan demikian bahwasanya shalat, zakat, puasa, haji, mengucapkan perkataan yang benar, melaksanakan amanah, berbakti kepada kedua orang tua, bersilaturahim - menjalin hubungan kekereabatan, menepati janji, memerintahkan kepada yang ma’ruf mencegah dari kemungkaran, berjihad melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan berbuat baik kepada tetangga dan kepada anak yatim, orang miskin, musyafir, budak, manusia dan binatang, berdoa kepada Allah, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan yang semisal dengan itu adalah merupakan ibadah.

Kemudian kata beliau – demikian pula cinta kepada Allah dan kepada rasul-Nya, rasa takut kepada Allah, dan kembali kepada Allah, dan mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah, bersabar terhadap keputusan Allah, mensyukuri nikmat Allah, ridha kepada putusan-Nya, dan bertawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, dan takut kepada adzab-Nya, semua itu merupakan ibadah kepada Allah.

Inilah makna ibadah.

Dengan demikian kata Syaikhul Islam, agama semuanya adalah ibadah. Lalu beliau membawakan dalil dari hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dimana Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab pertanyaan malaikat Jibril ketika menyamar menjadi manusia, tentang Islam, Iman dan Ihsan. Lalu pada akhir hadits ini ketika ditanya oleh Umar radhiallahu anhu mengenai orang itu, beliau bersabda; “Ia Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR Bukhari Muslim).

Dengan demikian maka agama seluruhnya adalah ibadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Disebutkan oleh Syaikhul Islam, dua kriteria yang harus dimiliki oleh ibadah ini, yaitu tatkala seorang hamba beribadah kepada Allah harus ada di dalam iabadah puncak kehinaan dalam dirinya di hadapan Allah Azza wa Jalla, dan yang kedua harus memiliki puncak kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla.

Pertanyaan yang patut diajukan kepada diri kita masing-masing, sudahkah kita memiliki kedua hal ini, puncak kehinaan di hadapan Allah dan puncak kecintaan kepada Allah ketika beribadah? Kitalah yang masing-masing harus menjawab kepada diri kita sendiri.

Ubudiyah terdiri dari dua macam:

1. Ubudiyah ammah (bersifat umum)
2. Ubudiyah khassah (bersifat khusus)

Tatkala seorang hamba telah mengenal Allah sebagai Rabbnya dan mengakui sebagai Tuhan yang menciptakannya, dan mengetahui bahwa dia butuh kepada Allah, memerlukan Allah, ini berarti hamba itu telah mengenal Rububiyah Allah. Maka suatu saat dia meminta kepada Allah, tunduk kepada Allah, tawakal kepada Allah, pasrah kepada Allah. Tetapi kadang-kadang dia taat kepada Allah, kadang-kadang dia tidak taat kepada Allah, kadang-kadang dia menyembah Allah, kadang-kadang dia menyembah Allah bersamaan dengan itu dia menyembah syaithan, patung, atau yang lainnya. Ubudiyah ini namanya ubudiyah ammah (secara umum) yang mana tidak membedakan antara ahlun naar dan ahlul jannah, karena orang-orang yang masuk neraka pun mengakui Allah sebagai Penciptanya. Inilah yang merupakan Tauhid Rububiyah. Seorang hamba kafir pun, mau tidak mau, ridha atau tidak ridha, mengakui atau tidak mengakui, dia adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala. Itulah sebabnya kadang-kadang mereka menyebah Allah, terkadang mereka menyembah patung-patung, tetapi mereka mengakui bahwa Allah lah yang menciptakan, yang mengatur, yang memberi rezki, Allah yang menghidupkan dan Allah yang mematikan.

Ubudiyah ini tidak terpuji, tidak menjadikan seorang sebagai seorang Mukmin kepada Allah Azza wa Jalla. Orang yang berbuat demikian tetap sebagai seorang ‘abdun’ –seorang hamba. Abdun bermakna dua: Abdun yang bermakna muabbad, adalah seorang yang diperhambakan oleh Allah, diakui atau tidak, dia mengetahui atau tidak dia adalah hamba Allah Azza wa Jalla.

Adapun Abdun yang bermakna abid, adalah seorang yang benar-benar menyebah Allah Azza wa Jalla dengan pilihannya. Inilah yang dimaksud ubudiyah khassah. Karena ubudiyah khassah inilah Allah mengutus para rasul kepada hamba-hamba-Nya agar menyembah Allah dengan kesadaran mereka. Setelah mereka meyakini Allah adalah Tuhan mereka Yang Menciptakan mereka, Yang Memberikan rezki, Yang Mengatur, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, kemudian mereka menyembah Allah dengan kesadaran mereka, keterpanggilan dari hati-hati mereka. Dan ini yang berkaitan dengan Tauhid Uluhiyah. Inilah ubudiyah yang terpuji, yang mendapatkan ganjaran oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan pahala karena beribadah dengan kesadaran mereka, dengan ikhtiar mereka, mereka sadar bahwa mereka mempunyai kewajiban kepada Allah yaitu menyembah Allah Azza wa Jalla. Inilah yang memisahkan mereka dari penghuni neraka.

Inilah misi yang dibawa oleh para rasul, agar manusia mengetahui bahwa mereka mempunyai tugas yang khusus di dunia ini, yaitu menyembah kepada Allah Azza wa Jalla.

bersambunng...

Wednesday, April 23, 2008

Inilah Seruan Kami (2)

Hadzihi Da’watuna
This is Our Call
Oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Sumber: http://www.al-ibaanah.com


Saya akan memberikan contoh untuk menjelaskan perkara ini –perkara penting ini, yakni mengikuti manhaj Salafush Shaleh. Ada pernyataan yang dikeluarkan oleh Al-Faruq Umar bin Khaththab radhiallahu anhu, dimana dia berkata: “Jika ahlul bid’ah mendebatmu dengan Al-Qur’an, maka debatlah dia dengan As-Sunnah…

Apa yang menyebabkan Umar radhiallahu anhu membuat pernyataan seperti itu? Hal tersebut karena firman Allah, dimana Dia berfirman kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu (wahai Muhammad) menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,” (QS An-Nahl : 44)

Apakah seorang Muslim, yang dengan penguasaan bahasa Arab yang baik, mengetahui kaidah dan tata bahasanya, apakah orang ini mampu memahami Al-Qur’an tanpa menggunakan jalan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Jawabannya adalah tidak. Dan jika tidak demikian, maka firman Allah: “agar kamu (wahai Muhammad) menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka” tidak akan mempunyai arti apa-apa. Dan firman Allah tidak ada satupun yang tidak mempunyai arti di dalamnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berusaha memahami Al-Qur’an melalui jalan selain jalan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka dia telah tersesat jauh.

Lebih jauh, apakah orang yang sama (yang disebutkan di atas) dapat memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan jalan selain jalan para Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Jawabannya pun tidak. Hal ini karena merekalah (para Sahabat) yang menyampaikan kepada kita, pertama-tama, lafazh Al-Qur’an, yang Allah wahyukan ke dalam dada (hati) Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dan kedua, mereka menyampaikan kepada kita penjelasan Nabi shallallahu alaihi wasallam (tentang Al-Qur’an), yang telah disebutkan dalam ayat terdahulu, sebagaimana penerapan beliau shallallahu alaihi wasallam atas Al-Qur’an yang mulia.

Penjelasan Nabi shallallahu alaihi wasallam (mengenai Al-Qur’an) dapat dibagi ke dalam tiga kategori: 1) Perkataan, 2) Perbuatan, dan 3) Persetujuan (dengan diam). Siapakah yang menyampaikan perkataan beliau shallallahu alaihi wasallam? Para sahabatnya. Siapakah yang menyampaikan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wasallam? Para sahabatnya. Siapakah yang menyampaikan persetujuan (diamnya) Nabi shallallahu alaihi wasallam? Para sahabatnya. Maka oleh sebab itu, tidak mungkin bagi kita untuk bergantung hanya kepada kemampuan berbahasa dalam memahami Al-Qur’an. Bahkan kita harus mencari pertolongan dalam memahami Al-Qur’an. Namun ini bukan berarti kita tidak membutuhkan bahasa Arab dalam perkara ini, tidak demikian.

Bahkan, untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah, seseorang harus menguasai Bahasa Arab. Maka kami katakan bahwa penjelasan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang disebutkan dalam ayat terdahulu, dibagi ke dalam tiga kategori, perkataan, perbuatan dan diam tanda setuju. Kami akan memberikan contoh, untuk memahami bahwa pembagian ini adalah fakta yang telah tegak dan tidak dapat diperselisihkan, Allah berfirman:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya…” (QS Al-Ma’idah : 38)

Perhatikan sekarang bagaimana hal ini tidak mungkin bagi kita menerangkan Al-Qur’an berdasarkan bahasa Arab saja. Pencuri menurut bahasa adalah seseorang yang mencuri benda dari tempat yang terlarang, tidak perduli apakah benda tersebut merupakan barang berharga atau tidak. Misalnya seseorang mencuri sebutir telur atau sepotong roti – ini menurut bahasa (Arab) adalah pencuri. Allah berfirman: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya” Apakah setiap orang yang mencuri harus dipotong tangannya? Jawabannya adalah tidak. Mengapa? Karena orang yang menerangkannya, yang bertanggungjawab menjelaskan apa yang harus dijelaskan telah mengabarkan kepada kita (mengenai) mereka diantara para pencuri yang tangannya harus dipotong. Yang menjelaskan adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan yang dijelaskan adalah Al-Qur’an. Beliau shallallahu alaihi wasallam berkata, “Tidak memotong tangan kecuali untuk (mereka yang mencuri) seperempat dinar dan yang lebih dari itu.” (Mutafaq alaihi).

Jadi setiap orang yang mencuri kurang dari seperempat dinar, meskipun dalam bahasa dia disebut pencuri, dia tidak dianggap sebagai pencuri menurut definisi agama. Maka disini, kita tiba pada kenyataan berdasarkan keilmuan, yang tidak disadari oleh banyak penuntut ilmu. Di satu sisi, kita memiliki bahasa Arab, yang telah didapatkan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Dan pada sisi lain, kita memiliki bahasa agama, yang Allah sendiri yang menentukan batasan dan definisinya, yang orang-orang Arab – yang berbicara dengan bahasa Al-Qur’an (yakni bahasa Arab), yang Al-Qur’an diturunkan dengannya – tidak menyadari sebelumnya. Maka jika pencuri diterapkan menurut bahasa (Arab), itu mencakup semua pencuri. Namun bila pencuri disebutkan menurut batasan agama, maka tidak semua pencuri termasuk di dalamnya, namun hanya mereka yang mencuri apa yang setara dengan seperempat dinar dan yang lebih dari itu.

Inilah contoh yang nyata – tidak mungkin bagi kita untuk bergantung semata-mata pada kemampuan berbahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ini kesalahan yang mana banyak penulis kontemporer sekarang ini jatuh ke dalamnya. Mereka menempatkan pengetahuan bahasa Arab mereka atas ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits nabawiyah. Maka mereka menakwilkan nash-nash agama dan memunculkan penakwilan-penakwilan bid’ah, yang kaum Muslimin tidak pernah mendengarnya di masa lalu.

Oleh karena itu, kami katakan, adalah kewajiban untuk memahami bahwa dakwah yang benar kepada Islam berdasarkan tiga prinsip pokok, yakni 1) Al-Qur’an, 2) As-Sunnah, dan 3) pemahaman Salafus Shaleh. Oleh karena itu, ayat “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya” tidak dapat ditafsirkan menurut pengertian bahasa, namun menurut pengertian yang diwajibkan dalam bahasa agama, yang menyatakan “Tidak memotong tangan kecuali untuk (mereka yang mencuri) seperempat dinar dan yang lebih dari itu.”

Bagian akhir ayat tadi menyatakan “potonglah tangan keduanya.” Apa arti tangan menurut bahasa? Semua ini dianggap sebagai tangan – dari ujung jari sampai dengan ketiak – semua ini adalah tangan. Lalu apakah tangan yang dipotong dari sini sampai ke sini atau dari sini sampai ke sini? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita dengan perbuatannya (yakni memotong hingga pergelangan tangan). Kita tidak memiliki hadits shahih – seperti hadits yang menegaskan yang mana diantara para pencuri yang tangannya harus dipotong – kita tidak mempunyai hadits yang secara jelas mendefinisikan tempat dari mana seharusnya kita memotong, dari penjelasan Rasulullah melalui perkataannya. Sebaliknya, telah disampaikan penjelasan beliau melalui perbuatan – penerapan secara fisik. Bagaimana kita mengetahui penerapan beliau tersebut? Dari para Salafush Shaleh – para Sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Inilah kategori kedua, yakni penjelasan dengan perbuatan.

Kategori ketiga adalah persetujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terhadap sesuatu, yang tidak ditolak atau diingkarinya. Persetujuan ini bukan perkataan dan bukan perbuatan dari beliau, namun ini adalah perbuatan yang datang dari orang lain, yang beliau shallallahu alaihi wasallam lihat dan menyetujuinya. Maka apabila Nabi shallallahu alaihi wasallam melihat sesuatu dan mendiamkannya, menyetujuinya, maka hal itu disetujui dan dibolehkan. Namun jika dia melihat sesuatu dan menolaknya, meskipun hal tersebut dilakukan oleh para Sahabat, namun telah jelas dalam hadits shahih bahwa beliau melarangnya, maka larangan ini lebih didahulukan daripada persetujuannya. Saya akan memberikan contoh untuk kedua hal ini, berdasarkan hadits, Abdullah bin Umar Al-Khaththab radhiallahu anhu berkata: “Kami biasa minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan selama masa kehidupan Nabi shallallahu alaihi wasallam.”

Di dalam hadits ini, Abdullah telah mengabarkan kepada kita dua hal: 1) Minum sambil berdiri, dan 2) Makan sambil berjalan. Dan dia mengatakan bahwa kedua hal ini dilakukan pada masa Nabi shallallahu alaihi wasallam. Lalu bagaimana kaidah agama mengenai kedua hal ini: minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan?

Jika kita menerapkan point yang telah kita sebutkan, kita dapat mengambil kaidah – tentu saja – dengan tambahan yang dibutuhkan untuk hal tersebut, dimana seseorang mengetahui tentang hal-hal yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melarangnya, dengan perkataan, perbuatan dan (diam) persetujuan. Maka jika kita kembali kepada sunnah yang shahih, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perkara pertama (minum sambil berdiri), yang banyak – jika tidak sebagian besar – dilakukan oleh orang-orang Muslim sekarang ini. Dan hal tersebut bertentangan dengan perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan minum sambil berdiri. Mereka minum ketika berdiri, mereka (yakni para pria) mengenakan emas dan sutra. Ini adalah kenyataan yang tidak seorangpun dapat membantahnya. Lalu apakah Nabi shallallahu alaihi wasallam menyetujui semua ini? Jawabannya adalah beliau melarang sebagian dan menyetujui sebagian lainnya. Maka apapun yang dilarangnya maka ia jatuh kedalam keburukan (mungkar), dan apapun yang disetujuinya maka ia masuk dalam kebaikan (ma’ruf). Dia melarang minum sambil berdiri di dalam banyak hadits. Dan saya tidak ingin menyebutkan semuanya secara rinci – sehingga kita pertama-tama tidak mengalihkan waktu dan kita telah membatasi waktu kita untuk membahas permasalahan ini agar kita dapat menjawab pertanyaan di akhir, dan kedua, perkara ini membutuhkan waktu khusus. Namun cukup kita menghadirkan sebuah hadits shahih, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang minum sambil berdiri.”

Dan di dalam riwayat lain (dari hadits itu) dia berkata: “Rasulullah mencela (yang lain) dari minum sambil berdiri.”

Oleh karena itu, hal ini yang sering dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti yang telah dipersaksikan dalam riwayat Ibnu Umar, telah ditinggalkan dan dibatasi. Sehingga sesuatu yang biasa mereka kerjakan menjadi terlarang, berdasarkan larangan Nabi shallallahu alaihi wasallam terhadapnya. Namun bagian kedua dari hadits (ibnu Umar), yang menytakan bahwa mereka biasa makan ketika berjalan, kita tidak mendapatkan riwayat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarangnya. Maka kita mengambil dari (diam) persetujuannya, sebuah kaidah agama. Maka sampai disini, kita menyadari bahwa adanya kebutuhan kuat untuk menyandarkan pada jalan Salafush Shaleh dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah, Dan bahwa tidak seorang pun dapat menyandarkan pada pengetahuannya, jika tidak dikatakan kebodohannya, untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Setelah memperjelas persyaratan penting ini untuk berada di atas manhaj Salafus Shaleh, saya harus memberikan anda beberapa contoh. Di masa lalu, kaum Muslimin terpecah menjadi beberapa sekte. Anda mendengar tentang Mu’tazilah, anda mendengar tentang Murji’ah, anda mendengar tengan Khawarij, anda mendengar tentang Zaidiyyah, belum lagi Syi’ah dan Rafidhah dan lain-lain. Tidak satupun di antara kelompok ini, seberapa sesaatnya pun mereka, yang tidak menggunakan perkataan yang sama sebagaimana Muslim lainnya, yaitu: “Kami juga berada di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak satupun di antara mereka berkata, “Kami tidak mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah.” Dan jika salah seorang dari mereka berkata demikian (maksudnya tidak mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah –pent.), dia telah benar-benar meninggalkan Islam secara total. Lalu mengapa mereka berpecah-belah padahal mereka semua berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah – dan saya bersaksi bahwa mereka benar-benar berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah untuk pegangan. Namun bagaimana berpegang (pada Al-Qur’an dan Sunnah – pent.) ini dilakukan? Ini dilakukan tanpa menyandarkan kepada landasan ketiga, yaitu apa yang para Salafush Shaleh berada di atasnya.

Dan ada point tambahan lainnya yang harus dicatat disini – dan ini adalah bahwa As-Sunnah benar-benar berbeda dengan Al-Qur’an dalam artian bahwa Al-Qur’anul Karim disimpan diantara dua sampul dari mushaf, sebagaimana yang diketahui semua orang. Namun As-Sunnah, maka sebagian besar, tersebar dalam ratusan, jika tidak ribuan buku, yang diantaranya ada banyak bagian yang tetap tersimpan di dunia yang tersembunyi – dunia manuscript yang tidak tercetak.

Lebih jauh, bahkan buku-buku diantaranya yang telah dicetak sekarang ini, ada hadits yang shahih dan ada yang lemah. Sehingga mereka yang berpegang pada Sunnah sebagai sandaran, apakah itu dari mereka yang menisbatkan dirinya kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan manhaj Salafush Shaleh atau mereka dari kelompok lainnya – banyak diantara mereka yang tidak dapat membedakan antara Sunnah yang shahih dan yang dha’if. Sehingga mereka terjerumus kepada perselisihan dan menentang Al-Qur’an dan Sunnah disebabkan mereka berpegang kepada hadits-hadits dha’if dan maudhu’.

Intinya adalah bahwa sebagian dari kelompok-kelompok yang telah kita sebutkan di atas menolak pengertian harafiah dalam Al-Qur’an dan Sunnah nabawiyah, di masa lalu dan juga di masa sekarang ini. (Sebagai contoh) Al-Qur’an yang mulia menegaskan dan memberikan kabar yang baik bagi orang-orang beriman akan anugerah terbesar yang akan mereka dapatkan di surga, dimana Rabbul Alamin akan memperlihatkan diri-Nya kepada mereka, dan mereka akan melihat-Nya. Sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang ulama salaf:

“Orang-orang beriman akan melihat-Nya, (kami percaya ini) tanpa berkata bagaimana itu dilakukan atau membuat perbadingan dengannya, atau memberi contoh tentangnya.”

Dalil tertulis dari Al-Qur’an dan Sunnah menunjukkan hal ini. Lalu bagaimana beberapa kelompok yang ada di masa lalu dan sekarang ini mengingkari anugerah besar ini? Kelompok di masa lalu yang menolak perkara melihat (Allah), adalah Mu’tazilah. Sekarang ini, menurut apa yang saya ketahui, tidak akan dapat ditemui kelompok di muka bumi ini yang mengaku: “Kami adalah Mu’tazilah. Kami mengikuti keyakinan Mu’tazilah.” Namun demikian, saya benar-benar telah melihat seorang laki-laki yang bodoh yang mengumumkan bahwa dia adalah Mu’tazilah. Dan dia menolak banyak fakta yang telah tegak dari agama, bertindak dari ketergesa-gesaan. Mu’tazilah menolak karunia besar ini, dan mereka berkata dengan akal mereka yang lemah, “Tidak mungkin Allah dapat dilihat!” Lalu apa yang mereka lakukan? Apakah mereka menolak Al-Qur’an? Allah berkata di dalam Al-Qur’an:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka memandang.” (QS Al-Qiyamah : 22-23)

Apakah mereka menolak ayat ini? Tidak, mereka tidak menolak, juga bukan tidak percaya atau ingkar. Sampai sekarang ini, Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa Mu’tazilah berada dalam kesesatan tetapi mereka tidak mengeluarkannya dari Islam. Hal ini karena mereka tidak menolak ayat ini, tetapi mereka menolak arti yang sebenarnya, yang penjelasannya telah ditetapkan di dalam Sunnah, jika kita mengingatnya. Allah berfirman tentang orang-orang beriman yang akan memasuki surga: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka memandang.” Lalu mereka merubah artinya –mereka meyakini lafazh ayat tersebut namun tidak meyakini arti yang sebenarnya. Dan lafazh tersebut, sebagaimana para ulama berkata, adalah arti yang sebenarnya. Maka apabila kita meyakini lafazhnya namun mengingkari maknanya, maka keyakinan itu (iman) itu tidak mencukupi dan tidak berfaedah untuk memenuhi rasa lapar (yakni tidak bermanfaat).

Lalu mengapa orang-orang tersebut menolak tentang melihat Allah? Akal mereka ditarik dari penggambaran dan pembetukan konsep bahwa hamba, yang diciptakan dengan keterbatasan dapat melihat Allah secara terbuka, serupa dengan kasus ketika Yahudi meminta kepada Musa alaihis salam (untuk melihat Allah), lalu Allah menghalangi mereka, sebagaimana dapat ditemukan dalam kisah yang terkenal [lihat surah Al Baqarah: 55-59 firman Allah kepada Musa]:

انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي

“Lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". (QS Al-A’raf : 143)

Akal mereka sempit lalu mereka merasa wajib bermain dengan nash Al-Qur’an dan merubah artinya. Mengapa? –karena keimanan mereka lemah terhadap hal-hal ghaib dan keyakinan mereka terhadap akal mereka lebih kuat daripada keimanan mereka terhadap hal-hal ghaib, yang mereka diperintahkan beriman kepadanya, di dalam awal surah Al-Baqarah:

الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

“Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib,” (QS Al-Baqarah : 1-3)

Allah ghaib, sehingga kapanpun Tuhan berbicara mengenai diri-Nya, kita harus menegaskan bahwa hal tersebut adalah benar dan kita beriman kepadanya karena akal kita sangat terbatas. Mu’tazilah tidak mengakui hal ini, itulah sebabnya mereka menyangkal dan menolak banyak hujjah yang ditegakkan di dalam agama, seperti firman Allah “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka memandang.”

Hal yang sama juga terjadi pada ayat lain, yang lebih kabur bagi mereka daripada ayat yang pertama, dan ini adalah firman Allah :

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS Yunus : 26)

Al-Husna (kebaikan) disini merujuk kepada Surga, dan Ziyaadah (tambahan) disini berarti, melihat Allah pada hari kiamat. Ini apa yang dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, dengan sanad yang shahih dari jalur Sa’ad bin Abi Waqas radhiallahu anhu, yang berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, mereka akan mendapatkan Al-Husnaa (berarti), Surga, dan Ziyaadah (berarti) melihat Allah.”

Mu’tazilah dan juga Syi’ah, yang merupakan Mu’tazilah dalam aqidah, menolak bahwa Allah dapat dilihat, yang ditegaskan di dalam ayat pertama tadi dan dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada ayat yang kedua. Dan ada banyak hadits (yang mencapai derajat mutawatir) dari Nabi shallallahu alaihi wasallam mengenai hal ini. Maka takwil (menyimpangkan dari arti yang sebenarnya) mereka terhadap Al-Qur’an mengakibatkan mereka menolak hadits shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sehingga mereka meninggalkan keadaan yang dipandang sebagai Golongan yang Selamat: “Yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam percaya dan mempunyai keimanan yang kuat bahwa orang-orang beriman akan melihat Tuhannya, karena hal tersebut diriwayatkan dalam dua kitab shahih dari periwayatan begitu banyak sahabat, seperti Abu Sa’id Al-Khudry, Anas bin Malik, dan selain dari kitab shahih –dari Abubakar As-Siddiq dan lain-lain – bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sungguh engkau akan melihat Tuhanmu pada yaumul hisab, seperti engkau melihat bulan purnama di malam hari – engkau tidak akan kesulitan untuk melihatnya.”

Apa yang dimaksudkan adalah bahwa engkau tidak akan kesulitan melihat Allah sama seperti engkau tidak kesulitan melihat bulan purnama pada malam yang jernih tanpa awan. Mereka menolak hadits ini berdasarkan akal mereka, sehingga mereka memiliki iman yang lemah. Ini adalah contoh dari beberapa hal yang beberapa kelompok terjerumus ke dalamnya, dan juga sebagian kelompok di zaman sekarang, seperti Khawarij, juga mempercayainya. Dalam urutan mereka adalah Ibaadiyah yang sekarang ini aktif mendakwahi orang-orang kepada kesesatannya. Mereka memiliki artikel dan risalah yang mereka sebarkan dan distribusikan, yang dengannya mereka menghidupkan kembali banyak penyimpangan, yang oleh Khawarij telah dikenal (melakukannya) di masa lalu, seperti menolak bahwa Allah akan dilihat di surga.

Sekarang kami akan paparkan kepada anda contoh di zaman sekarang, yakni Qadiyani. Mungkin anda pernah mendengarnya. Orang-orang ini berkata sebagaimana yang kita katakan: “Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Mereka shalat lima kali sehari, mereka mendirikan shalat Jum’at, mereka melaksanakan Haji dan Umrah ke Baitullah. Tidak ada perbedaan antara kita dengan mereka – mereka seperti layaknya Muslim. Namun demikian, mereka berbeda dengan kita dalam banyak hal aqidah, seperti keyakinan mereka bahwa kenabian tidak berakhir. Mereka meyakini bahwa nabi-nabi akan datang setelah Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan mereka mengklaim bahwa salah satunya telah datang ke Qadiyan, sebuah wilayah di India. Maka (mereka berkata bahwa) siapapun yang tidak percaya kepada nabi ini yang datang kepada mereka, maka dia bukanlah orang beriman. Bagaimana mereka bisa mengatakan hal ini sedangkan telah jelas di dalam ayat:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS Al-Ahzab : 40)

Bagaimana bisa mereka mengatakan hal itu, ketika hadits yang telah sampai pada derajat mutawatir “Tidak ada nabi setelahku”. Jadi mereka telah merubah makna Al-Qur’an dan Sunnah dan mereka tidak menafsirkan Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana Salafush Shaleh menafsirkannya. Dan kaum Muslimin pun mengikuti mereka tanpa ada pertentangan di antara mereka, sampai kemudian datang seorang yang sesat dan tersesat, bernama Mirza Gulam Ahmad Al-Qadiyani yang mengklaim dirinya sebagai seorang nabi. Dan dia mempunyai kisah yang panjang, yang bukan merupakan fokus pembahasan kita saat ini.

Jadi dia telah menipu banyak orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang kenyataan ini, (pengetahuan) yang melindungi kaum Muslimin dari penyimpangan, sebagaimana para Qadiyani menyimpang dengan Dajjal ini yang mengklaim kenabian terhadap dirinya. Apa yang mereka lakukan terhadap firman Allah “Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi?” Mereka berkata hal itu tidak berarti bahwa tidak ada nabi setelahnya, tetapi kata khataam merujuk pada perhiasan Nabi. Seperti khataam (segel atau cincin) adalah perhiasan jari, maka demikian pula Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah perhiasan para Nabi. Jadi mereka bukannya tidak meyakini ayat tersebut. Mereka tidak berkata bahwa Allah tidak mewahyukan ayat ini ke dalam dada Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Namun mereka tidak meyakini arti yang sebenarnya.

Lalu apa kebaikannya memiliki keyakinan terhadap lafazh jika tidak memiliki keyakinan terhadap arti yang sebenarnya. Jika engkau tidak mempunyai keraguan terhadap fakta ini, lalu dengan jalan apa mengetahui makna Al-Qur’an dan Sunnah? Anda telah mengetahui jalannya. Bukanlah bagi kita untuk menyandarkan kepada pengetahuan bahasa Arab, juga tidak menafsirkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan nafsu atau tradisi, atau taqlid buta terhadap madzhab atau perintah (sufi) kita, tetapi, satu-satunya jalan adalah – sebagaimana yang seringkali disebutkan, dan saya akan menutup perkataan saya dengannya:

“Dan segala kebaikan adalah mengikuti mereka yang datang terlebih dahulu (Salaf)
Manakala segala keburukan adalah kebid’ahan mereka yang datang kemudian (khalaf)”


Kami berharap bahwa ini (muhadharah ini –pent) merupakan “peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS Qaaf : 37)


eBook lengkap dapat anda peroleh di Maktabah Raudhah al-Muhibbin