Showing posts with label Dzikir dan do'a. Show all posts
Showing posts with label Dzikir dan do'a. Show all posts

Wednesday, November 03, 2010

Berdoa dengan Mengangkat Kedua Tangan


Soal: Apakah menengadahkan kedua tangan ketika berdo’a disyari’atkan, dan pada khususnya ketika kita dalam keadaan safar di atas pesawat, mobil, kereta api atau dengan kendaraan lainnya ?

Jawab: Mengangkat tangan ketika berdo’a adalah salah satu sebab terkabulnya do’a di manapun kita berada, Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam bersabda:

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِ مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْراً

“Sesungguhnya Tuhan kalian Tabaroka Wa Ta’ala adalah Maha Hidup dan Maha Mulia, Dia malu dari hamba-Nya apabila menengadahkan kedua tangannya kepada-Nya untuk dikembalikan dalam keadaan hampa.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi & Ibnu Majah).

Beliaupun bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah Maha Baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik, dan Allah Azza Wa Jalla telah memerintahkan orang-orang mukmin dengan perintah yang diberikan kepada para Rosul, Dia berfirman: “Wahai para Rosul, makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan beramal shalehlah, Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Mukminun 51) dan Diapun berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari (makanan) yang baik-baik yang telah kami rizkikan kepada kalian.” (QS. Al-Baqorah 172), kemudian Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam menyebutkan seorang pria yang telah lama bepergian, rambutnya tak terurus, telapak kakinya berdebu, dan iapun menengadahkan tangannya ke arah langit (ia berkata) : Ya Robb, Ya Robb!, sedangkan makanannya haram ,minumannya haram, pakaiannya haram dan dia dibesarkan dari yang haram. Lalu bagaimana mungkin ia akan dikabulkan (do’anya).” (HR. Muslim).

Dalam hadits tersebut di atas Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam telah menjadikan menengadahkan tangan sebagai salah satu sebab terkabulnya do’a, dan di antara sebab tidak terkabul do’a adalah; makan haram dan dibesarkan oleh sesuatu yang diharamkan. Maka di sana sangat jelas sekali bahwa menengadahkan tangan adalah salah satu sebab terkabulnya do’a, baik itu di atas pesawat, di atas kereta, di atas mobil atau bahkan di pesawat luar angkasa sekalipun. Maka apabila ada seseorang yang berdo’a dengan mengangkat tangan, itu artinya ia telah melakukan salah satu sebab terkabulnya do’a, kecuali di beberapa tempat di mana Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam tidak menengadahkan tangannya di sana, maka kitapun tidak menengadahkannya juga di sana, seperti ketika khutbah jum’at, di sana Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam tidak mengangkat tangannya kecuali jikalau beliau sedang meminta hujan, saat itu beliau mengangkat kedua tangannya.

Demikian pula berdo’a ketika duduk di antara dua sujud dan sebelum salam di akhir Tasyahhud, beliau tidak pernah mengangkat tangan di sana. Maka dengan demikian kitapun tidak mengangkat tangan juga di waktu-waktu tersebut, karena perbuatan beliau sebagai dalil dan meninggalkannyapun berarti dalil.

Dan begitu pula halnya setelah salam dari shalat lima waktu; beliau melakukan dzikir dan wirid yang disyari’atkan dengan tidak mengangkat kedua tangannya. Maka saat itupun kita tidak mengangkatnya sebagai bentuk kesuritauladanan kita terhadap Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam. Adapun diwaktu di mana Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam mengangkat kedua tangannya, maka kitapun disunnahkan mengangkat kedua tangan kita sebagai bentuk kesuritauladanan kita juga kepada Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam dan karena itu dari sebab terkabulnya do’a. dan demikian pula jikalau seorang muslim hendak berdo’a kepada Allah Azza Wa Jalla sementara tidak didapatkan adanya dalil bahwa Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam mengangkat tangan atau tidak ditempat dan waktu itu, maka saat itupun ia mengangkat kedua tangan tangannya dengan argument hadits-hadits yang menunjukkan bahwa mengangkat kedua tangan adalah sebagai salah satu sebab terkabulnya do’a.

(lihat: Fatawa Ulama’ Al-Biladul Harom (Fatwa para ulama Negri Harom), hal 1702-1703. Majmu’ Fatawa Wa Maqolat Mutanawwi’ah, Syeikh Ibn Baz 6/158-159)

Disalin kembali dari http://icmkendari.com

Tuesday, August 24, 2010

Doa-doa Seputar Makan dan Berbuka Puasa


Doa-Doa Seputar Makan dan Berbuka Puasa

Sebelum makan membaca:

بِسْمِ اللهِ

“Dengan Nama Allah”
(HR. Abu Dawud 3/347, At-Tirmidzi 4/288, dan lihat kitab Shahih At-Tirmidzi 2/167)

Apabila seseorang lupa pada permulaan hendaknya membaca:

بِسْمِ اللهِ فِيْ أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ.

“Bismillahi fi awwalihi wa aakhirihi “Dengan nama Allah di awal dan di akhir.”
(HR. At-Tirmidzi 5/506, dan lihat Shahih Tirmidzi 3/158)

Setelah makan membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ

“Segala puji bagi Allah yang memberi makan ini kepadaku dan yang memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.”
(HR. Penyusun kitab Sunan, kecuali An-Nasai, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/159)

Pada saat berbuka puasa 1:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap, insya Allah.”
(HR. Abu Dawud 2/306, begitu juga imam hadits yang lain. Dan lihat Shahihul Jami’ 4/209)

Pada saat berbuka puasa 2:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِيْ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepadaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu, supaya memberi ampunan atasku.”
(HR. Ibnu Majah 1/557. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Takhrij Al-Adzkar, lihat Syarah Al-Adzkar 4/342).

Doa tamu kepada tuan rumah:

أللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْلَهُم وَارْحَمْهُمْ

“Ya Allah, berkahilah mereka pada apa-apa yang Engkau rizkikan kepada mereka, ampunilah mereka dan rahmatilah mereka.”
(HR Muslim 3/1615)

Doa kepada orang yang mengundang berbuka puasa:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

“Semoga orang-orang yang berpuasa berbuka di sisimu dan orang-orang yang baik makan makananmu, serta malaikat mendoakannya, agar kamu mendapat rahmat.”
(Sunan Abu Dawud 3/367, Ibnu Majah 1/556 dan An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 296-298. Al-Albani menyatakan, hadits tersebut shahih dalam Shahih Abi Dawud, 2/730)