Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts

Friday, December 18, 2009

Peringatann Bagi Orang yang Memiliki Hati

Oleh: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah


إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS Qaf [50] : 37)



Jika engkau ingin mengambil manfaat dari Al-Qur’an, maka satukan hatimu ketika memacanya, buka pendengaran dan hadirkan dirimu layaknya orang yang langsung diajak bicra oleh Allah. Karena Al-Qur’an merupakan seruan dari Allah yang ditujukan kepada dirimu, yang disampaikan lewat lisan Rasul-Nya.

Allah berfirman seperti ini, karena kesempurnaan pengaruh tergantung pada pemberi pengaruh, sasaran yang menerima pengaruh itu, syarat smpainya pengaruh, ketiadaan penghalang yang mencegahnya. Aat ini mencakup penjelasan atas semua ini dengan lafash yang singkat namun jelas dan gambling maksudnya.

Friman Allah: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan “, merupakan syarat tertuju ke kandungan yang ada semenjak awal surat hingga ayat ini. Inilah yang memberikan pengaruh.

Friman=Nya: “Bagi orang-orang yang mempunyai hati”, merupakan sasaran penerima. Artinya, hati yang hidup dan yang mau memikirkan tentang Allah, sebagaimana firman-Nya:

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُّبِينٌ لِيُنذِرَ مَن كَانَ حَيّاً

“Al Quraan itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya.” (QS Yasin [36] : 69-70)

Firman-Nya: أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ ‘au alqaa as-sam’a’ artinya mengarahkan pendengarannya dan mengkonsentrasikan indera pendengarannya untk mendengarkan apa yang dikatakan kepaanya. Ini merupakan syarat pengaruh perkataan.

Firman-Nya: “Sedang dia menyaksikannya”, berarti hantinya menyaksikan dan hadir. Menurut Ibnu Qutaibah, maksudnya: Dia mendengarkan Kitab Allah, menghadirkan hatinya dan me-mahaminya, tidak melupakan dan melalaikannya. Hal ini merupakan isyarat tentang penghalang sempurnanya pengaruh, yaitu kelalaian hati dan keengganan menikirkan apa yang dikatakan kepadanya, melihat dan memperhatikannya.

Jika ada pemberi pengaruh, yaitu Al-Qur’an, ada sasaran penerima, yaitu hati yang hidup, ada syarat, yaitu mendengarkan dan menyimak, tidak ada penghalang, yaitu kelalaian hati tentang makna seruan dan perhatiannya kepda sesuatu yang lain, maka pengaruh akan menjadi efektif dan ada manfaat yang diambil dari Al-Qur’an dan peringatan.

Boleh jadi ada yang bertanya, “Kalau pengaruh dapat efektif hanya dengan keseluruhan perkara-perkara ini, lalu mengapa digunakan kata sambung au (atau) dalam أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ , padahal posisi ini mestinya menggunakan waw al-jam’ dan bukan au ang berarti pilihan dari dua hal?”

Dapat dijawab sebagai berikut: Perkataan ini menggunakan au dengan mempertimbangkan keadaan yang diseru. Sebab di antara manusia ada yang hatinya hdup dan sadar serta sempurna fitrahnya. Jika dia memikirkan dengan hati dan pikirannya, maka hatinya akan menuntun kepada kebenaran Al-Qur’an, bahwa Al-Qur’an itu adalah benar, dan hatinya mempersaksikan apa yang dikabarkan Al-Qur’an. Sampainya A-Qur’an ke hatinya merupakan cahaya di atas cahaya fitrah. Ini merupakan sifat orang-orang yang difirmankan Allah:

وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ

“Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar.” (QS Saba [34] : 6)

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) , yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki,” (S An-Nur [24] : 35)

Inilah yang dimaksudkan cahaya fitrah di atas cahaya wahyu, dan inilah keadaan orang yang hatinya hidup dan sadar.

Orang yang hatinya hidup memiliki hubungan yang erat antara hati dan makna-makna Al-Qiur’an. Dia mendapatkan hatinya seakan-akan sudah terbentuk seperti itu. Dia membacanya dari balik hatinya.

Sementara di antara manusia ada yang tidak memiliki kesiapan yang sempurna dan hatinya tidak memiliki kesadaran yang penuh, sehingga dia memerlukan bukti untuk membedakan baginay antara yang benar dan batil. Kehidupan hatinya tidak mampu membuat dirinya memperhatikan dan memikirkan kandungannya, sehingga dia mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah benar.

Orang yang pertama adalah keadaan orang yang mengetahui apa yang diserukan dan dikabarkan kepadanya. Orang kedua merupakan keadaan orang yang mengetahui kebenaran pengabaran dan meyakininya, namun dia berkata, “Cukuplah bagiku pengabaran itu.”

Yang kedua berada pada posisi iman dan yang pertama pada posisi ihsan. Yang kedua sampai kepada tataran ilmul yaqin dan yang pertama sampai ke tataran ainul yaqin. Pembenaran itulah yang membuatnya keluar dari kekufuran dan masuk ke dalam Islam.
Ainul yaqin ada dua macam. SAtu macam ada di dunia dan satu macam lagi ada di akhirat. Yang diperoleh di dunia adalah yang dinisbatkan kepada hati, seperti penisbatan bukti ke mata. Berita ghaib yang disampaikan para rasul akan terlihat mata di akhirat. Sementara di dunia hanya dengan mata hati. Jadi itulah ainul yaqin dalam dua tararan.

Sumber: Al-Fawa’id (hal 3-5) dalam At-Tafsiru al-Qyyimu, Syaikh Muhammad Uwais an-Nadwi.

Thursday, February 28, 2008

Kebaikan Dua Kekuatan, Ilmu dan Pengamalan

Kebaikan Dua Kekuatan, Ilmu dan Pengamalan

Oleh: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah



Allah Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS Al-Ashr [103] : 1-3)

Imam Syafi’i berkata: “Jika seluruh manusia memikirkan surat Al-Ashr ini, maka surat tersebut sudah cukup untuk mereka.”

Penjelasan surat di atas, bahwa sifat mulia itu ada empat, dan dengan memiliki keempat sifat tersebut, seseorang mendapatkan puncak kesempurnaan. Keempat sifat tersebut adalah:

Pertama: Mengetahui kebenaran

Kedua: Mengamalkannya

Ketiga: Mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya

Keempat: bersabar pada saat mempelajarinya, mengamalkannya, dan mengajarkannya kepada orang lain.

Allah Ta’ala menyebutkan keempat sifat tersebut di dalam surat Al-Ashr. Pada surat tersebut, Allah Ta’ala bersumpah dengan masa, bahwa semua manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran dan membenarkannya. Ini tingakatan pertama.

Tingkatan kedua, yaitu orang-orang yang beramal shalih, yaitu orang-orang yang mengamalkan kebenaran yang mereka ketahui.

Tingakatan ketiga, orang-orang yang saling menasihati dalam kebenaran, yaitu kelompok yang saling menasihati untuk mempelajari kebenaran tersebut.

Tingakatan keempat, orang-orang yang saling menasihati dengan kesabaran, yaitu orang-orang yang bersabar terhadap kebenaran dan saling menasihati untuk bersabar dan tegar terhadap kebenaran.

Inilah puncak kesempurnaan. Sesungguhnya kesempurnaan itu hendaklah seseorang mampu mencapai kesempurnaan untuk dirinya dan mampu menyempurnakan orang lain. Kesempurnaan dirinya ialah dengan memperbaiki kedua kekuatannya; kekuatan ilmu dan kekuatan pengamalan. Kekuatan ilmu adalah dengan berilmu dan kekuatan pengamalan dengan mengerjakan amal shalih, menyempurnakan orang lain, mengajarkannya kepadanya, bersabar terhadapnya, dan menasihatinya bersabar terhadap ilmu dan pengamalannya.

Surat ini kendati ringkas namun termasuk surat yang sangat lengkap membahas kebaikan dengan seluruh aspeknya. Segala puji bagi Allah yang menjadikan kitab-Nya lengkap hingga tidak membutuhkan yang lain, menyembuhkan segala penyakit dan memberi petunjuk kepada kebaikan.


Sumber: Buah Ilmu (Al-Ilmu) oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Buku ini merupakan ringkasan mengenai keutamaan ilmu dalam buku Miftah Daar As-Sa’adah hal. 219-542, diringkas dan ditahqiq oleh Abu Al-Harits Al-Halbi Al-Atsari, Penerbit Pustaka Azzam, 2004.

Wednesday, December 19, 2007

Kemujaraban Al-Fatihah Yang Mengandung Kesembuhan bagi Hati dan Kesembuhan bagi Badan

Oleh: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah


Kandungan Al-Fatihah yang mampu menyembuhkan hati merupakan kandungannya yang paling komplit. Sumber penyakit hati dan deritanya ada dua macam: Ilmu yang rusak dan tujuan yang rusak. Dari dua sumber ini muncul dua penyakit lain: Kesesatan dan kemarahan. Kesesatan merupakan akibat dari ilmu yang rusak, sedangkan kemarahan merupakan akibat dari tujuan yang rusak. Dua jenis penyakit ini merupa¬kan inti dari semua jenis penyakit hati. Hidayah ke jalan yang lurus men-jamin kesembuhan dari penyakit kesesatan. Karena itu memohon hidayah ini merupakan doa yang paling wajib bagi setiap hamba, yang juga diwajibkan atas dirinya setiap malam dan siang, dalam setiap shalat dan saat terdesak keperluan.


Sedangkan penegasan iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in secara ilmu dan ma'rifat, amal dan kondisional, menjamin kesembuhan dari penyakit hati dan tujuan yang rusak. Sebab tujuan yang rusak ini berkaitan dengan sasaran dan sarana. Siapa yang mencari tujuan yang pasti akan terputus dan fana, menggunakan berbagai macam sarana untuk dapat meraihnya, maka hal itu justru akan menjadi beban baginya dan tujuannya jelas salah. Inilah keadaan setiap orang yang tujuannya untuk mendapatkan hal-hal selain Allah dari kalangan orang-orang musyrik, orang-orang yang hanya ingin memuaskan nafsunya, para tiran yang menopang kekuasaannya dengan segala cara, tak peduli benar maupun batil. Jika ada kebenaran yang menghambat jalan kekuasaannya, maka mereka mendepaknya. Jika tidak mampu mendepaknya, mereka akan menepis kebenaran itu, layaknya pemelihara sapi yang menyingkirkan sampah di kandang. Jika mereka tidak bisa melakukannya, mereka menghentikan langkah di jalan itu lalu mencari jalan lain. Dengan cara apa pun mereka siap menolaknya. Jika ada kebenaran yang mendukung kekuasaan, mereka mendukungnya, bukan karena itu merupakan kebenaran, tapi karena kebenar¬an itu yang kebetulan sejalan dengan tujuan dan nafsunya.

Karena tujuan dan sarana yang dipergunakan rusak, maka mereka adalah orang-orang yang paling menyesal dan merugi, jika tujuan yang mereka raih meleset. Merekalah orang-orang yang paling menyesal dan merugi di dunia, yaitu jika kebenaran dikatakan benar dan kebatilan dikatakan batil. Yang demikian ini seringkali terjadi di dunia. Penyesalan ini akan semakin nyata tatkala mereka meninggal dunia dan menghadap Allah serta berada di alam Barzakh.
Begitu pula orang yang mencari tujuan yang tinggi dan sasaran yang mulia, namun tidak menggunakan sarana yang mendukungnya untuk meraih tujuan itu, dia hanya menduga-duga sarana yang digunakannya itu akan mendukungnya. Keadaan orang ini tak jauh berbeda dengan orang yang pertama. Dia tidak akan mendapatkan kesembuhan dari penyakit ini kecuali dengan obat iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in.

Obat ini mempunyai empat komposisi: Ibadah kepada Allah, perintah dan larangan-Nya, memohon pertolongan dengan beribadah kepada-Nya, tidak dengan hawa nafsu, tidak dengan pendapat manusia dan pemikirannya, tidak dengan diri manusia dan kekuatannya. Inilah unsur-unsur yang terkandung di dalam obat iyyaka na 'budu wa iyyaka nasta 'in. Jika unsur-unsur ini diramu oleh seorang dokter yang berpengalaman, tentu akan menjadi obat yang sangat mujarab.

Hati itu mudah terjangkiti dua macam penyakit yang kronis. Jika seseorang tidak mengobatinya, tentu dia akan binasa, yaitu riya' dan takabur. Obat riya adalah iyyaka na'budu, sedangkan obat takabur adalah iyyaka nasta'in. Seringkali kami mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Iyyaka na'budu menolak penyakit riya', dan iyyaka nasta'in menolak penyakit takabur."

Jika seseorang diberi kesembuhan dari penyakit riya' dengan iyyaka na'budu, diberi kesembuhan dari penyakit takabur dan ujub dengan iyyaka nasta'in, diberi kesembuhan dari penyakit kesesatan dan kebodohan dengan ihdinash-shirathal-mustaqim, berarti dia telah diberi kesembuhan dari segala macam penyakit. Namun di antara orang-orang yang mendapat kenikmatan juga ada yang mendapat murka. Mereka adalah orang-orang yang tujuannya rusak, yang sebenarnya mengetahui kebenaran namun menyimpanginya. Ada pula di antara mereka yang adh-dhallin (sesat), yaitu mereka yang memiliki ilmu yang rusak dan tidak mengeta¬hui kebenaran.

Tentang surat Al-Fatihah yang mengandung obat bagi penyakit badan, maka akan kami jelaskan seperti yang telah dijelaskan As-Sunnah dan dikuatkan ilmu medis serta berdasarkan pengalaman. Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari hadits Abul-Mutawakkil An-Najy, dari Abu Sa'id Al-Khudry, bahwa ada beberapa orang dari shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang melewati sebuah perkampungan Arab dalam per-jalanannya. Para penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka sebagai tamu, apalagi menjamu. Pada saat yang sama pemimpin mereka disengat hewan. Maka penduduk kampung mendatangi mereka dan bertanya, "Adakah kalian mempunyai mantera atau adakah di antara kalian yang bisa menyembuhkan dengan mantera?"
"
Ya, ada. Tapi karena kalian tidak mau menjamu kami, maka kami tidak mau mengobati kecuali jika kalian memberikan imbalan kepada kami."
Maka penduduk kampung itu sepakat untuk memberikan beberapa ekor kambing. Maka setiap orang di antara para shahabat itu membacakan Al-Fatihah. Seketika itu pula pemimpin kampung itu bangkit, seakan-akan sebelumnya dia tidak pernah sakit. Kami berkata, "Janganlah kalian terburu-buru menerima imbalan ini sebelum kita menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam."

Setelah bertemu beliau, mereka menceritakan kejadian ini. Beliau bersabda, "Apa pendapat kalian kalau memang Al-Fatihah itu benar-benar merupakan ruqyah? Terimalah imbalan itu dan sisihkan bagianku."

Hadits ini menjelaskan keampuhan Al-Fatihah yang bisa menyembuhkan sengatan hewan, sehingga ia berfungsi sebagaimana obat, atau bahkan lebih mujarab daripada obat itu sendiri. Padahal orang yang disembuhkan itu tidak terlalu tepat untuk disembuhkan dengan cara tersebut, entah karena penduduk kampung itu bukan orang Muslim atau kare¬na mereka orang-orang yang kikir. Lalu bagaimana jika yang disembuhkan tidak seperti mereka?

Sedangkan dari teori medis, dapat dibuktikan sebagai berikut, bahwa sengatan itu berasal dari hewan yang mempunyai racun, yang berarti mempunyai jiwa yang kotor dan terbentuk karena amarah, lalu menyalurkan unsur racun yang panas lewat sengatan itu. Jika jiwa yang kotor ini terbentuk bersamaan dengan terbentuknya kemarahan, maka ia akan merasa senang jika dapat menyalurkan racun ke tempat yang layak menerimanya, sebagaimana orang jahat yang merasa senang jika dapat me¬nyalurkan kejahatannya terhadap orang yang layak menerimanya. Bahkan dia merasa tersiksa jika tidak bisa menyalurkan kejahatannya itu kepada seseorang.

Prinsip penyembuhan ialah dengan menggunakan kebalikannya dan menjaga dengan sesuatu yang serupa. Kesehatan dijaga dengan sesuatu yang serupa dan penyakit disembuhkan dengan kebalikannya. Ini merupakan hukum sebab-akibat yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah Yang Maha Bijaksana. Namun hal ini tidak akan berhasil kecuali de¬ngan kekuatan jiwa pelakunya dan reaksi penerimanya. Jika jiwa orang yang disengat tidak layak menerima ruqyah itu dan jiwa yang membacakan ruqyah tidak mampu memberikan pengaruh apa-apa, maka kesem-buhan tidak akan berhasil.

Jadi di sini ada tiga unsur: Kesesuaian obat dengan penyakit, kesungguhan orang yang mengobati dan orang yang diobati bisa menerimanya. Jika tidak ada kelaikan pada salah satu unsur ini, maka kesembuhan tidak akan terjadi.

Siapa yang bisa memahami hal ini, tentu dia bisa memahami rahasia ruqyah tersebut, bisa membedakan antara yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat dan bisa mencocokkan obat dengan penyakit yang hen-dak diobati, seperti penggunaan pedang untuk memotong barang yang memang bisa dipotong dengan pedang itu.

Sedangkan dari kesaksian pengalaman, maka cukup banyak orang yang mengalaminya. Saya sendiri pernah mempunyai pengalaman dalam penggunaan Al-Fatihah sebagai ruqyah ini dengan hasil yang benar-benar menakjubkan, terutama pada saat-saat saya menetap di Makkah. Suatu saat saya sakit yang benar-benar amat menyiksa, hingga hampir-hampir saya tidak bisa menggerakkan badan karenanya. Padahal saat itu saya harus mengerjakan thawaf dan lain-lainnya. Maka saya segera membaca Al-Fatihah, lalu mengusapkan telapak tangan ke bagian-bagian tubuh yang sakit. Seakan-akan dari bagian yang sakit itu ada kerikil yang jatuh. Pengalaman seperti ini tidak terjadi hanya sekali saja, tapi beberapa kali. Pernah juga saya mengambil air Zamzam lalu membacakan Al-Fatihah pada air itu dan saya meminumnya. Hasilnya, saya merasa mendapat ke¬kuatan baru yang tidak pernah kurasakan yang seperti itu. Tentu saja semua ini harus didasari kekuatan iman dan keyakinan yang benar.



Disalin dari terjemahan “Madarijus Salikin”, Penerbit Al-Kautsar, hal. 18 – 21.

Wednesday, November 28, 2007

Bermegah-megahan yang Melalaikan (Tafsir surah At-Takatsur) -2/2

Oleh : Ibnu Qayyim al-Jauziyyah


Yang pertama merupakan pertanyaan tentang sebab dan cara memperolehnya, yang kedua merupakan pertanyaan tentang cara penyaluran dan pemanfaatannya, seperti yang disebutkan di dalam Jami'At-Tmmdzy, dari hadits Atha' bin Abu Rabbah, dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمُ بْنِ آدمَ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسَ عَنْ أُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَ أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَ عَلِمَ

"Tidaklah kedua kaki anak Adam terayun pada hari kiamat di sisi Rabbnya hingga dia ditanya tentang lima perkara: Tentang umurnya, untuk apa dia menghabiskannya? Tentang masa mudanya, untuk apa dia melusuhkannya? Tentang hartanya, dari mana dia mendapatkannya dan untuk apa dia membelanjakannya? Tentang orang yang berilmu, untuk apa dia mengajarkannya?"


Dari Abu Barzah, dia berkata, 'Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,


لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلُ عَنْ أُمُرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ عَمَلِ فِيْهِ وَعَنْ مَالِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَبْلاَهُ

"Tidaklah kedua kaki hamba terayun pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang umurnya, untuk apa dia menghabiskannya? Tentang ilmunya, untuk apa dia mengamalkannya? Tentang hartanya, dari mana dia mendapatkannya dan untuk apa dia menghabiskannya?"

Menurut At-Tirmidzy, ini adalah hadits shahih. Di dalam Jami’ At-Tirmidzy juga disebutkan dari hadits Abu Hurairah, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Sesungguhnya pertanyaan yang pertama kali diajukan kepada hamba pada hari kiamat, ialah tentang kenikmatan, yang ditanyakan kepadanya, 'Bukankah Kami sudah membuat badanmu sehat dan memberimu minum berupa air yang dingin?'"

Dari hadits Az-Zubair bin Al-Awwam Radhiyallahu Anhu, dia ber­kata, "Ketika turun ayat, 'Kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan’, maka Az-Zubair bertanya, 'Wahai Rasulullah, ke­nikmatan macam apakah yang ditanyakan kepada kami, karena dua ke­nikmatan itu hanya ada dua macam yang bewama hitam, yaitu korma dan air?' Beliau menjawab, 'Hal itu pun akan terjadi'."

Menurut At-Tirmidzy, ini hadits hasan. Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah yang semisal dengan hadits ini, dia berkata, "Kenikmatan itu hanya dua macam, yaitu musuh yang datang sementara pedang ada di pundak kami." Beliau menjawab, "Hal itu pun akan terjadi."

Sabda beliau, "Hal itu pun akan terjadi", boleh jadi yang dimaksudkan, kenikmatan itu akan terjadi dan diberikan kepada kalian. Jika dikembalikan kepada pertanyaan, maka pertanyaan akan disampaikan berkenaan dengan hal itu, karena korma dan air termasuk kenikmatan.

Hal ini ditunjukkan sabda beliau yang lain dalam hadits shahih, ketika para shahabat sedang memakan buah korma segar dan daging serta me-minum air yang dingin lagi segar, "Ini termasuk kenikmatan, yang kalian akan ditanya tentang hal ini pada hari kiamat." Ini merupakan pertanyaan yang berkaitan dengan mensyukurinya dan melaksanakan haknya.

Di dalam riwayat At-Tirmidzy disebutkan dari hadits Anas, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sal/am, beliau bersabda,

يُجَاءُ بِلْعَبْدِ يَوْمَ القِيَامَةِ كَأَنَّهُ بَذَجٌ فَيُوقَفُ بَيْنَ يَدَيِ اللهُ فَيَقُولُ اللهُ أَعْطَيْتُكَ وَخَوَّلْتَكَ عَلَيْكَ فَمَاذَا صَنَعْتَ فَيَقُولُ يَارَبِّ جَمَعتُهُ وَثَمَّرْتُهُ فَتَرَكْتُهُ أَكْثَرَ مَا كَانَ فَرْجِعْنِي آتِكَ بِهِ فَإِذَا أُعِيْدَ لَمْ يُقَدِّمْ خَيْرًا فَيُمْضَى بِهِ إِلَى النَارِ

"Seorang hamba didatangkan pada hari kiamat seakan-akan dia anak domba. Dia diberdirikan di hadapan Allah, lalu Allah befirman, Aku sudah memberimu, menganugerahimu dan melimpahkan nikmat kepadamu. Lalu apa yang kamu lakukan?' Hamba itu menjawab, 'Ya Rabbi, aku menghimpunnya beserta buah-buahannya, lalu aku membiarkannya menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Maka kembalikan lagi aku (ke dunia) agar aku mengeluarkannya untuk-Mu'. Jika dia dikembalikan ke dunia, maka dia tidak akan melakukan satu kebaikan pun, maka dia digiring ke neraka. "

Di dalam riwayat At-Tirmidzy juga disebutkan dari hadits Abu Sa'id dan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhuma, keduanya berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Hamba didatangkan pada hari kiamat, lalu Allah befirman, 'Bukankah Aku sudah memberikan bagimu pendengaran, penglihatan, harta, anak dan Aku sudah menundukkan bagimu binatang-binatang ternak dan tanaman, Aku meninggalkan berkuasa dan hidup berkecukupan. Apakah kamu mengira bahwa kamu terbebas dari hari ini?' Hamba itu menjawab, 'Tidak'. Allah befirman, 'Hari ini aku melupakanmu sebagaimana kamu dulu sudah melupakan Aku'."

Segolongan mufasir berpendapat bahwa pemyataan ini secara khusus ditujukan kepada orang-orang kafir, dan merekalah yang akan ditanya tentang kenikmatan itu. Mereka juga menyebutkan pendapat ini dari Al-Hasan dan Muqatil. Al-Wahidy juga memilih pendapat ini. Dia berhujjah dengan hadits Abu Bakar, "Ketika ayat ini turun, maka dia bertanya kepada Rasulullah ShattallahuAlaihi wa Sallam bersabda, "Apa pendapat engkau tentang makanan yang pernah kumakan bersama engkau di rumah Abul-Haitsam bin At-Taihan, yaitu berupa roti dari gandum dan daging, dengan air yang dingin lagi segar, apakah engkau takut bahwa ini termasuk kenik­matan yang kita akan ditanya tentang kenikmatan itu?" Beliau menjawab, "Pertanyaan itu hanya ditujukan kepada orang-orang kafir." Kemudian beliau membaca ayat, "Dan, Kami tidak menjatuhkan adzab melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. "(Saba': 17).

Menurut Al-Wahidy, zhahirnya menguatkan pendapat ini, sebab semua kandungan pemyataan di dalam surat memang tertuju kepada orang-orang musyrik dan sekaligus merupakan ancaman bagi mereka. Dari sisi makna juga menguatkan pendapat ini, bahwa orang-orang kafir tidak pernah memenuhi hak kenikmatan yang diberikan kepada mereka, karena mereka menyekutukan Rabb mereka dan menyembah selain-Nya. Karena itu mereka layak ditanya tentang kenikmatan yang pernah dianugerahkan kepada mereka. Hal ini dimaksudkan sebagai teguran bagi mereka, apakah mereka sudah melaksanakan kewajiban dalam kenikmatan itu ataukah mereka menyia-nyiakan hak kenikmatan itu? Kemudian mereka disiksa karena tidak bersyukur, dengan cara mengesakan Pemberi nikmat.

Menurut Al-Wahidy, inilah makna dari perkataan Muqatil dan juga Al-Hasan. Dia berkata, "Tidak ada pertanyaan yang diajukan tentang kenikmatan kecuali kepada para penghuni neraka."

Kami katakan, di dalam lafazh ini dan tidak pula di dalam As-Sunnah yang shahih, tidak pula dalam dalil-dalil akal yang mengharuskan pengkhususan pemyataan terhadap orang-orang kafir. Bahkan menunat zhahir lafazh dan menurut As-Sunnah yang sudah jelas maknanya, menunjukkan keumuman pernyataan bagi siapa pun yang disifati sebagai orang yang dilalaikan kemegah-megahan. Jadi tidak ada alasan untuk mengkhususkan pernyataan kepada sebagian orang yang digambarkan dengan sifat itu.

Hal ini ditunjukkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ketika membawakan surat ini, "Hartaku, hartaku. Apakah kamu mempunyai harta selain dari apa yang engkau shadaqahkan lalu berlalu, atau yang kamu makan lalu habis, atau pakaian yang kamu kenakan lalu lusuh?" Yang berkata seperti itu bisa orang Muslim dan bisa juga orang kafir.

Hal ini juga ditunjukkan beberapa hadits di atas dan pertanyaan para shahabat kepada Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam dan pemahaman mereka secara umum, hingga mereka berkata kepada beliau, "Kenikmatan macam apakah yang ditanyakan kepada kami? Kenikmatan itu hanya dua hal yang berwarna hitam." Sekiranya pernyataan hanya tertuju kepada orang-orang kafir semata, tentunya beliau menjelaskan hal itu kepada mereka. Para shahabat memahaminya secara umum, dan beberapa hadits juga sudah jelas menunjukkan keumuman. Beliau yang mendapat wahyu Al-Qur'an pun menetapkan kepada mereka tentang pemahaman secara umum itu.

Tentang hadits Abu Bakar yang dijadikan dalil pendapat di atas, adalah hadits tidak shahih. Sementara hadits shahih yang berkaitan dengan kisah ini menunjukkan kebatilannya. Kami akan sampaikan lafazh-lafazhnya.

Di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Pada suatu siang atau malam hari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar, yang kemudian beliau berpapasan dengan Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, "Apa yang menyebabkanmu keluar dari rumah kalian berdua pada saat-saat seperti ini?"
Abu Bakar dan Umar menjawab, "Rasa lapar wahai Rasulullah."

Beliau bersabda, "Adapun aku, demi diriku yang ada di Tangan-Nya, benar-benar keluar seperti yang menyebabkan kalian berdua keluar. Sekarang bangkitlah!"
Maka Abu Bakar dan Umar bangkit bersama beliau. Beliau menemui seseorang dari kalangan Anshar, yang ternyata shahabat yang dimaksud tidak berada di rumahnya. Ketika istrinya melihat kedatangan beliau, maka dia berkata, "Marhaban wa ahlan ".

Beliau bertanya, "Dimana Fulan?"

Wanita itu menjawab, "Dia pergi untuk mencari air tawar yang segar bagi kami."

Pada saat itu orang Anshar yang dimaksudkan datang. Dia me-mandang Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam dan dua orang rekannya. Dia berkata, "Segala puji bagi Allah, pada hari ini aku tidak mendapatkan tamu-tamu yang lebih mulia selain diriku."
Lalu orang Anshar itu beranjak lalu datang lagi sambil membawa tandan yang di dalamnya ada korma segar dan korma yang sudah dikeringkan. Dia berkata, "Makanlah hidangan ini!" Lalu dia akan mengambil tempat minum.

Beliau bersabda, "Tak perlu engkau memerah air susu."

Lalu orang Anshar itu menyembelih domba dan mereka pun makan dan minum. Setelah mereka kenyang, beliau bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, "Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, kemudian kalian tidak kembali melainkan setelah mendapat kenikmatan ini."

Hadits shahih ini sudah jelas menunjukkan keumuman pernyataan dan tidak ditujukan hanya kepada orang-orang kafir semata. Kenyataan pun menguatkan tidak adanya pengkhususan itu. Di samping itu, kelalaian karena bermegah-megahan juga banyak terjadi di kalangan orang-orang Muslim, bahkan mayoritas di antara mereka dilalaikan oleh bermegah-megahan. Pernyataan Al-Qur'an ini bersifat umum bagi siapa pun yang mendengarnya. Apa yang berlaku bagi orang-orang yang hidup sezaman dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga berlaku bagi orang-orang setelah itu. Hal ini sudah sama-sama diketahui sebagai urgensi agama, meskipun ditentang sebagian orang yang tidak memahami sabda beliau dari kalangan muta'akhirin.

Kita pada hari ini, orang-orang sebelum kita dan orang-orang sesudah kita, masuk dalam firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa ". (Al-Baqarah: 183). Begitu pula ayat-ayat yang lain, sebagaimana para shahabat yang juga termasuk dalam ma'lumat agama.

Firman Allah, "Bermegah-megahan telah melalaikan kalian "merupakan pernyataan yang ditujukan kepada setiap orang yang digambarkan dengan sifat ini. Banyak tingkatan kelalaian mereka karena bermegah-megahan itu, yang hanya bisa dihitung oleh Allah semata.

Boleh jadi ada yang bertanya, "Orang-orang Mukmin tidak dilalaikan oleh bermegah-megahan. Karena itu mereka tidak termasuk dalam ancaman yang disebutkan bagi orang yang lalai karenanya."

Hal ini dapat dijawab sebagai berikut: Pernyataan seperti inilah yang mendorong orangnya untuk mengkhususkan ancaman itu hanya bagi orang-orang kafir, karena tidak memungkinkan bagi mereka untuk menakwilinya secara umum. Menurut mereka, orang-orang kafirlah yang lebih berhak menerima ancaman, sehingga mereka mengkhususkannya an­caman itu bagi orang-orang kafir.

Jawaban lebih lugas, pernyataan yang ditujukan kepada manusia karena keberadaannya sebagai manusia, seperti halnya cara yang ditempuh Al-Qur'an ketika menyampaikan celaan karena keberadaannya sebagai manusia, seperti firman-Nya,

"Dan, adalah manusia bersifat tergesa-gesa. "(Al-Isra': 11).

"Dan, manusia adalah selalu tidak berterima kasih. "(Al-Isra': 67).

"Dan, dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusiaitu amat zhalim dan amat bodoh. "(Al-Ahzab: 72).

Ayat-ayat lain yang senada cukup banyak.

Karena manusia itu terlepas dari segala kebaikan yang berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, maka hanya Allahlah yang dapat menyempurnnakannya dan menganugerahinya. Kebaikan itu tidak berasal dari dirinya sendiri. Sebab yang berasal dari dirinya hanyalah kebodohan yang bertentangan dengan ilmu dan kezhaliman yang bertentangan dengan keadilan. Setiap ilmu, keadilan dan kebaikan berasal dari Rabbnya, bukan dari dirinya. Jadi lalai karena bermegah-megahan merupakan tabiat dan karakterisuknya, yang sifat ini berasal dari dirinya. Dia tidak dapat keluar dari sifat ini kecuali ada pensucian Allah terhadap dirinya dan Allahlah yang menjadikannya berkehendak terhadap akhirat serta mementingkannya daripada bermegah-megahan di dunia. Hal ini terjadi jika Allah menganugerahinya. Jika tidak, maka dia kembali ke kebiasaannya semua di dunia yang suka bermegah-megahan.[1]

Tentang alasan mereka dengan ancaman yang dikhususkan bagi orang-orang kafir, maka dapat ditanggapi sebagai berikut: Ancaman yang disebutkan di sini merupakan persekutuan, yaitu pengetahuan ketika melihat apa yang ada di akhirat. Hal ini akan dialami setiap orang, yang tidak terjadi ketika di dunia. Firman Allah, "Kelak kalian akan mengetahui" tidak mengandung satu pun indikasi yang mengharuskan masuk neraka, apalagi kekal di dalamnya. Begitu pula tentang melihat neraka Jahim yang tidak mengharuskan orang yang melihatnya untuk masuk ke dalamnya. Sebab para nabi juga melihat neraka itu dengan mata kepala sendiri. Bahkan Allah sudah bersumpah bahwa semua makhluk, yang kafir dan yang Mukmin, yang baik dan yang jahat akan melihatnya.

"Dan, tidak ada seorang pun daripada kalian, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb kalian adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. "(Maryam: 71).
Di dalam kalimat ayat ini tidak ada sesuatu pun yang menafikan keumuman pernyataan.

Tentang apa yang disebutkan dari Al-Hasan, "Tidak ada pertanyaan yang diajukan tentang kenikmatan kecuali kepada para penghuni neraka", jelas batil, entah kebatilan itu riwayat yang dinisbatkan kepadanya atau perkataan yang memang berasal dari dirinya. Sebab hadits-hadits shahih yang jelas menyanggahnya.

Tidak diragukan bahwa semacam surat ini dengan keagungan kedudukan dan kekerasan ancamannya, kandungannya yang berupa peringatan bagi manusia agar tidak bermegah-megahan yang melalaikan dan kesesuaian maknanya dengan mayoritas keadaan manusia, rasanya tidak mungkin hanya dikhususkan bagi orang-orang kafir, semenjak awal hingga akhirnya. Jelas hal itu tidak sesuai. Hal ini cukup dengan mengamati hadits-hadits marfu' yang berkaitan dengan masalah ini. Wallahu a 'lam.

Sekarang perhatikan celaan yang ditujukan kepada orang yang terus-menerus dilalaikan oleh bermegah-megahan selama hidupnya, hingga dia masuk ke dalam kubur, yang tidak pernah terbangun dari kelalaian. Bahkan bermegah-megahan itu telah menidurkan hatinya dan tidak membuatnya sadar, hingga dia berada dalam suasana mabuk karena kematian.

Keadaan-keadaan ini sangat sesuai dengan keadaan mayoritas ma­nusia, yang berarti mengharuskan keumumannya.

Kemudian perhatikan pengaitan celaan dan ancaman dengan kemutlakan bermegah-megahan, tanpa ada pembatasan tentang siapa yang bermegah-megahan itu, agar bermegah-megahan masuk di dalamnya dengan seluruh sebab di dunia, dengan berbagai jenis dan ragamnya.

Di samping itu, lafazh at-takaatsur berdasarkan bentuk tafaa 'ul, yang mengharuskan pencarian setiap orang dari orang-orang yang bermegah-megahan, agar pelakunya bertambah banyak, sehingga orangnya menjadi lebih banyak dan sesuatu yang dijadikan bermegah-megahan. Yang mendorongnya berbuat begitu ialah anggapannya bahwa kemuliaan hanya bagi orang yang bermegah-megahan, seperti yang dikatakan dalam syair,
Tidaklah lebih banyak dalam kekayaan daripada mereka kemuliaan hanya milik orang yang merasa banyak kekayaannya

Kalaupun seseorang merasa hartanya banyak namun dia tidak bermegah-megahan, maka tidak membahayakan dirinya, seperti yang terjadi pada diri beberapa shahabat yang memang hartanya banyak, yang tidak membahayakan diri mereka, selagi mereka tidak bermegah-megahan dengan harta kekayaan itu. Siapa pun yang membanggakan kekayaannya kepada orang lain di dunia atau membanggakan kedudukannya atau apa pun, maka tindakannya itu akan membuatnya sibuk lalu lalai untuk lebih menonjolkan sisi akhirat. Jiwa yang mulia dan tinggi, yang memiliki keinginan yang luhur hanya merasa banyak kekayaannya karena sesuatu yang lebih kekal manfaatnya, sempurna dan suci, sehingga ia menjadi keberuntungan. Ia tidak suka menganggapnya banyak untuk selain itu. Bahkan dia akan berlomba dengan yang lain dalam hal ini. Ini merupakan kebanggaan yang mendatangkan kebahagiaan hamba.

Kebalikannya adalah saling bermegah-megahan di antara para penghuni dunia dengan sebab-sebab keduniaan. Ini merupakan bermegah-megahan yang melalaikan Allah dan hari akhirat, yang menyeret kepada kesialan. Akibat dari tindakan ini ialah kemiskinan dan kekecewaan.

Saling bermegah-megahan dengan sebab-sebab yang mendatangkan kebahagiaan di akhirat merupakan bermegah-megahan yang masih disertai dzikir kepada Allah dan mengingat nikmat-Nya. Akibatnya keberuntungan yang kekal dan tidak akan sirna. Orang yang melakukannya tidak merasa hina ketika melihat orang lain lebih baik dari dirinya dalam perkataan, perbuatan dan lebih mendalam ilmunya. Jika dia melihat orang lain lebih banyak hasil kebaikan yang dipetiknya, yang tidak mampu dia lakukan sementara orang lain mampu, maka bermegah-megahan semacam ini tidak tercela dan tidak pula mengurangi keikhlasan hamba. Bahkan itu merupakan kompetisi yang sebenarnya dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Seperti inilah keadaan Aus dan Khazraj dalam persaingan mereka di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang sebagian saling membanggakan terhadap sebagian yang lain dalam sebab-sebab yang diridhai beliau dan untuk menolong beliau.

Begitu pula keadaan Umar dan Abu Bakar. Ketika Umar menyadari keunggulan Abu Bakar, maka dia berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah dapat lebih cepat darimu untuk mengerjakan sesuatu."

Siapa yang memperhatikan secara seksama kedudukan lafazh كَلاَّ /kallaa di dalam surat ini, maka sesungguhnya lafazh ini mengandung penghadangan terhadap mereka, teguran terhadap kemegah-megahan mereka dan penafian terhadap angan-angan mereka tentang manfaat yang diperoleh dari bermegah-megahan itu, kemuliaan dan kesempurnaan diri mereka karenanya. Lafazh ini mengandung larangan dan penafian. Allah mengabarkan kepada mereka bahwa mereka harus mengetahui akibat dari kemegah-megahan mereka dengan pengetahuan yang terus-menerus. Mereka harus melihat tempat tinggal bagi orang-orang bermegah-megahan dengan keduniaan, yang membuat mereka lalai terhadap akhirat, dengan penglihatan yang terus-menerus, karena Allah akan menanyai mereka tentang sebab-sebab kemegah-megahan mereka, dari mana mereka mendapatkannya dan untuk apa mereka membelanjakannya?

Demi Allah, alangkah agungnya surat ini dan alangkah besarnya manfaat serta alangkah nyatanya peringatan yang disampaikan di sini, peringatan yang lebih keras di akhirat, agar tidak ada orang yang lebih mementingkan dunia dan mengalahkan tujuan yang lebih tinggi, meskipun surat ini singkat, namun lafazh-lafazhnya agung dan susunan kalimatnya bagus. Mahasuci Allah yang telah menyatakannya dan menyampaikannya kepada Rasul sebagai wahyu.

Perhatikan bagaimana Allah menjadikan diri mereka sampai ke tempat yang menjadi tempat kembali setiap makhluk hidup, yang tidak tinggal selamanya di sana (dalam kubur), tapi mereka menetap hanya se­mentara waktu saja. Sementara di hadapan mereka masih ada tempat tinggal yang abadi. Jika mereka sampai di tempat persinggahan ini sebagai pengunjung, lalu bagaimana nasib mereka dalam perjalanan di tempat tinggal ini? Mereka tak lain hanya seperti orang yang sedang melalui jembatan untuk sampai ke tempat persinggahan, lalu dari sana mereka berpindah ke tempat lain lagi yang kekal.

Jadi di sini ada tiga hal: Melewati jembatan di dunia ini, tujuannya mengunjungi kubur, kemudian berpindah ke tempat tinggal yang abadi.[2]


__________

1 Telah disebutkan di beberapa tempat di dalam Al-Qur'an, bahwa Al-Qur'an menyamakan manusia dan penciptaan asalnya dengan Dua Tangan-Nya, Dia meniupkan kepadanya dari Roh-Nya dan menciptakannya dalam bentuk yang paling baik, zhahir dan batinnya, memuliakan dan melebihkannya dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan suatu kelebihan. Firman-Nya,
"Dan, Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan dan hati, agar kalian bersyukur." (An-Nahl: 78).
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang kufur dan ada pula yang kafir." (Al-Insan: 2-3).

Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya di dalam diri manusia ada kesiapan untuk menerima kebaikan dan ketaatan serta mensyukuri nikmat. Karena alasan ini pula Allah memilihnya menjadi khalifah di bumi, lalu mengujinya dengan berbagai macam kenikmatan, agar dengan kenikmatan-kenikmatan itu dia bisa mencapai derajat kesempurnaan, jika dia sabar dan bersyu­kur, atau dengan kenikmatan itu dia turun ke tingkatan yang paling rendah, yaitu j ika dia buta dan berpaling dari ayat-ayat Allah serta mengufurinya.

2. Udatush-Shaabirin hal 197 - 208


***Disalin dari At-Tafsiru Al-Qayyimu, oleh : Syaikh Muhammad Uwais an-Nadwi, penerbit: Darul Falah

Bermegah-megahan yang Melalaikan (Tafsir surah At-Takatsur) -1/2

Oelh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah


Firman Allah,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

"Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu), dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakjn, niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim, dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya de¬ngan 'ainul-yaqin, kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu). " (At-Takatsur: 1-8).

Allah mengabarkan bahwa bermegah-megahan merupakan kesibukan para penghuni dunia, yang membuat mereka lalai terhadap Allah dan hari akhirat, hingga kematian menghampiri mereka dan mereka masuk ke liang kubur, tapi toh mereka belum juga sadar dari bermegah-megahan yang melalaikan itu.


Allah menjadikan puncaknya adalah masuk ke liang kubur dan bukan kematian. Hal ini dimaksudkan sebagai pemberitahuan bahwa mereka tidak selamanya berada di dalam kubur, tapi mereka di sana hanya sekedar me-ngunjungi dan melalauinya. Sekali waktu mereka mengunjunginya ke¬mudian mereka dipindahkan dari sana, sebagaimana mereka di dunia yang mengunjunginya dan tidak menetap di sana selamanya. Sementara tempat yang kekal adalah surga atau neraka.

Allah tidak menetapkan siapa orang yang bermegah-megahan itu, tapi Dia membiarkan begitu saja tanpa menyebutkannya. Boleh jadi karena yang tercela adalah perbuatan bermegah-megahan dengan sesuatu itu sendiri dan bukan pelakunya, seperti jika dikatakan, "Canda dan bermain-main menyibukkanmu." Di sini tidak disebutkan apa jenis canda dan main-main itu. Boleh jadi yang dimaksudkan adalah kehendak yang tak terbatas, yaitu segala sesuatu yang dibuat bermegah-megahan oleh hamba, berupa berbagai sebab keduniaan, berupa harta, kedudukan, wanita, anak-anak, tanaman atau simbol-simbol yang tidak dimaksudkan untuk mencari Wajah Allah atau amalan yang tidak dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semua ini termasuk bermegah-megahan yang melalaikan dari Allah dan hari akhirat. Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari hadits Abdullah bin Asy-Syikhkhir, bahwa dia berkata, "Aku mendekat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau sedang membaca alhaakum at-takaatsur. Lalu beliau bersabda, "Anak Adam berkata, 'Hartaku, hartaku. Apakah kamu mempunyai harta selain dari apa yang engkau shadaqahkan lalu berlalu, atau yang kamu makan lalu habis, atau pakaian yang kamu kenakan lalu lusuh?'"

Kemudian Allah memberikan ancaman yang kuat terhadap orang yang dilalaikan bermegah-megahan, ketika dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kemegah-megahannya itu lenyap laksana debu yang beterbangan dan dia tahu bahwa dunia yang dia megah-megahkan itu ternyata hanyalah tipuan dan dusta belaka. Dia mendapatkan akibat kemegah-megahan itu memberatkannya dan tidak menguntungkannya. Dia pun menyesali kemegah-megahannya di sana sebagaimana dia menyesali perbuatan lain yang serupa. Dia mendapatkan siksaan dari Allah yang tidak pernah dibayangkannya, dan temyata kemegah-megahan yang membuatnya melalaikan Allah dan hari akhirat merupakan sebab yang paling besar dari siksa yang diterimanya. Dia disiksa di dunia dengan kemegah-megahannya, kemudian dia disiksa di Barzakh, kemudian dia disika lagi pada hari akhirat karena kemegah-megahan itu. Maka jadilah dia orang yang paling menderita karena kemegah-megahan itu. Sebab yang dia terima hanyalah kebinasaan tanpa ada keselamatan dan keuntungan. Dengan kemegah-megahannya itu dia tidak mendapatkan hasil apa pun kecuali hanya sedikit sekali, dan dia tidak mendapatkan bagian dari ketinggiannya di dunia selain dari kedudukan yang paling bawah di akhirat.

Sungguh itu merupakan kemegah-megahan yang hanya mendatangkan dosa, bukan kekayaan bagi orang fakir dan bukan kebaikan yang menghantarkan kepada kejahatan. Jika tabir sudah terkuak, maka pelakunya akan berkata, "Aduhai sekiranya aku dihidupkan kembali, sehingga aku dapat beramal dalam ketaatan kepada Allah sebelum aku meninggal. Hal ini telah dijelaskan Allah,

"Ya Rabbi, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. "(Al-Mukminun: 100).

Lalu perkataannya ini dijawab Allah dalam ayat yang sama,

"Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang di-ucapkannya saja."

Itu hanya sekedar ucapan di bibir semata. Allah tidak peduli dengan ucapan itu. Ketika mereka meminta lagi hal yang sama, maka jawaban yang sama juga disampaikan kepada mereka.

Perhatikan perkataan orang kafir ini, yang dimulai dengan "Ya Rabbi". Dia memohon pertolongan kepada Rabb-nya, kemudian berpaling kepada para malaikat yang diperintahkan untuk menghadirkan dirinya di hadapan Allah, seraya berkata, "Kembalikanlah aku". Kemudian dia menyampaikan alasan atas permohonannya agar dikembalikan lagi ke du¬nia dan dihidupkan kembali, bahwa dia akan melakukan amal shalih di masa mendatang sebagai ganti dari apa yang telah dia lakukan sebelum itu dengan harta, kedudukan, kekuasaan dan kekuatannya. Lalu dikatakan kepadanya, "Sekali-kali tidak. Tidak ada jalan bagimu untuk dikembalikan lagi ke dunia. Kamu telah diberi umur yang di dalamnya ada pelajaran yang dapat diambil bagi orang yang mau mengambil pelajaran."

Keadaan Allah Yang Mahamulia dan Maha pemurah dapat saja memenuhi permohonannya itu dan memberikan kesempatan sekali lagi kepadanya, agar dia mengambil pelajaran dari masa lalunya. Tapi Allah mengabarkan bahwa permohonannya untuk dikembalikan lagi ke dunia hanya sekedar perkataan yang diucapkannya, tidak sungguh-sungguh dan tidak ada hakikat di dalamnya. Sebab karakter dan tabiatnya enggan untuk melakukan amal shalih, sekiranya permintaannya itu dipenuhi. Sebab itu hanya sekedar ucapan di bibir semata. Sekiranya dia diberi kesempatan sekali lagi dan dihidupkan kembali, maka dia akan melakukan lagi apa yang dilarang darinya dan dia termasuk para pendusta.

Hikmah Dzat Yang Paling Bijaksana dari segala yang bijaksana, kemuliaan, ilmu dan pujian-Nya, enggan untuk memenuhi apa yang dia pinta, karena tidak ada manfaatnya. Sekiranya dia dikembalikan lagi ke dunia, maka keadaannya yang kedua kali sama dengan keadaannya yang pertama kali, sebagaimana firman-Nya,

"Dan, jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, 'Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Rabb kami, serf a menjadi orang-orang yang beriman', (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. "(Al-An'am: 27-28).

Firman Allah, "Janganlah begitu, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin", jawaban syarat dari kalimat ini tidak tampak, yang menunjukkan kepada apa yang sudah disebutkan sebelum itu, yaitu kemegah-megahan yang melalaikan kalian. Sebab adanya kemegah-megahan ini dan akibatnya yang melalaikan dari apa yang mestinya diperhatikan ini terjadi ketika ilmul-yaqiin hilang dari diri kalian. Ilmul-yaqiin ialah ilmu yang menghantarkan orangnya kepada hukum yang penting, yang tidak diragukannya dan yang diterima kebenarannya. Sekiranya hakikat ilmu ini sampai ke hati dan menyatu dengannya, niscaya dia tidak akan dibuat lalai oleh sesuatu apa pun dari keharusannya. Sebab sekedar pengetahuan tentang keburukan sesuatu dan keburukan akibatnya, tidak cukup sebagai pendorong untuk meninggalkan sesuatu itu. Jika dia memiliki ilmul-yaqiin, maka dorongan yang ditimbulkan ilmu ini untuk meninggalkannya lebih kuat. Jika berupa ainul-yaqiin, seperti sejumlah hal-hal yang kasat mata, maka meninggalkan keharusan-keharusannya jarang terjadi.

Tentang makna ini Hassan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu pernah berkata dalam syairnya, ketika menggambarkan Perang Badar,

Kami berangkat ke Badar dan musyrikin pun berangkat pula
sekiranya ada ilmul-yaqiin, mereka takkan berangkat ke sana

Firman Allah,
"Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu), dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui", ada yang berpendapat bahwa hal ini merupakan penguatan pengetahuan seperti firman-Nya, "Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. "(An-Naba': 4-5).


Ada pula yang berpendapat, itu bukan penguatan, tapi merupakan pengetahuan pertama ketika melihat akibat dan ketika kematian datang. Sedangkan ilmu kedua ada di alam kubur. Ini merupakan pendapat Al-Hasan dan Muqatil. Atha' juga meriwayatkan pendapat ini dari Ibnu Abbas. Ada beberapa hal yang menguatkan kebenaran pendapat ini:
  1. Faidah yang baru dan pengembalian kepada yang dasar merupa¬kan makna asalnya. Ada kemungkinan pengungkapan semacam ini, yang disertai dengan keagungan maknanya, namun tidak ada celah dalam kefasihan bahasanya. Penyelaan lafazh ثُمَّ /tsumma di antara dua pengetahuan, yang menggambarkan peningkatan antara dua tingkatan dalam waktu dan kedudukan.
  2. Pendapat ini sesuai dengan kenyataan. Orang yang ajalnya datang akan melihat dengan mata kepala sendiri hakikat keadaannya sebelum itu, kemudian dia mengetahui dengan ilmu-yaqiin ketika di dalam kubur dan sesudahnya. Ilmu ini lebih tinggi daripada ilmu yang pertama (ketika ajal datang).
  3. Ali bin Abu Thalib Radhiyalfahu Anhu dan lain-lainnya dari kalangan salaf memahami ayat ini sebagai siksa kubur. At-Tirmidzy berkata, "Kami diberitahu Abu Kuraib, kami diberitahu Hikam bin Sulaim Ar-Razy, dari Amr bin Abu Qais, dari Al-Hajjaj bin Minhal bin Amr, dari Zirr, dari Ali Radhiyallahu anhu, dia berkata, 'Kami senantiasa masih ragu tentang siksa kubur hingga turun alhaakum at-takaatsur'." Menurut Al-Wahidy, makna firman Allah, "Kemudian sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui", ialah siksa di dalam kubur.
  4. Pendapat ini sesuai dengan firman Allah setelah itu, "Niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim, dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan ainul-yaqin ". Melihat kali ini tidak sama dengan melihat yang pertama, yang dapat dilihat dari dua sisi: Tidak adanya pembatasan yang pertama dan pembatasan yang kedua dengan ainul-yaqiin, didahulukannya yang pertama dan penyertaan yang kedua.
Kemudian Allah mengakhiri surat ini dengan pengabaran yang menguatkan, yang disertai dengan huruf wawu untuk sumpah dan lam taukiid serta nun penguat bersyaddah yang menggambarkan pertanyaan tentang kenikmatan yang digunakan untuk bermegah-megahan. Setiap orang akan ditanya tentang nikmat yang diterimanya selagi di dunia, apakah dia menerimanya dari yang halal dan cara yang sewajamya ataukah tidak? Jika dia lolos dari pertanyaan ini, maka dia akan diberi pertanyaan berikutnya, apakah dia bersyukur kepada Allah dan digunakannya untuk menaati-Nya ataukah tidak?

...bersambung

Wednesday, June 07, 2006

Mewaspadai Bisikan Syaithan

Oleh : Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaithan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) kedalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia.“ (QS 114 : 1 – 6)


Dalam surah An Nas manusia diperintahkan untuk berlindung dari kejahatan syaithan yang selalu membisikkan was-was ke dalam dada manusia. Sejak dilaknat, iblis telah bersumpah untuk mempedaya anak manusia, hingga mereka terjerusmus menjadi penghuni neraka bersama iblis yang terlaknat.

Menurut Ibnu Qayyim al Jauziyyah, ada 6 pintu kejahatan yang dengannya syaithan yang senantiasa menyertai manusia untuk diperdaya.

1. Kufur dan Syirik, memusuhi Allah dan RasulNya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.“ (QS 4 : 48)
Ini adalah kejahatan pertama yang dikehendaki syaithan atas manusia. Jika seorang hamba menjadi kufur atau syirik, maka syaithan menjadikan hamba itu termasuk barisan pasukannya dan menjadikannya sebagai wakil untuk melakukan kejahatan lain yang serupa, maka jadilah dia penyeru iblis dan wakilnya. Jika cara ini tidak berhasil, maka syaithan akan menempuh cara yang kedua.

2. Bid’ah.

.Rasulullah bersabda, ”Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat". [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].
Bid’ah merupakan dosa yang jarang dimintakan ampun daripadanya. Bid’ah ini pada prinsipnya merupakan sesuatu yang berlainan dengan dakwah para rasul dan seruan untuk menyalahi apa yang mereka bawa. Bid’ah merupakan pintu kufur dan syirik. Jika hamba melakukan bid’ah dan menjadi pelaku bid’ah, berarti dia menjadi wakil syaithan dan seorang penyerunya.

3.Dosa-dosa besar (dengan berbarai ragam jenisnya).

Syaithan sangat antusias menyeret hamba pada kejahatan yang beragam ini, apalagi jika dia seorang ulama yang diikuti. Syaithan sangat bersemangat dalam hal ini, agar manusia menjauh dari hamba yang bersangkutan, lalu dosa dan kedurhakaannya disebarluaskan kepada orang banyak. Adapu orang-orang yang suka menyebarluaskan kekejian di kalangan orang-orang beriman, maka mereka akan mendapatkan siksa yang pedih di dunia dan akhirat, kecuali jika mereka mertaubat dengan sebenar-benarnya taubat.
”Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).“ (QS 4 : 31)
Jika syaithan tidak berhasil memperdaya manusia dengan kejahatan ini, maka dia akan beralih dengan kejahatan berikutnya.

4. Dosa-dosa kecil.

Kejahatan dosa-dosa kecil ini harus diwaspadai, karena jika sekiranya dosa-dosa kecil ini berhimpun, maka ia dapat membinasakan pelakunya, sebagaimana yang disabdakan rasulullah sallallahu alaihi wassalam, ”Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil, karena perumpaan dosa-dosa kecil itu seperti orang yang singgah di tanah lapang,“ lalu beliau melanjutkan yang intinya bahwa masing-masing diantara mereka membawa kayu bakar, dengan himpunan kayu bakar itu mereka dapat menyalakan api yang besari, mereka dapat memasak dan memanggang.
Seseorang bisa menganggap mudah dosa-dosa kecil sehingga dia meremehkannya. Sementara orang yang melakukan dosa besar, takut kepada odsanya, sehingga keadaannya lebih baik.
Jika syaithan tidak berhasil mengajak pada kejahatan ini, maka ia beralih ke kejahatan berikutnya.

5. Membuat sibuk pada hal-hal yang mubah yang tidak ada pahala dan siksanya, sehingga akhirnya dia kehilangan pahala karena kesibukannya itu.

Mewaspadai berlalunya waktu adalah penting untuk menjaga manusia agar tidak tergolong kedalam kelompok manusia yang merugi, seperti firman Allah pada surah Al Ashr:
”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.“ (QS 103 : 1 – 3).

6. Menyibukkan manusia pada amal-amal yang tidak seberapa penting dan melupakan amal yang lebih utama, agar tidak mendapatkan keutamaan dan kehingalan pahala keutamaan.

Jarang orang mewaspadai hal ini. Orang akan menganggap baik perbuatan ini dan tidak menyadari bahwa itu merupakan bisikan syaithan, karena syaithan tidak menyuruh kepada kebaikan. Dia tidak mengetahui bahwa syaithan dapat menyuruh kepada tujuh puluh pintu kebaikan, tetapi pintu-pintu ini dapat digunakan untuk menghantarkan kepada satu pintu kejahatan. Boleh jadi syaithan membuatnya meninggalkan satu kebaikan yang lebih besar dari tujuh puluh pintu kebaikan itu.
Yang demikian itu tidak dapat diketahui kecuali dengan cahaya dari Allah yang disusupkan kedalam hati hambaNya, yang sebab utamanya adalah beribadah ikhlas karena Allah dan ittiba’ kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam.


*Dikutip dari tafsir An Nas dalam”At Tafsiru Al Qayyimu“ yang disusun oleh Syaikh Muhammad Uwais An Nadwy.